Minggu, 23 Desember 2012

FF UNFORGETTABLE (Part 2)

FF UNFORGETTABLE (part 2)

TITTLE: UNFORGETTABLE
AUTHOR: Real name: Novarida.
                Fb Id: Fhaa Wanay Min
                Twitt id: @NovaRidaa
                Blog: http://kimelfrida.blogspot.com/
CAST:      Super Junior’s Kyuhyun as Cho Kyuhyun
                Author as. Kim So Hee
                And other cast.
CAST:      Super Junior’s Kyuhyun as Cho Kyuhyun
                Author as. Kim So Hee
                And other cast.
GENRE: Romance-angs-bit hurt
LENGTH: two Shoot
RATING: 17+
DESCLAIMER: ini FF buatan author sendiri lho.. mohon kerjasamanya dari para readers buat ngasie kritik dan sarannya ya.. dilarang keras meng-COPY PSTE FF ini tanpa seijin author.
EDITOR: Sansan Kurai

Link chapt 1:
http://www.facebook.com/notes/fhaa-wanay-min/ff-unforgettable-part-1/422846561097115

Happy reading..^^

*

Kurasakan sepasang tangan hangat menyelimutiku. Kemudian memelukku hangat. Kyuhyun.

“tenanglah, semua akan baik-baik saja..” ucapnya menenangkanku.
“aku takut.. appa ku bukan orang yang suka main-main. Dia pasti serius dengan ucapannya. Dia akan menyakiti eomma.. bagaimana ini.. aku anak yang tak berguna.. bahkan aku tak lagi bisa melindungi eomma juga adikku..”
“tenanglah.. semua sudah ku atasi. Eomma mu baik-baik saja..”
“bagaimana bisa..”
“apa yang tak bisa kulakukan?” aku makin tak mengerti dengan perkataannya.
“dengarkan aku,, aku tau kau selalu merindukan eomma mu belakangan ini, iya kan? Maka dari itu aku mencari eomma mu. Dan kau tau? Eomma mu juga adik mu baik-baik saja. Dan mereka tak tinggal bersama appa mu lagi. dan aku menceritakan apa yang terjadi denganmu padanya, dia sangat bersyukur kau dalam keadaan baik-baik saja.”
“lalu dimana mereka sekarang..? bawa aku menemui mereka.. kumohon..”
“pasti. Tapi tidak sekarang..”
“kenapa?”
“orang itu,, mungkin dia kini sedang mengawasimu. Ini terlalu berbahaya. Terlebih untuk eomma dan adikmu. Bersabarlah.. jika aku tak bisa membawamu menemui mereka, akan kubawa mereka menemui mu..”
“jeongmal..?”
“ne..”
“kenapa kau baik sekali padaku…?”
“sudah kewajiban ku melindungimu. Semenjak aku membawamu kemari, aku merasakan bahwa aku harus melindungimu..”
“kau namja baik.. tak seharusnya aku membawamu kedalam masalahku..”
“itu sudah tugasku..”
“jika semuanya sudah berhasil.. maka kau tak perlu lagi menjagaku..”
“apa maksudmu?’
“bukankah appanim dan eommanim menjodohkan kita untuk melindungiku..?”
“kau sungguh-sungguh berfikir demikian? Asal kau tau So Hee, untuk apa aku menikah denganmu hanya untuk melindungi mu? Tanpa menikahpun aku masih bisa melindungimu.. aku menyanggupinya karena aku memang ingin menikah denganmu. Apa aku salah?” Aku diam menyimak setiap detail kata yang keluar dari bibirnya.
“mianhae..” sesalku telah mengatakan itu.
“sudahlah.. kita mulai ini dari awal lagi.. kita pikirkan bersama bagai mana langkah kedepan untuk bisa membawa eomma mu kemari. Tentunya tanpa sepengetahuan appamu.”

Aku tau Kyuhyun mencoba menenangkanku, tapi itu belum berhasil kurasa. Ketakutanku terhadap appa yang mungkin bisa menyakiti eomma masih membayangiku. Meski dia bilang eomma berada di tempat aman di bawah pengawasannya, tapi aku belum dapat tenang jika belum melihat eomma secara langsung.

“baiklah baiklah.. akan kubawa kau besok menemui eomma mu.. kau pasti tak mempercayaiku kan..?”
“benarkah?? Terimakasih banyak.. Kyuhyun-ssi… eh, mian..”
“istirahatlah.. besok akan menjadi hari yang panjang.. kau harus mempunyai tenaga yang banyak untuk menemui eomma mu..”
“mmmm… tentu..”

