TITLE : “ MY
WEDDING “ 2
AUTHOR : Novarida
Mardliatin
FACEBOOK ID : Fhaa Wanay Min/Kim
Elfrida MissEvilKyu
TWITTER ID : @NovaRidaa
GENRE : Sad
Romance, Happy Ending
LENGTH : TwoShoot
RATING :
17+
MAIN CAST : Cast boleh
pilih sendiri sesuai keinginan atau imajinasi anda. bisa Bias/idola kamu.
Disini tentu author milih Kyu sebagai pasangan.. tapi kalian terserah mau siapa
aja.
Author a.k.a Kim Hyura /you (istri)
Author a.k.a Kim Hyura /you (istri)
·
Cho
Kyuhyun a.k.a Kyu/bias (suami)
·
Yang Mi
Soon a.k.a Mi Soon/your friend
·
Ibu
Mertua (oc) a.k.a Ibu
·
Wanita (oc)/whatever
DESCLAIMER : ini story milik saya. Alur tentu terserah saya,, reader hanya boleh pilih cast aja.. hahaha… masih banyak typo dimana-mana. Jadi jangan kaget.. oh iya,, hampir lupa..(ah selalu), ini cerita tentang hubungan suami dan istri.. ya.. cerita tentang kehidupan rumah tangga gitu.. eriittss… tapi tenang.. FF ini BERSIH kok.. jadi kalem aja… hhee…. DILARANG KERAS UNTUK MENG-COPY PASTE FF INI TANPA IZIN DARI AUTHOR..*caps jebol
Mian kalo ceritanya masih agak GAJE.. hhhhaaa.. ^^v
Happy reading all……
*
*
*
Aku masih tak percaya, namja berpakaian Tuxedo putih itu kini telah resmi menjadi suamiku. Seorang namja yang telah mencuri hatiku sejak 2 tahun yang lalu, kini menjadi temanku menapaki setiap tahapan dalam hidupku nanti, berbagi suka dan berbagi duka. Setia untuk selamanya.
“chagiya,, apa kau bahagia?”
“tentu oppa.. aku sangat bahagia
sekali.”
“terimakasih kau bersedia menjadi
istriku.. kau tau, ketika kau mengatakan kau bersedia, aku sangat bahagiaa
sekali..” senyumnya tak pernah lepas dari
wajah tampannya. Sungguh wanita mana yang bisa menolak pria sebaik dia. Meski
pada awalnya dia begitu menjengkelkan, tapi lambat laun dia berubah sangat
manis.
“chagiya, kau mau kita memiliki anak berapa?” aku kaget mendengar dia bertanya seperti itu. tapi itu pertanyaan yang lumrah bagi sepasang pengantin baru.
“molla.. aku belum
memikirkannya.. memangnya kenapa?” tanyaku penasaran.
“ani.. aku hanya bertanya saja..
tapi, apa kita tak mau merasakan indahnya berpacaran setelah menikah?” dia
menatapku yang masih bingung. “maksudku, kita nikmati saja dulu masa-masa awal
pernikahan kita tanpa adanya seorang anak..”
“kau tak mau memiliki anak
dariku?”
“bukan begitu, hanya untuk
beberapa bulan saja, kita nikmati dulu masa-masa kita berdua..”
“ibumu? Apa tak apa-apa?” dia
hanya menggelengkan kepala.
“ibuku baik.. jadi tak akan
masalah..”
“begitukah?”
“mmm..” dia hanya mengangguk dan
mempererat pelukannya padaku.
****
Sudah hampir setahun kami menikah. Ibu mertuaku tentu bertanya-tanya kenapa tak ada tanda-tanda kehamilan pada diriku. aku mengerti apa yang dipikirkan ibu mertuaku itu. normalnya, setiap pasangan yang menikah, belum sampai 2 atau 3 bulan pasti sudah ada tanda-tanda berbadan dua. Tapi tidak denganku. Sampai kini tanda-tanda itu belum juga ada pada diriku.
“maaf ibu, bukan aku belum bisa memberimu kabar bahagia..” lirihku dalam hati.
Seharusnya aku mengerti sejak awal.. karna sebelum menikah, aku sering berkonsultsi terhadap keluargaku jika sudah menikah dan hidup bersama sang mertua, meski aku dan Kyu tak tinggal serumah bersama mertuaku, tapi mertuaku baik dan selalu berkunjung ke rumah. Untuk apa lagi kalau bukan untuk mencari kabar baik dariku.
Semakin sering ibu mertuaku bertanya tentang kehamilan padaku, semakin sering pula aku mengelak. Meski ini keputusanku bersama Kyu, tapi aku merasa sakit ketika ibu mertuaku menanyai kehamilan padaku. Aku tau sebetulnya ibu mertuaku sudah bosan menanyaiku tentang hal itu.
“Hyura, kau belum juga hamil?” aku hanya menggeleng. “kau tak merasakan tanda-tanda lain? Seperti kau suka pusing, mual atau apa..?” aku menggeleng lagi. Ibu mertuaku tak bosan bertanya lagi “apa datang bulanmu teratur? Maksudku, Apa bulan ini kau terlambat datang bulan?” aku menggeleng lagi untuk kesekian kalinya. Bagaimana mungkin aku terlambat datang bulan, jika pada kenyataannya dua pekan lalu aku selesai datang bulan. Ibu mertuaku menarik nafas panjang.