Dia kemudian menyelimuti ku dan.. ‘CHU~’ mencium keningku lembut. Perlakuannya padaku telah berhasil membuat wajaku terasa memanas. Dengan cepat ku tutupi sebagian wajahku dengan selimut tebal yang menutupiku, mencoba menyembunyikannya dari Kyuhyun yang kutau dia sedang menahan tawanya melihat tingkahku. Dia terlalu tau tentang diriku, dia bisa tau apa yang ada dipikiranku. Entah bagaimana caranya agar bisa menyembunyikan isi pikiranku darinya.

*

*

Ya, sesuai dengan apa yang dikatakannya, Kyuhyun membawaku ke suatu tempat yang katanya eommaku berada di sana. Entah itu benar atau dia hanya menghiburku. Aku belum yakin benar jika aku belum melihatnya secara langsung. Aku berharap semoga dia benar-benar membawaku menemui eomma. Dia selalu tau isi pikiranku, dan semoga kali ini dia juga benar-benar tau isi pikiranku bahwa aku benar-benar ingin bertemu dengan eomma.

Perjalanan ini terasa begitu lama dan panjang. Entah ini pikiranku saja atau memang perjalanan ini  sangat jauh aku tidak tau. Aku tidak begitu hafal jalanan kota seoul. Bagaimana tidak, selama ini aku hanya tinggal di dalam rumah besar keluarga Cho ini. Dan selama itu pula yang kulakukan hanya belajar dan belajar apa yang keluarga ini ajarkan padaku.

Sekilas kuperhatikan namja di sampingku yang sudah beberapa minggu ini resmi menjadi suamiku atas keputusan yang menurutku sepihak dari keluarga yang membesarkanku. Entah apa yang mendorongku menerima ini semua, karena sejujurnya sejak awal aku memutuskan untuk mengabdi sepenuhnya pada keluarga Cho ini yang telah menolongku dan menyelamatkanku dari orang-orang itu.

Entahlah, aku tak yakin dengan ini, yang kupikirkan ketika itu adalah membalas kebaikan mereka dengan tidak mengecewakan mereka. Memang aneh,, tak ada sebuah ikatan pernikahan yang dilandasi dengan ‘Balas Budi’. Mungkin hanya aku yang demikian. Namun, semenjak kejadian kemarin, sesuatu yang aneh kurasakan. Entah itu apa.

Kembali kuperhatikan Kyuhyun yang serius mengemudi. Dia tampak sangat fokus. Tapi tunggu.. kenapa dia selalu melihat ke arah kaca spion? Apa ada yang mencurigakan?? Tapi kulihat tidak ada yang aneh. Lalu ada apa??
“tenanglah, tidak akan ada sesuatu yang terjadi seperti pikiranmu..”
ucapannya membuatku kembali terpaku. Namja ini, apakah dia mempunyai indra lain diluar kelima panca inderanya? Dia selalu tau apa yang ada dipikiranku.

Kembali kuposisikan diriku seperti semula. Duduk tenang menghadap kedepan. Tidak, tidak bisa. Perasaanku mulai tidak tenang. Aku tidak tau, aku seperti sedang di buntuti. tapi oleh siapa? Apakah appa? Tidak mungkin. Tapi..

“so Hee.. bagaimana jika kita istirahat sejenak.. cuaca diluar sangat cerah..” kuperhatikan sekitar, pantai? Sejauh inikah kita pergi?
“nde..? ahh.. tentu..”

Segera setelah mendapatkan tempat yang teduh dan terasa nyaman untuk melepas penat, Kyuhyun meminggirkan mobilnya ketepian jalanan yang cukup tenang. Dia mengajakku  turun.  Ya, suasananya tenang, damai, sejuk.. membuat setiap orang enggan beranjak dari sini dan ingin kembali kemari dilain hari. Kyuhyun juga tampaknya menikmati suasana. Dia memejamkan mata merasakan segarnya angin pantai yang dengan lembut menyapu wajah tampannya dan mengibaskan rambut caramelnya dengan perlahan menambah sempurna dirinya dimataku. Tunggu.. apa yang kupikirkan..

Kuikuti apa yang dia lakukan, menikmati segarnya udara pantai dipagi hari. Sinar matahari yang memantul dari biasan air laut tak mengurangi kesegaran udara disini. Ditambah kami duduk dibawah pohon besar nan rindang menambah sejuknya tempat ini. Belum pernah aku merasakan sebebas ini menghirup oksigen sebanyak yang kumau.

“So Hee..” sapaannya membuatku terpaksa keluar dari pikiranku.
“nde?”
“ah tidak.. lupakan lah.”

Membingungkan. Sebenarnya kenapa namja ini. Seperti ada sesuatu yang ingin dibicarakannya. Tapi apa? Aku tak bisa membaca pikirannya seperti dia selalu tepat membaca pikiranku. Aku kembali diam menatap lurus ke arah lautan lepas. Kupejamkan mataku kembali menenangkan pikiran dan hatiku yang akhir-akhir ini selalu mengganggu. Kudengar pantai bisa mengambil aura negative yang terpancar dari dalam diri kita.

Ya, benar, aku merasa rileks, semua perasaan takutku perlahan hilang seolah melebur bersama deburan ombak didepan sana. Semuanya terganti dengan sebuah perasaan damai dalam hatiku. Aku tak lagi merasakan ketakutan akan bayangan appa yang selalu menyakitiku ketika dulu dan memisahkan aku dengan eomma secara paksa. Lebih parah lagi saat appa menjualku dan menjadikanku bahan taruhan untuk para hidung belang itu.

Sesak, semuanya sangat menyesakkan. Jika tidak mengingat eomma, mungkin aku sudah tidak sanggup lagi bertahan. Aku tak bisa membayangkan apa yang akan aku lakukan ketika aku merasa sendirian atas perlakuan appa. Tapi keyakinan bahwa semuanya akan berlalu dan kembali normal sehingga aku bisa kembali bersama eomma lagi, membuat ku yakin dan bertahan sampai sejauh ini. Aku tak bisa membayangkan jika aku melakukan suatu kecerobohan, maka eomma akan kecewa padaku dan itu akan memisahkan kami untuk selamanya. Eomma..?? apa eomma baik-baik saja? Aku merindukanmu.. aku tidak akan memaafkan appa jika sesuatu terjadi padamu. Sungguh.

“so hee..gwaenchanha-yo? Apa kau sakit?” tanyanya terdengar khawatir. Dia menghadapkanku sejajar dengannya.
“ah.. anioo..”
“jeongmal-yo?”

Kuraih tangannya yang memang menggenggam tanganku hangat, kutatap langsung ke manik matanya, meyakinkan bahwa aku baik-baik saja dan dia tak perlu mengkhawatirkanku.
“nan gwaenchanha..”
Dan dia menarik nafas lega, sedangkan aku tak bisa bernafas sama sekali saat menyadari aku membalas genggaman tangannya. Ya tuhan,, apa yang kulakukan?

“Kyuhyun-sshi..”
“mwo? Sampai kapan kau akan seperti itu padaku..?”
“aarrhh.. mian, geurae,, oppa..”
“begitu kan lebih terdengar manis..”
“apa ada yang mengganggu pikiranmu,, oppa?”

Tepat dugaanku. Memang Kyuhyun sedang memikirkan sesuatu. Terbukti dia langsung diam saat aku menanyakan hal itu. Tapi apa? Dia pandai menyembunyikan semuanya. Aku tak akan memaksa jika dia tidak mau berbagi denganku. Aku mengerti dia membutuhkan ruang untuk menyimpan sendiri apapun yang dipikirkannya. Karena aku tau, tidak semua masalah yang dihadapi oleh kita itu harus diceritakan, tapi ada kalanya kita membutuhkan waktu sendiri untuk menyelesikan masalah itu.

“jika nanti kau sudah bertemu eomma mu, apa kau akan kembali bersamanya? Maksudku tinggal kembali bersamanya?”

Mengapa dia bertanya seperti itu? Apa hal itu yang dipikirkannya sedari tadi? Lalu untuk apa? Itu pertanyaan yang menurutku sedikit… konyol.

“aku merindukannya.”
“arraseo.. tapi, bisakah jika nanti kau tetap disini.. bersamaku?”

Aku terkejut dibuatnya. Apa aku tidak salah dengar? Dia, maksudku Kyuhyun berkata seperti itu? Namja ini,, sebenarnya ada apa dengan dia. Aku semakin dibuatnya bingung.

“wae-yo?” tanyaku
“molla.. aku sendiri bingung”
“pasti ada alasannya kan?”