“Hyura, bagai mana kalau kita kedokter?” aku merasa hatiku ditampar ibu mertuaku. Bagaimana mungkin ibu mertuaku menyarankan aku ke dokter? Apa dia mulai berfikir ada kelainan dalam diriku? apa dia pikir aku tak bisa memberinya cucu?
“ibu, kurasa tak perlu..”
“bagaimana mungkin itu tak perlu,
sudah hampir satu tahun kalian menikah, tapi kau tak juga memberiku
cucu..!!” nada suara ibu mulai meninggi,
mendengar itu hatiku terasa sakit. Bagaimana bisa ibu berfikir aku tak bisa
memberikan keturunan.
“mungkin tuhan belum mempercayakannya padaku bu..” raut wajah ibu mertuaku seketika berubah. Wajah yang hangat kini terasa dingin bagiku. Dulu aku memutuskan untuk menundanya hanya beberapa bulan. Tapi setelah ibu selalu bertanya hal itu, aku dan suamiku memutuskan tak ingin lagi menundanya.
“baik, kalau sampai dua bulan kedepan kau belum hamil juga, ibu yang akan mencari jalan keluarnya. Dan kau tidak boleh menolak.” Mengapa ibu berkata begitu? Apa yang akan dilakukan ibu jika itu gagal..
Waktu terus berlalu. Sampai malam tiba dan Kyu pulang dari kerja.
“chagiya, kau kenapa? Kenapa
matamu sembab? Kau menangis?” kutatap lekat wajahnya. Semburat kekhawatiran
jelas tergambar dari wajah tampannya.
“aku..” kini aku tak bisa menahannya lagi. Dia memelukku erat. Dia paham betul, saat ini aku membutuhkan kekuatan besar untuk melewati ini.
“apa ibu-ku lagi..” aku
mengangguk. Dia mempererat dekapannya.
“aku harus bagaimana..”
“sudah lah.. jalani saja. Kita
sudah berusaha semampu kita. salahku kenapa kita memutuskan untuk menundanya.
Dan sekarang, karena terlalu lama dibiarkan kosong, sehingga ada bagian dari
dirimu yang belum siap..”
aku tak berani mengatakan semuanya pada Kyu. Apalagi mengenai waktu yang ibu berikan. Jika aku mengatakannya, itu akan membuatnya semakin buruk. Pekerjaan sudah membuat pikirannya terkuras habis. Bagaimana jika ditambah masalah ku dengan ibu mertuaku. Aku tak bisa melihatnya.
Waktu terus berjalan. Perkataan ibu ketika itu seperti bom waktu yang suatu saat bisa meledak. Aku hanya bisa menunggu pasrah menerima kenyataan pahit yang akan ku alami nanti. Hal terpahit yang kemungkinan aku alami adalah berpisah dari Kyu, suamiku yang sangat kucintai. Aku tau pasti bahwa aku tak mungkin bisa berpisah darinya. Tapi itu konsekwensi terburuk yang mungkin harus aku alami.
Satu minggu, dua minggu.. sampai satu bulan.. aku belum mendapatkan tanda-tanda yang ibu maksud. Segala upaya telah aku lakukan. Dimulai pergi ke dokter, minum obat penyubur, sampai minum ramuan tradisional pun aku lakukan. Tapi tak ada hasilnya. Aku hanya sedikit merasakan perih di perutku. Ku pikir, itu hanya reaksi obat yang aku minum selama ini.
Sudah hampir dua bulan. Besok ibu mungkin akan mengeksekusiku karena aku gagal. Sampai saat ini pun aku belum bisa memberi kabar baik padanya.
“chagiya kenapa wajahmu ditekuk seperti
itu?” dia melingkarkan tangannya di bahuku. Membuat lengannya terasa bantalan
nyaman buatku.
“anni, aku hanya sedang
berfikir,,” jawabku lemas.
“berfikir apa? Kau jangan terlalu
berfikir yang berat-berat..” dia mengecup lembut puncak kepalaku.
Aku menatap dalam matanya. Mata
itu mungkin tak akan aku lihat lagi setelah besok. Mungkin ini malam terakhirku
bersama suamiku ini. Kupeluk dia erat, karna aku tau, akan sulit untuk bisa
memeluknya setelah besok..
“sebenarnya kau ini kenapa?” tanyanya lagi. Tentu dia terkejut dengan perubahan sikapku. Aku hanya menggelengkan kepala saja. Yang aku inginkan sekarang adalah memeluk dia selama aku bisa, aku tak mau melepaskan pelukanku ini karena setelah aku membuka mataku besok, aku tak bisa memeluknya seperti ini lagi.
****
Hari ini tepat dua bulan. Aku menatap diriku sendiri dicermin. Lihat itu, betapa menyedihkannya diriku. aku harus siap menerima eksekusi mertuaku sekarang, ”Hyura, kau harus bisa menerima apapun yang akan meimpamu..” ucapku dalam hati.
“chagiya, kau kenapa lagi.. dari tadi sebelum aku mandi sampai sekarang, kau hanya memegangi perutmu..?”