Tapi Kyuhyun tidak mengatakan apapun padaku. Memori otakku kembali berputar pada kejadian beberapa tahun yang lalu. Saat aku masih tinggal bersama appa yang selalu memperlakukanku buruk, saat aku harus menerima kenyataan pahit bahwa aku dijadikan bahan untuk pertaruhan, saat aku harus menghadapi orang-orang menyeramkan itu, dan saat seseorang yang ternyata Kyuhyun menolongku dan membawaku tinggal bersama keluarganya, saat keluarganya yang begitu baik sudi menerimaku dan merawatku, memberi apa yang belum tentu bisa ku dapatkan jika terus tinggal bersama appa, sampai saat aku bersumpah pada diriku sendiri bahwa aku akan mengabdikan hidupku pada keluarga ini sebagai bukti terimakasihku pada mereka, membuat aku yakin mungkin keinginan Kyuhyun barusan harus aku penuhi karena kyuhyun adalah anggota keluarga Cho.

Tapi berfikir demikian sungguh membuat aku merasa sakit. Ada hal lain yang kurasakan saat ini. Tapi aku tak begitu yakin akan hal itu. Sesuatu yang berbeda mendelisik kuat dalam hatiku, meski kucoba untuk menekan itu semua, semakin kuat pula perasaan aneh itu. Kyuhyun, namja itu, semenjak aku menikah dengannya atas permintaan appa dan eommanya, dia selalu berputar-putar diotakku. Selalu muncul di sela-sela mimpi burukku yang menghantuiku. Bagai seorang malaikat, dia datang menolongku dan menenangkanku disaat aku takut. Tuhan, yakinkan aku bahwa ini memang benar..

“so hee..”
“nde?”
“kurasa aku membutuhkan sebuah pelukan..”
“mwo?”
“bolehkah aku memelukmu..??” mwo?? Apa yang harus aku lakukan…
“So Hee..”
“nde? Oh.. tentu..” aisshh… apa yang kau katakan so hee…

Dan begitulah, aku berada dipelukannya sekarang. Jujur kuakui, aku merasa seperti sesuatu mencekikku hingga aku tak bisa bernafas. Jantungku juga berdegup cepat sekali. Sial. Tunggu.. aku juga bisa mendengar detakan lain.. apakah mungkin jika…

“So Hee.. aku mungkin tidak bisa berkata manis pada seorang wanita. Karna sejujurnya, kau lah wanita pertama dalam hidupku. Lucu kan? Tapi aku senang, karena wanita pertama untukku adalah wanita yang menjadi istriku. Aku serius dengan ucapanku ini, tak pernah aku berkata seyakin ini pada seseorang. Seperti yang kukatakan kemarin, saat pertama aku melihatmu, saat itu pula lah aku merasa aku harus menjagamu. Mungkin terdengar konyol karena ketika itu usia kita masih sangat kecil. Waktu itu kau hanya anak usia 15 tahun, sedangkan aku baru 18 tahun. Tapi usia 18 tahun bukankah sudah bisa membedakan mana yang benar dan salah kan? Begitu juga aku.”

Aku hanya bisa diam mendengar setiap kata yang keluar dari bibirnya. Aku tak mampu berkata apapun padanya. Seolah mulutku mengunci dirinya rapat-rapat agar tak ada satu katapun yang keluar darinya. Aku terenyuh atas apa yang kudengar, rasanya seperti tercubit tapi membuat aku terbang.  Dia melepas pelukannya dariku dan menangkup kedua belah pipiku.  Seperti ada sesuatu yang menarikku dan memaksakanku melihat sepasang mata indah itu. Tak pernah aku melihat tatapan setulus itu selain dari eommaku. Ya, hanya eomma yang selalu menatapku tulus seperti itu.

Pikiranku entah melayang kemana aku tak tau, sampai aku tersadar ketika aku merasa ada sesuatu menyapu bibirku dengan lembut. Ya tuhan.. dia menciumku.. untuk yang pertama kali…

“aa… mianhae So Hee.. tidak seharusnya aku..”
“tidak apa-apa,, oppa.. kau suamiku,, jadi sudah sepantasnya jika…” omona,, So Hee.. apa yang kau katakan, apa aku terlihat seperti wanita jalang sekarang..??
“syukurlah jika kau tidah marah… sebaiknya kita pergi sekarang..” ajaknya kemudian dengan membimbingku masuk ke dalam mobil miliknya.

Kami kembali melanjutkan perjalanan, entah sejauh mana lagi kami harus pergi, hanya kyuhyun yang tau. Aku hanya ikut kemanapun dia membawaku, asal bertemu eomma. Tapi aku kembali merasa seseoang membututi kami. Entah siapa atau itu hanya perasaanku saja. Sampai Kyuhyun memarkirkan mobilnya di sebuah SPBU.

“SoHee.. tunggu sembentar ne.. aku ingin ke toilet.”
“ne..”

Kyuhyun meninggalkanku sendiri di dalam mobil. Merasa bosan kuputuskan untuk keluar sebentar sambil menunggu Kyuhyun kembali. Perasaan resah itu kembali. Aku seperti merasa seseorang sedang mengawasi kami. Kyuhyun, kenapa lama sekali..

Kuputuskan untuk kembali dan menunggu Kyuhyun datang, namun di saat aku hendak masuk kedalam mobil, tiba-tiba seseorang membekapku dari belakang dengan menggunakan sapu tangan beraroma menyengat. Aku tidak tau itu siapa, aku diseretnya menjauh dari mobil milik Kyuhyun. Aku mencoba memberontak, tapi bau menyengat itu melumpuhkan kesadaranku.

Ruangan ini cukup gelap. Hanya ada sedikit cahaya yang masuk melalui celah jendela. Aku dimana? Terakhir yang kuingat adalah aku menunggu Kyuhyun, omo, bagaimana ini? Bagaimana jika Kyuhyun mencariku? Aku harus keluar dari sini. Tapi tanganku sakit dan perih.. mwo? Aku diikat? Siapa yang melakukan ini semua? Apa salahku? Tidak, aku harus berhasil membuka ikatan ini, tapi sulit..

“Percuma So Hee.. tau tak bisa kemana-mana sekarang..”

Suara itu?? aku mencari kesemua penjuru tempat kosong ini, tapi gelap, aku tak bisa melihat siapa-siapa.
Tap.. tap.. tap.. dia mendekat.. semakin dekat.. demi tuhan aku ketakutan setengah mati. Apa yang mau orang ini lakukan terhadapku? Orang itu berdiri persis didepanku. Kupicingkan mataku memperjelas siapa orang yang melakukan ini padaku.

“appa..??”

Apakah sungguh-sungguh appa yang melakukan ini padaku? Benar-benar appa? Tega sekali dia melakukannya padaku. Apa salah yang kuperbuat padanya. Aku tak percaya ini,, katakan padaku jika yang kulihat ini salah.

“kita bertemu lagi, Putriku..”
“cihh… aku bukan putrimu lagi.. bukankah anda telah menjual saya?” tantangku.

Tak sudi aku memanggilnya appa, appaku bukan dia lagi. Dia hanya orang jahat yang tega melakukan apapun untuk mendapatkan keinginannya sekarang. Appaku adalah appa yang baik, dia sudah hilang sejak bertahun tahun lalu. Bukan orang jahat ini

“NAPPEUN.. PLAAAKK>"

“pukul aku sesuka hatimu. Selesaikan sekarang kemarahanmu padaku. Lihat, tanganku kau ikat, jadi aku tak akan melawanmu, benarkan?”
“kau lupa,, ibumu masih ada padaku?”
“hh,, lucu. Aku tidak bodoh tuan.. aku bukan So Hee kecil lagi yang bisa dengan gampang dibodohi.. aku yang lebih tau dimana eomma sekarang..” jawabku bohong.
“PLAKK..” lagi, dia memukulku. “keluarga terhormat itu rupanya mencuci otakmu, So Hee..”
“apa yang kau tau tentang keluargaku…?”
“apa yang ku ketahui.. semuanya.. kita lihat apa yang bisa kulakukan pada keluarga suamimu itu..”
“apa yang kau inginkan..”
“rupanya kau semakin pintar So Hee sayang..”
“KATAKAN APA YANG KAU INGINKAN DARIKU..”
“tenang lah.. apa yang kuinginkan?? Biar nanti kupikirkan.” Tandasnya lalu pergi setelah melepas ikatanku.

Aku benci situasi seperti ini, entah darimana orang itu tau titik lemahku saat ini. Ya tuhan,, kumohon, lindungi mereka.. jangan biarkan orang jahat itu melakukan hal buruk kepada mereka. Aku yang bermasalah dengannya, maka aku yang seharusnya menanggung semuanya, bukan keluarga baik itu. mereka tidak tau apa-apa.

Entah sudah berapa lama aku disini, apakah hari sudah berganti atau belum aku tak bisa memastikannya. Ditempat ini, baik siang atau malam tampak sama saja. Sama-sama gelap. Tak lama seseorang membuka pintu, dan disaat itu lah ku ketahui bahwa hari masih terang.