“entahhlah oppa. Aku hanya
sedikit merasa sakit diperutku saja. Mungkin karena aku belum datang bulan..”
“kau belum datang bulan? Aneh
sekali.. aku baru menyadarinya.. “ dia hanya tersenyum.
Benar juga. Bulan ini dan bulan
lalu juga tidak.. ah tak mungkin.. ini sudah sering aku alami. Dulu sebelum
menikah aku juga pernah terlambat, bahkan sampai 3 bulan. Jadi tak mungkin
jika.. ah tidak, Hyura, kau tak boleh seyakin itu..
Ting dong….. ting dong…
Deggg>> ibu, kuyakin itu dia. Tuhan… beri aku kekuatan untuk menghadapi ini. Kumohon..
“biar aku yang buka..” Kyu langsung menuju ruang depan. Mataku mulai berat. Rasanya kakiku tak mampu untuk melangkah menghadapi ini.
“chagiya… ibu datang..” teriak
suamiku dari ruang depan. Kucoba menguatkan diri untuk menghadapi ibu.
Meski sulit, aku harus kuat. Ku langkahkan kaki ku menemui ibu.
Meski sulit, aku harus kuat. Ku langkahkan kaki ku menemui ibu.
“ibu..” aku memberi salam dan
duduk disamping Kyu. Kulihat ibu datang bersama seorang wanita. Kuakui dia
cantik, tapi untuk apa ibu datang bersamanya..
“sukurlah kau masih ada di
rumah..”
“memangnya ada apa ibu pagi-pagi
kemari?” Tanya Kyu heran.
“langsung saja. Sebelumnya ibu
menemui istrimu..” wajah dingin itu.. aku tak bisa memandangnya. Kurasakan
tangan hangat suamiku menggenggam erat tanganku yang gemetar dan mulai dingin.
“bagaimana Hyura, kau sudah memenuhi keinginanku..?” aku menggeleng.. entah sejak kapan pipiku mulai basah. Kyu menggenggam tanganku lebih erat lagi, bermaksud untuk menguatkanku.
“tepat dugaanku selama ini. Apa
kau mau ikut ibu ke dokter?” aku tersentak mendengar permintaan ibu itu. dadaku
terasa sesak, aku mulai tak bisa bernafas dengan baik lagi. aku menatap ibu tak
percaya dia sungguh-sungguh mengatakan itu.
“ibu, apa maksud ibu?” tampaknya Kyu
sudah mulai merasa ada yang aneh.
“istrimu tak mengatakannya
padamu?” dia hanya menggeleng, dan ibu hanya tersenyum dingin. ”ibu memberinya
kesempatan selama dua bulan ini. Tapi nyatanya dia tak bisa memanfaatkannya dengan
baik.”
“kesempatan? Kesempatan apa?”
“Hyura, kau tak memberi tau
suamimu?” aku hanya diam, tertunduk pasrah.
“Chagiya, coba kau ceritakan
padaku..? apa ini berkaitan dengn perubahan sikapmu akhir-akhir ini..?” aku tidak
bisa bicara sepatah katapun. Aku mencoba mengumpulkan kekuatan yang kupunya
untuk ini.
“maaf, bukan aku tak mau memberi tahu mu, aku hanya tak mau membebanimu. Masalah pekerjaan sudah menguras pikiranmu. Aku tak mau menambahnya dengan masalahku..” aku menatapnya dalam.
“ini bukan hanya masalahmu. Tapi
ini juga berkaitan dengan ku... harusnya kau mengatakan masalahmu padaku. Jangan
kau simpan ini sendiri. Apa kau sudah tak menganggapku sebagai suamimu lagi?” Kyu
bicara dengan meninggikan suaranya. Ku tahu, dia tak senang dengan ini.
“demi tuhan Kyu.. bukan itu maksudku.. aku..”
“sudah.. jadi bagaimana Hyura?
Apa yang akan kau lakukan? ibu bisa saja memberimu pilihan.. kau mau tau apa
itu?” aku mencoba menerka-narka pilihan apa yang akan ibu ajukan padaku.
Sekilas aku berfikir, apa ada hubungannya dengan wanita disamping ibu?
“pilihan pertama, kau harus mau
melakukan inseminasi.”
“apa?” suamiku terdengar kaget,
sama kagetnya denganku.
“pilihan kedua, kau harus berbagi
suami dengan wanita lain.” ibu menoleh sekilas ke arah wanita yang duduk
disampingnya. aku tak bisa bernapas lagi,. aku tak bisa berpikir jernih saat
ini. Ini sangat menyakitkan. Bagaimana bisa ibu memberi pilihan seperti ini.
“ibu, maksud ibu ini apa.. ibu pikir ini main-main..? inseminasi? Berbagi suami.. bu..ib..” nada suaranya yang meninggi harus terputus dengan sanggahan ibu yang tiba-tiba.
“kau tak mengerti ibu, kau anak
ibu satu-satunya.. ibu sayang padamu. Ibu juga ingin seperti orang lain, yang
dengan bangga membicarakan cucunya..”