“sebaiknya kau katakana, apa yang ingin kau lakukan padaku? Apa kau ingin membalas dendammu padaku?”
“ya,, So Hee.. sabarlah sedikit lagi, pasti kukatakan apa yang kuinginkan..”
“jika kau tak mengatakan sekarang, maka kupastikan kau takkan dapat melakukan apapun padaku..”
“ahaha.. memangnya apa yang akan ku lakukan padamu eoh?? Aku tak ingin melakukan apapun padamu, kau So Hee manisku..”
“Mwo?”
“ya, jujur ku akui aku ingin membalas dendam padamu karena kau lari ketika itu, tapi itu semua bukan atas kesalahanmu, tapi…”
“jangan lakukan apapun pada mereka.. mereka tidak tau apapun tentang ini, masalahmu adalah denganku..”
“tapi gara-gara mereka aku hdup dalam kesengsaraan, keresahan..”
“salahmu bebuat seperti itu padaku.. keluarga itu hanya meolongku dan merawatku..”
“tetap saja, semua sama dimataku. Hhemm.. aku tau aku mendapatkan kesenanganku sekarang, kau.. dan orang itu..”
“jangan kau lakukan apapun padanya.. kumohon..”
“sepertinya kau takut sekali jika suamimu itu bertemu denganku… “

Ya tuhan.. apa yang orang ini rencanakan.. dia seperti malaikat pencabut nyawa dimataku. Mengerikan.

“So Hee..” Kyuhyun,, bagaimana dia menemukanku.. kumohon jangan datang kesini.
“kumohon, jangan lakukan apapun padanya..”
“terlambat.. jika saja dulu kau lakukan apa yang aku inginkan, semua tidak akan seperti ini. Orang itu harus mati ditanganku.”

Orang jahat itu pergi meninggalkanku sendiri. Apa? Apa yang akan dilakukannya? Tanpa pikir panjang aku mencoba menyusul appa, tapi kenapa? Kenapa langkah kakinya selalu lebih cepat dariku? Dan ketika aku menemukan mereka, sesuatu yang tidak mengenakkan terjadi. Entah apa yang mereka bicarakan aku tidak tau. Baik wajah appa maupun wajah kyu sama-sama terlihat geram.

Kulihat appa merogoh kedalam saku belakang celananya. Dia mengambil sesuatu dari sana dan disembunyikannya di balik punggungnya. Tapi apa? Benda itu berukuran kecil. Benda itu, benda mengerikan itu, apa yang akan dilakukannya? Appa, kumohon, jangan melakukan hal yang terkutuk. Tidak, aku harus menghentikannya.

Kuberlari menghampiri mereka sebelum terlambat. Aku tau persis appa tidak bermain-main dengan ucapannya.
“appa, aku… hmmppphh….” Belum sempat aku mengatakan apapun padanya, aku merasakan seperti sesuatu mengoyak isi perutku
“So Hee.. gwaenchanha-yo? YA! APA YANG KAU LAKUKAN?” bentak Kyuhyun pada appa.
“Aku.. aku.. aku tidak melakukan apapun kau tau? Itu salahmu sendiri..!!” jawabnya terbata.

Benda yang kini ternoda merah segar itu tarjatuh dari tangannya. Dan sedetik kemudian orang-orang berseragam mengepung appa dan membawanya dengan paksa.
“appa..” aku merasa sakit dalam hatiku melihat appa dibawa seperti itu. tapi sakit ditubuhku semakin menjalar dan melumpuhkanku. Aku hanya bisa terduduk memegangi perutku menahan rasa sakit. noda merah yang keluar dariku perlahan mengotori sebagian besar baju putih yang kukenakan.

Aku hanya bisa meringis kesakitan. Kyuhyun membawaku masuk kedalam mobilnya dan duduk disampingku. Sengaja membiarkan orang berjas hitam yang kutau itu adalah orang-orang yang selalu mengawal Kyuhyun dari jauh itu mengemudi. Dia merangkulku dan menyandarkanku padanya. tanganku mulai gemetar dan terasa kaku.

Kutatap orang yang merangkulku ini. Appa, dia tampak mengkhawatirkanku. Apakah yang kulihat ini nyata atau fatamorgana ditengah keinginanku yang terdalam bahwa appa akan kembali seperti dulu. Aku sangat senang dan bahagia saat ini hingga pada akhirnya air mataku meluber dalam pelukannya.

Sakitku terasa semakin menjadi. Wajah appa yang memelukku perlahan memudar dan berganti menjadi wajah Kyuhyun. Wajah putihnya kini merah padam, mata terindah indah yang pernah kulihat itu tampak sembab.
“gwaenchanha.” Ucapku sebisanya.
Cairan merah itu mulai berubah menghitam. Ya Tuhan, jika memang aku harus berakhir sekarang aku siap. Tapi kumohon Tuhan, jangan Kau siksa akhir hidupku dengan rasa sakit yang tak mampu aku terima.