“tapi ini konyol bu.. bagai mana
bisa ibu mempertaruhkan pernikahan kami hanya demi memenuhi keinginan ibu untuk
menimang seorang cucu? Tau kah ibu, ini menyakiti hati kami, terutama Hyura
bu..”
“ibu hanya sayang padamu..”
“sayang..? ibu bilang sayang..?
ini bukan sayang namanya.. ibu sangat egois..”
“lalu ibu harus bagaimana? Ibu
harus melewati masa tua ibu tanpa adanya cucu yang menemani ibu? Begitu?”
“tidak begitu bu.. aku hanya
minta ibu sedikit menunggu..”
“menunggu kau bilang..?? harus
berapa lama lagi ibu menunggu..? ini sudah satu tahun pernikahanmu.. awalnya
ibu mencoba menerima keterlambatan kehamilan istrimu.. tapi ini sudah terlalu
lama..”
“bu..!!”
“cukup..!!! hentikan…” aku tak
bisa melihat suami dan ibu mertuaku bertengkar hanya gara-gara aku.
“baik.. ibu beri kau waktu sampai
besok untuk berfikir. Kalau kau tak bisa memutuskan ini, berarti kau harus
pergi dari sini, TINGGALKAN ANAKKU…”
Perkataan ibu barusan menusuk tepat ke ulu hatiku. Rasanya sakit sekali. Bagaimana tega ibu melakukan ini padaku. Dulu dia sangat menyayangiku.. kini tidak lagi. Apa yang harus aku lakukan..? suamiku sama buruknya sepertiku. Dia tak berkata apapun setelah itu. dia hanya berdiri mematung menatap sinis pada ibunya sendiri.
****
“oppa,,” aku mencoba bicara dengannya malam ini.
“waeyo chagiya..?” kulihat dia
tapak muram. Tapi dia mencoba biasa dan tetap menyunggingkan senyum manisnya
padaku.
“aku minta maaf karena tak
mengatakan semuanya padamu. Aku hanya..” belum sempat aku menyelesaikan apa
yang ingin kukatakan, kalimatku terputus atas ucapannya.
“tidak apa-apa.. aku mengerti..”
Kyu menangkup pipi kiriku tersenyum
manis dan kembali muram.
“eummhh,, oppa, tentang tadi siang,
aku.. aku berfikir kalau, mungkin ibu ada benarnya.”
“sudahlah, jangan bahas masalah
itu. aku tak mau membahasnya.” Dia tertunduk.
“tapi, tak ada jalan lain selain
itu..”dia berbalik dan memelukku. Aku mulai menangis lagi dipelukannya.
“kau mu melihat anak kita tumbuh
di rahim orang lain?” aku menggeleng. “kau mau membagi suamimu dengan wanita
lain?” aku menggeleng lagi dan memeluk suamiku erat. “Makanya, kau jangan
seperti ini..” kudengar suaranya sedikit bergetar.
“tapi mungkin apa yang dikatakan ibumu ada benarnya, aku harus rela kehilanganmu.. kau harus bahagia. Aku belum bisa memberi kebahagiaan untukmu dan juga ibu.. aku..?” dia melepaskan pelukannya.
“kau mau meninggalkan ku?
Begitu?” Aku hanya tertunduk menahan kesakitan dalam hatiku.
“jawab aku..” dia menatapku
tajam. Semburat kemarahan dan kesedihan jelas nampak dari kedua mata indahnya.
“aku tau, aku tak bisa berpisah denganmu,, tapi mau bagaimana lagi.. semua cara sudah ku tempuh untuk mewujudkan keinginan ibumu. Aku sudah berkali-kali pergi ke dokter. Minum obat penyubur, minum ramuan kehamilan.. aku sudah melakukan itu,, sampai aku rela tubuhku ambruk harena semua yang aku konsumsi selam ini memaksa untuk aku muntahkan.. kau tak tau betapa tersiksa aku selama ini hanya untuk mewujudkan harapan besar ibu..” baru kali ini aku berteriak padanya. Dia tak menjawabku, dia hanya menatapku iba.
“sampai begitukah kau selama ini? Kenapa kau tak memberi tahuku betapa tersiksanya kau selama ini.. aku suami yang buruk untukmu.. aku..” dia terduduk lesu. Aku baru sekali ini melihat dia seperti itu. aku baru sekali ini melihat dia menangis sampai seperti itu. sungguh ini membuat aku bertambah sakit..
Aku meraih tubuhnya dan memberinya pelukan. Kuusap lembut punggungnya berharap di membaik.
“kalian sangat berharga bagiku. kau
dan ibumu harus bahagia. Biarkan aku pergi. mungkin memang harus begini.. aku
akan sangat bahagia jika kau dan ibumu bahagia. Hanya itu.. melihat itu semua,
adalah kebahagiaan terbesar untuk ku.. “
“tidak.. aku tak akan bahagia jika tanpamu.. aku akan sangat buruk jika tanpamu.. kumohon,, tetaplah disini bersamaku.. cukup itu..”
“kau tau, untuk meraih kebahagiaan, harus ada yang kita korbankan.. demi meraih kebahagiaanmu,, aku berani berkorban untukmu.. sungguh.. aku hanya ingin kau bahagia.. tidak lebih..” kucoba memberi senyuman untuknya. Meski sebenarnya hatiku sakit, tapi ini senyum terakhir yang bisa aku berikan untuknya.
****
Hari berganti, pagi-pagi sekali ibu sudah ada dirumah. Tanpa sepengetahuan Kyu, aku mengemasi pakaianku. Hyura, inilah akhir pernikahanmu. Kau harus kuat.. demi kebahagiaan suamimu, kau harus merelakannya.
“bagaimana Hyura, pilihan apa yang akan kau ambil..?” ibu langsung melontarkan pertanyaannya padaku. suamiku hanya memandangku sengan tatapan sedihnya. Seolah dia berharap aku akan mempertahankan pernikahan ini.
“baik bu.. aku tak bisa melihat
anakku nanti tumbuh di rahim wanita lain. aku juga tak bisa menerima kalau aku
harus berbagi suamiku dengan wanita lain. jadi,,.. aku …” aku mencoba mengambil
napas panjang dan mengumpulkan kekuatan untuk mengatakan ini. ”mungkin ini
lebih baik bagiku. Juga bagi Kyuhyun oppa tarutama ibu.” Aku menelan ludah yang
terasa pahit karena mengatakan itu. “jadi kuputuskan lebih baik aku saja yang
pergi..”
Dengan berat hati aku menyeret koperku. Aku tak menginginkan ini terjadi. Tapi aku harus memilih satu pilihan.
“Hyura..” aku melirik sekilas suamiku. raut wajahnya mengisyaratkan tak percaya pilihan ini aku ambil.
“maaf karna selama ini aku belum
menjadi menantu yang baik untuk ibu. Maaf karna aku belum bisa memenuhi
keinginan ibu. Maaf karena belum bisa membuat ibu bahagia. tapi aku akan sangat
bahagia jika ibu bahagia mendapat apa yang ibu inginkan bisa terwujud, meski
itu bukan dari diriku.. aku sudah berusaha semampuku. Tapi tuhan berkehendak
lain.. mungkin ini memang sudah jalanku.”
Aku tau meski ibu membelakangiku, dia juga menangis telah membuatku seperti ini. Karena ku dapat melihat berkali-kali dia mengusap pipinya. Aku menatap kembali wajah suami yang aku cintai selama ini. Dia tak kalah kacaunya sepertiku. Aku memberikan pelukan terakhirku untuknya. Berharap dia merasakan sedalam apa aku mencintainya, dan sesakit apa aku saat ini.
“oppa, semoga kau bahagia.. ah tidak, kau harus bahagia..” aku memberikan senyumku padanya sambil sesekali menyeka airmataku yang berjatuhan dengan deras.
“agasshi, aku harap kau memberikan kebahagiaan yang lebih pada keluargaku ini..” raut wajah bersalah tergambar jelas di wajah cantik wanita yang datang bersama ibu.
“aku harus pergi sekarang.. sampai jumpa..”
Dan, pada akhirnya aku
benar-benar kehilangan semuanya.. kehilangan suami yang sangat aku cintai,
kehilangan ibu yang sudah seperti ibuku sendiri.
****
Entah aku harus pergi kemana sekarang, aku tak tau.. aku tak punya tujuan. Aku sendirian disini. Aku tak memiliki siapa-siapa. Satu-satunya keluargaku hanyalah keluarga suamiku. Hanya itu. dan kini satu-satunya keluarga-ku pun tak ada lagi.
TTIIIDDD>>>>>
Aku hampir tertabrak oleh sebuah mobil. Tanpa sadar aku menyembrang tanpa melihat lampu penunjuk jalan.
“Hyura..?? kau kah itu?” aku kenal suara itu. dia Mi Soon.. teman lamaku. Tapi kenapa aku harus bertemu dengannya disaat seperti ini..
“Mi Soon?”aku memeluknya erat.
“kau tidaak apa-apa? Kau tampak
buruk..” aku menggeleng lembut padanya dan memaksakan senyumku padanya. “kajja,
ikutlah denganku..” aku mengangguk..
Aku ikut dengan Mi Soon. Kemana dia membawaku aku tak peduli. Selama pejalanan aku tak membuka suaraku sedikitpun.. aku tak mungkin menceritakan semuanya pada Mi Soon betapa menyedihkannya hidupku.
“Hyura, kau tak-apa-apa? Kau tampak pucat..?”
“ya? Oh.. tidak.. aku hanya
sedikit pusing saja.” Aku tersenyum dipaksakan. Kepalaku pening, perutku berasa
sangat kacau. Apa karena aku tak makan dengan baik selama ini..?
“kau mau kemana membawa koper
sendirian?”
“molla.. aku sendiri tak tau
harus kemana. Sekarang aku tak punya tujuan lagi. Mungkin aku akan mencari
apartemen dan harus mencari pekerjaan.”
“kalau begitu kau sementara
tinggal dirumahku saja.. aku hanya tinggal sendiri.”
“tak perlu, aku bisa menyewa apartemen.
Lagi pula kau juga kan harus bekerja..”
“tenang saja. Tempat praktekku ya
dirumahku sendiri.”
“praktek?”