Dan seketika, nafasku mulai sesak dan tercekat. Seolah sesuatu menahan kerja paru-paruku menghirup oksigen yang kubutuhkan. Kyuhyun mengguncangkan tubuhku perlahan, memastikan aku masih terjaga.
“So Hee.. kumohon, bertahanlah..”
Itu yang samar-samar dapat kudengar dari sela isakan kecilnya. Aku sakit melihatnya seperti itu, benar-benar menyakitkan. Namun  aku sudah tidak bisa bertahan lebih lama lagi. Ya Tuhan, kumohon lindungi orang-orang yang kusayangi. Tubuhku melemah, dan semuanya gelap..

*

*

*

Entah aku ada dimana sekarang. Semuanya terasa sama. Sejauh mataku memandang hanya gelap dan gelap. Aku hanya berjalan lurus kedepan tanpa mempedulikan apapun yang kemungkinan ada di depanku. Aku hanya mengandalkan instingku untuk menjadi penunjuk arah kemana kakiku melangkah.
“So He..”
“Siapa itu?” teriakku saat tiba-tiba terdengar suara memanggilku. Suara yang lebih terdengar seperti kembusan angin.
“So Hee..” suara itu kembali terdengar dan menakutiku. Hingga tiba-tiba sesuatu yang menyilaukan muncul tepat didepanku.

Itu.. seperti sebuah layar proyektor raksasa yang memutarkan sebuah adegan drama. Dapat kulihat disana seorang gadis kecil berambut panjang berlari dengan riangnya menyusuri hamparan padang rumput luas bersama seorang pria dewasa. Gadis itu tampak begitu senang bisa bermain dengan orang itu yang kuyakini dia adalah appanya. Betapa beruntungnya gadis kecil itu bisa bersenang-senang dengan appanya. Disayangi, dicintai dengan segenap kasih.

Cukup lama mereka bermain main, sampai seorang wanita berambut sebahu datang menghampiri mereka.
“sudah mainnya.. kita makan siang dulu.. eomma sudah membuatkan makanan kesukaanmu Chagiya..”
Gadis kecil itu tampak senang mendengarnya.
“Kajja, So Hee sayang.. kita makan..”

Aku sangat iri pada gadis itu. dia sangat beruntung memiliki seseorang yang sangat mencintainya, menyayanginya, melakukan apapun untuknya. Ya tuhan, semoga gadis kecil ini tidak bernasib buruk sepertiku. Semoga kebahagiaan selalu menyertainya..

Namun tiba-tiba, gadis kecil itu menghilang bersama sang appa. Wanita itu tampak kebingungan atas apa yang dialaminya. Dia menangis memeluk boneka kecil milik puterinya. Wanita itu memanggil nama puterinya..
“So Hee…. So Hee…”

Eomma……

*

*

Aku terbangun dari mimpiku. Dan aku terkejut ketika aku menyadari ini bukan dikamarku. Sedikit perih dapat kurasakan dari tangan kiri dan perutku. Samar samar dapat ku dengar seseorang berbicara di sudut ruangan..
“sudah eomma katakan, kau jangan berbuat gegabah.. lihat hasilnya. So Hee celaka. Dan itu salahmu.” Marah eomma pada Kyuhyun. Dan siapa wanita eommanim dan menenangkan dia?
“ne eomma,, arraseo.. aku yang salah, mianhe..” jawab Kyuhyun lesu.

“oppa… eommanim..” panggilku, entah mereka mendengarnya atau tidak.
“So Hee..” rupanya mereka mendengarku dan langsung mendekat kearahku. Aku mencoba bangun dari tidurku, namun eommanim melarangku dan memaksaku kembali berebahkan tubuhku. Kembali ku lihat wanita sedari tadi berada di belakang eommanim. Siapa dia? Wajahnya sudah tak asing untukku. Kutatap dia dalam, hingga aku yakin siapa dia.

Orang yang selama ini ku cari, orang yang selama ini kurindukan, kini benar-benar ada didepan mataku. Siapa sangka aku akan bertemu dengannya lagi dalam situasi seperti ini. Impianku adalah bertemu dengannya di saat saat yang paling bahagia untukku. Bukan dengan cara seperti ini.