“iya.. aku sekarang bekerja
sebagai dokter. Dan aku memutuskan untuk membuka tempat praktek sendiri di
rumah. Jadi, kau tinggal bersamaku saja.. kau juga bisa menjadi asistenku..
seingatku dulu kau juga mengambil jurusan kedokteran kan?”
“mm.. ne” aku mengangguk lemas.
****
Aku kini tinggal di sebuah rumah besar di daerah pinggiran kota. Suasana disini cukup tenang. Damai. Disini, aku bisa menata kembali perasaanku yang hancur akibat permasalahanku bersama suamiku.
Sudah hampir satu minggu aku disini. Tapi sedikit pun aku tak bisa melupakan semuanya. Mi Soon juga tampak nya sudah mencium permasalahanku.
“Hyura, sebenarnya kau ini kenapa?”
“aku tak apa-apa.”
“kau jangan bohong padaku. Aku
tau..”
Mungkin sudah saatnya aku menceritakan semuanya pada Mi Soon. Mungkin dengan begitu bebanku sedikit berkurang. Dia tampak terkejut mendengar ceritaku. Sudah kuduga. Tak ada yang mengerti masalahku ini. Tapi aku sedikit lega karna aku tau ada seseorang yang bisa aku ajak cerita. Selama ini aku hanya memendamnya sendirian.
“aku tak menyangka kau mengalami itu..”
“aku sudah melakukan segala cara
untuk bisa memenuhi keinginan ibu mertuaku. Tapi gagal. Aku tak kunjung
mendapatkannya. Yang ada tubuhku semakin lemah dan tak bisa menelan apapun
lagi.”
“tunggu.. memangnya kau
mengkonsumsi apa sebelumnya?”
“obat.”
“obat apa?”
“semuanya.. dimulai dari obat dokter untuk
menyuburkan kandungan, sampai ramuan tradisional.”
“lalu apa yang kau rasakan
setelah mengonsumsi obat itu..?”
“semuanya keluar begitu saja.”
“keluar? Seperti apa?”
“iya, aku memuntahkannya.
Sepertinya tubuhku menolak kuberi asupan obat itu. sampai makan pun aku malas.
Dan terakhir, mungkin karena aku jarang memakan sesuatu, aku sering pusing..
aku tak mengerti apa yang terjadi.”
“hhaa.. kau tau.. obat-obatan itu takkan bereaksi pada orang yang memang subur.. apalagi jika pada…..” kenapa kata-katanya berkenti?
“terakhir kau datang bulan?”
”entah lah.. sudah lama sekali..
aku juga tak mengerti. Siklus menstruasiku mulai kacau lagi. Mungkin karena akhir-akir
ini aku banyak masalah..”
“kau.. kau ini kan lulusan
kedokteran. Hal seperti ini pun kau tak menyadarinya..”
“maksudmu apa? aku tak mengerti..”
“ahh.. kau.. kau sudah
menghubungi suamimu?” aku hanya menggeleng. “telponlah sekarang?” tak mungkin.
Dia mungkin sekarang sudah bersama wanita itu..
“kau ini kenapa?” Mi Soon
menaikkan suaranya.
“mungkin sekarang dia sudah bersama wanita itu. sudah lah..” aku berbaring membelakangi Mi Soon yang masih duduk diam disisi tempat tidurku.
Ingin aku menghubungi dia, tapi aku tak berani mendengar dia bersama wanita itu. aku terlalu takut. Ini keinginan ku, tapi justru ini menjadi boomerang bagiku.
***
Aku menerawang jauh ke hamparan rumput melalui jendela kamar. Hari ini praktek libur. Mi Soon mengatakan dia ada urusan mendadak. Aku tak mau ambil pusing menanyakan kemana dia pergi. ini rumahnya, kemanapun dia pergi bukan urusanku. Aku menghela nafas panjang. Pandanganku mulai kabur lagi. Ahh,, ada apa dengan ku.. aku coba menelan makanan yang ada, tapi gagal, makanan itu tak berhasil ku telan. Semuanya ku muntahkan, bahkan isi yang ada dalam perutku pun ikut keluar. Aku menyerah..
“ahh,, kenapa aku ini..” aku sungguh tak mengerti. Ada apa dengan diriku.. Aku lulusan kedokteran, tapi aku tak mengerti kondisi tubukhu sendiri. Dokter juga bisa sakit dan butuh dokter lain untuk menyembuhkan penyakitnya kan?
TOKK TOKK TOKK…
Terdengar suara pintu diketuk, itu pasti Mi Soon
“masuklah” tanpa menoleh ke arah
pintu. Sampai terdengar suara seperti pintu dibuka.
“Hyura..” itu seperti…
“Hyura, aku mencarimu
kemana-mana, kenapa kau tak menghubungiku..” dia memelukku dari belakang. Aku
tak bisa menahannya lagi.
“untuk apa kau kesini.. aku tak ingin kau melihatku seperti ini..” jawabku lirih.
“aku mencarimu..” aku membalikkan
tubuhku sehingga dia berada di hadapanku sekarang
“harusnya kau tak disini. Harusnya kau di..” aku melihat wanita itu berada di belakang Kyu. Dia tersenyum bersama Mi Soon. Aku tau Mi Soon yang melakukan ini. Pandanganku mulai kabur lagi. aku lemas dan hampir terjatuh. Dia menopang tubuhku dan mandudukkanku di sisi tempat tidur.
“kau kenapa?” kulihat dia begitu khawatir. “apa kau sakit? Kau terlihat pucat”
“aku tak apa-apa.” Menepis tangan
yang sedari tadi memegangiku.
“Hyura, boleh aku bicara?” aku
tak menjawabnya. Wanita itu mengerti dan duduk disampingku.
“aku dan suamimu tidak bersama..”
“kenapa? Ku bilang kau harus
membahagiakan suamiku kan?” dia menggeleng.
“mm,, aku tau, hanya kau yang
bisa membahagiakannya.”
“kau salah..” jawabku asal
“kau yang salah..” bentak Mi Soon
padaku.
“aku juga wanita, sama sepertimu.
Aku juga mengerti bagaimana rasanya berada diposisimu. Itu hal yang sulit. Kau
hebat sampai bisa bertahan selama ini..” aku tak berani berkata apapun lagi.
“kau tau, bibi menyesal telah
melakukannya padamu. Dia terus merasa bersalah padamu. Dia sayang padamu.
Sesaat setelah kau keluar dari rumah itu, bibi menangis tanpa henti melihatmu
pergi..”
*Flash Back
“agassi, aku harap kau memberikan
kebahagiaan yang lebih pada keluargaku ini..” raut wajah bersalah tergambar
jelas di wajah wanita yang bersama ibu mertua Hyura.
“aku harus pergi sekarang..
sampai jumpa..”
Hyura pergi meninggalkan rumah itu dengan langkah yang sangat berat. Di dalam rumah, ibu mertua Hyura menangis sejadinya menyesali apa yang dia lakukan terhadap menantunya. Di lubuk hatinya yang paling dalam, dia sangat menyayangi menantunya itu. tapi keegoisan membuatnya menjadi mertua yang kejam. Dia bersalah membiarkannya pergi, dia tau betul Hyura tak memiliki seseorang disini. Rasa bersalahnya kian bertambah.
“apa salah jika ibu ingin seperti orang tua yang lain..? aku hanya menginginkan itu.. aku tak peduli lagi dengan yang lain..”
“bibi..” namun yang dipanggil
‘bibi’ tidak menoleh sama sekali. “aku juga seorang wanita, aku paham betul
seperti apa dia sekarang. Perasaanya saat ini pasti sedang hancur membayangkan
ibunya tak menginginkannya lagi. bukan dia tak mau mewujudkan harapan bibi,
tapi keadaan yang belum mengijinkan..” tutur wanita yag bersama ‘bibi’ itu.
“ibu, kau tau? selama ini dia berusaha keras melakukan berbagai cara untuk bisa memberiku keturunan. Sampai dia rela mengkonsumsi obat-obatan yang mungkin akan membuat keadaannya bertambah buruk. Semua itu dia lakukan demi ibu” Laki-laki itu mencoba meluruskan semuanya. Meski hatinya kini sedang tersayat dengan kepergian istri yang sangat dicintainya. Namun Ibunya hanya diam dan terus meratapi kesalahannya.
“ibu salah, ibu tau itu.. ibu terlalu egois padanya, ibu sadar betapa ibu beruntung memiliki dia sebagai menantuku. Dia baik, dia rela melakukan apapun demi orang yang dicintainya. Ibu tau itu.. ibu salah.. maafkan ibu….” Dia terus menangis. Laki-laki itu memeluknya erat.
“sudah lah bu,, yang harus kita lakukan sekarang adalah mencarinya dan membawa dia pulang.” Ibu itu mengangguk lemas.
Hari itu juga Kyu mencari istrinya, Hyura. Namun tak dia temukan. Dari pagi hingga malam tiba, dia terus mencari dimana Hyura. Tapi hasilnya nihil. Dia tetap tak menemukan keberadaan Hyura. Sampai pagi ini, seseorang menelpon dan menanyakan alamat rumahnya dan berkata harus menemuinya.
“aku Yang Mi Soon. Aku temannya Hyura.”
“oh, tapi sayangnya Hyura tidak
ada. Sudah seminggu ini dia pergi.” Kyu lemas.
“aku tau, makanya aku datang ke
sini.”
“maksudmu?”
“aku tau dimana Hyura sekarang.
Dia sangat lemah.”
“apa?” Kyu, ibu dan wanita yang
dijodohkan ibunya terkejut mendengar itu.
“seminggu yang lalu, aku hampir
menabrak seseorang. Setelah kuamati ternyata dia Hyura, teman ku dulu. Dia
terlihat kacau.” Ketiga orang itu diam mendengarkan apa yang disampaikan Mi
Soon.
“belakangan ini kami ada
masalah.”
“aku tau. Semalam dia menceritakan semuanya padaku. Jelas aku kaget mendengar apa yang dialaminya. Termasuk.. ehh.. maaf, soal obat-obatan yang dia konsumsi.” Mi Soon mengedarkan pandangannya pada semua yang ada di ruangan itu, tak ada yang menjawab. Semua hanya diam membisu.