“eomma..”
“So Hee..” eomma menghambur mnemelukku. Masih terasa seperti saat dulu eomma selalu memelukku. Hangat, nyaman, ini yang membuat aku tak bisa tanpa eomma. Pelukan sayangnya membuat aku lebih kuat. Pelukan sayangnya tak akan bisa terganti dengan pelukan seperti apapun. Tak akan ada pelukan seperti pelukan eomma.

Eommanim meninggalkan ruangan kamarku, membiarkan aku menikmati kehangatan bersama eomma lagi. Begitu pula Kyuhyun yang bersiap meninggalkan kami. Namun aku menraih tangannya dan menahannya untuk tidak pergi meninggalkanku dari sini. Dia menatapku penuh tanya, tapi tak ada satupun yang kujawab.

Tak lama, eomma pun beranjak dari kamarku dengan alasan akan mengambil barangnya yang tertinggal dirumah. Dan disini hanya tinggal aku dan Kyuhyun berdua.
“kenapa?” mulainya.
“mwo?”
“kenapa kau melakukkan itu, lihatlah, kau menjadi celaka gara-gara aku..”
“tidak apa-apa oppa.. sudah kewajibanku”
“maksudmu?”
“tidak Seharusnya aku membawa mu kedalam masalahku dengan appaku..”
“mwo?”

“karena malam itu kau menyelamatkanku dan membawaku pergi dari orang jahat itu, appa menjadi bulan bulanan mereka. Mereka menuntut ganti rugi atas kalahnya appa dalam bermain judi ketika itu. seharusnya appa menyerahkan ku pada mereka, tapi karena aku menghilang, mereka merasa dirugikan dan selalu menagihnya pada appa. Itu yang membuat appa begitu membencimu dan menganggap oppa adalah penyebabnya.”

“mwo?”

“aku sangat berterimakasih pada keluargamu yang sangat baik dan menerimaku juga merawatku sampai saat ini. Keluargamu sangat baik. Baik sekali.. kalian memberiku keluarga baru dan menjadikanku seseorang yang berbeda. Maka dari itu, dulu aku bersumpah bahwa aku akan mengabdikan hidupku untuk keluarga ini. Dengan cara apapun yang mereka inginkan akan aku lakukan semampuku.”

“termasuk saat appa dan eommaku menjodohkan kita.?” Aku hanya diam tertunduk. Tidak tau apa yang harus kukatakan lagi padanya. “kasarnya, kau menikah denganku atas dasar balas budi, begitu..”

“awalnya memang seperti itu. tapi..setelah aku menikah denganmu, aku merasa sesuatu yang aneh terjadi dalam hidupku. Entah itu apa, aku sendiri tidak mengerti. Aku seperti menjadi orang yang berbeda. Aku seperti terlahir kembali. Aku mencoba menekan apa yang aku alami dan aku rasakan padamu, karena aku menyadari siapa aku. Tapi semakin aku menghilangkan itu semua, semakin aku merasakan sakit yang luar biasa. Terserah oppa menganggap aku seperti apa, aku sudah tidak memikirkannya lagi. Aku hanya menyampaikan apa yang ada di kepalaku saja. Semuanya terserah pada oppa saja.”

“apa kau mencintaiku?”
“mwo?? Aku? Aku… tidak yakin apakah aku….”
“So Hee..” sapaannya menarikku untuk menoleh padanya. “saranghae..”

Aku menatap dirinya, mencari jawaban atas apa yang kurasakan. Kutatap jauh kedalam dirinya, semakin aku meyakini bahwa memang benar..
“nadoo saranghae..”

Aku mencintainya..
#

#

# FIN
Back Sound: Du nuni moraseo geudaeman bwayo, gaseumi oroseo geudael anayo. Tteollinun ipsuri gwitgae daheumyon. Chombuteo geudaeman kkumkkwo-watdon geumal,,, Saranghae.. (because I’m blind, I only see you. Because my heart is frozen, I hug you. When my trembling lips touch yours ears. I say the words I dreamed of since I met you, “I Love You”) [Super Junior Yesung: Blind For Love]

A/n:
akhirnya,, setelah sekian lama author nyelem nyati mutiara terpendam(?).. ketemu juga. Tapi perlu di dempul di sana sini.. soalnya ada kotoran yang mengganggu mata..(baca: typo)

mian buat chingudeul yang kena tag jailnya author. Author harap readers sekalian kasih kritik dan saran yang membantu ya,, buat perbaikan FF author yang masih kacangan ini.. tapi jangan Kacangin FF author juga.. hehehehe,,,

Tidak ada komentar:

Posting Komentar