“kau tau apa yang terjadi setelah dia mengonsumsi itu semua? Dia jadi tak bisa makan sedikitpun. Sampai hari ini, dia tak bisa memakan apapun. Semua dia keluarkan. Obat-obatan itu tidak membantunya sama sekali. Malah justru membuat keadaannya semakin parah.”
“benarkah?”
“karena efek obat itu, penciuman
Hyura jadi tak berfungsi dengan baik. Apa yang dia cium, itu seperti bau obat
yang dia konsumsi dan membuatnya merasa mual..” sejenak Mi Soon menatap Kyu
yang berfikir keras.
“Kyu, bukankah kau juga seorang
dokter juga? Harusnya kau tau obat apa itu.”
“aku tau. Obat apa itu.”
“dan kau juga harusnya tau fungsi
dan efek obat itu kan?”
“entahlah, aku bingung. Dia
bilang setelah mengonsumsinya dia merasa mual dan pusing. Tunggu.. apa mungkin
dia..??” Mi Soon hanya menjawabnya dengan senyuman dan anggukan kecil. Senyum
di wajah Kyu kini mengembang.
“hanya saja dia belum menyadarinya. Dia hanya berfikir itu akibat dia tak makan dengan baik. Jadi sebaiknya kau temui dia. Dan bicara dengannya baik-baik..”
“iya, aku tau..”
Setelah mendengar itu semua, Kyu, Mi Soon dan wanita itu langsung pergi menuju ke rumah Mi Soon. Ibunya memutuskan untuk menunggu mereka pulang.
*Flashback end.
Mendengar itu semua aku tak bisa berkata apa-apalagi. Semua perasaan membaur menjadi satu. Tak tau apa yang harus aku lakukan. Aku masih bingung dengan ini. Ku tatap kembali wajah seseorang yang ada dihadapanku. dia tersenyum manis terhadapku. Senyum yang aku rindukan.
“pulanglah bersamaku. Ibu menunggumu. Dia merindukanmu Chagi..” dia memlukku erat.
“mm..” dia melepaskan pelukannya.
“kau kenapa lagi?” dia bertanya
padaku yang membekap mulutku sendiri.
“kau kanapa sih..?” Tanya nya lagi.
aku hanya mnggelengkan kepala sambil berlari ke toilet. Dan benar saja. Aku
memuntahkannya lagi.
“YAA…. KAU MEMAKAI FARFUM APA? BAUMU MENYENGAT SEKALI…..” teriakku dari dalam kamar mandi. Tapi dia hanya tertawa puas.. dasar orang itu..
****
Aku kini kembali pulang bersama suami
yang telah kembali kesisiku, juga bersama Kyu kecil yang masih tersimpan rapi
dalam rahimku. Tak pernah aku membayangkan akan seperti ini akhirnya. Aku
sempat menyerah untuk sekedar berharap dia akan kembali. Tapi semua pikiranku
salah. Sepelik apapun masalah dalam hidupku, pasti ada jalan keluarnya. Dan
masalah ini menjadi pelajaran buat ku untuk tetap yakin pada dirku sendiri dan
tak menyerah dalam melindungi apa yang harus kita pertahankan.
Dan ini juga menjadi tamparan keras bagi ibu mertuaku, bahwa tak ada yang tak mungkin di dunia ini. Ke-egoisan hanya akan menjadi penghalang bagi kita untuk mencapai akhir yang bahagia. Dan aku telah membuktikan itu.
****
“Hyura.. maafkan ibu, ibu telah menyakiti hatimu, ibu adalah ibu yang buruk untuk mu.. ibu menyesal sungguh..” pelukan hangat ibu kini bisa kurasakan lagi.
“tidak apa-apa bu, aku mengerti.
Semua orang tua juga pasti akan berpikir yang sama jika berada di posisi
seperti ibu saat itu. aku bersyukur tuhan telah mengembalikan semuanya sebelum
terlambat..” aku melepaskan pelukan hangat ibu dengan lembut.
“kau memang anak ibu yang baik. Ibu tak akan mempermasalahkan cucu lagi denganmu.”
“mana boleh seperti itu bu,,”
kenapa ibu bicara seperti itu?
“ibu serius. Ada kau saja ibu
sudah senang.. sungguh..”
“jadi ibu akan menolak cucu yang
sekarang ada di peut Hyura Bu..?” Kyu tampak snewn.
“apa? Jadi kau..??” aku dan suami
ku hanya mengangguk pelan.. ibu terlihat sangat bahagia sekali. Terlebih aku.
kini aku telah memenuhi impianku dan suamiku, termasuk ibu untuk bisa memberi kebahagiaan
terbesar dalam hidup kami..
Tuhan telah menunjukkan
kebesarannya, aku sangat bersukur.
*
*
*
*
*
The End
Note: akhirnya, setelah sekian
jam author menulis ini, kelar juga.. maaf kalo kurang menusuk ya.. author sengaja
bikin yang thema nya masalah rumah tangga.. hahaha… bosen masalah anak muda
mulu.. kekeke..
Oh iya,, author hampir lupa..
jika ada kemiripan dalam cerita ini dengan cerita-cerita lain,, itu benar-benar
murni kebetulan.
Mohon RCL nya ya.. Gumawo…
*bow with Kyu.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar