FF UNFORGETTABLE (Part 1)
oleh Fhaa Wanay Min
TITTLE: UNFORGETTABLE
GENRE: Angs
MAINCAST:
Desclaimer: Stori ini murni hasil kerja keras author. meski masih jauh dari kata SEMPURNA nya Demian, tapi author sebisa mungkin menyempurnakannya sesuai dengan hukum bacaan Bahasa Indonesia yang berlaku. Tapi manusia memang tempat salah dan Khilaf, jadi mohon dimaafkan apabila masih ada kata atau kalimat yang kurang mengenakkan atau membuat para pembaca sekalian pusing. terimakasih.. ^^
happy reading yeorobun....^^
*
Tetes demi tetes, perlahan air hujan riuh membasahi dataran luas di luar sana. Semua turun bagai sang awan menumpahkannya tanpa tersisa di pelataran langit sana. Langit menghitam bagai tak ada lagi putih di muka bumi ini. Semua gelap, semakin gelap dan lebih gelap lagi.
Aku yang menyaksikan kejadian itu hanya mampu menatap nanar dari balik jendela yang berembun. enggan rasanya meninggalkan tempat ini barang sedikit pun. Aku tak mengerti dengan apa yang terjadi. perlahan tubuhku terasa dingin dan kaku. Perasaan sakit di dadaku bagai menusuk bertubi-tubi, bayangan masa lalu mulai menghantuiku lagi. tanganku gemetar,, kedinginan? Atau ketakutan?
Tubuhku terasa dihujani bunga Es. Dingin, menggigil,, bibirku tak henti-hentinya meracau tanpa adanya kendali dari kerja otakku.
“eomma.. eomma… eomma… eomma.. eomma….”
Aku seperti orang yang tak waras, meracau tak karuan. Aku tak menghendaki ini. Bayangan itu, selalu menghantui pikiranku,, menakuti hatiku,, meresahkanku, dan mengingatkanku pada kenyataan pahit, bahwa aku telah dibuang dan tak diinginkan lagi.
Ketika itu..
Usiaku baru menginjak 11 tahun. Aku hidup dan besar di lingkungan keluarga berekonomi rendah. Ayahku hanya seorang pekerja serabutan dan juga seorang pemabuk. Ibuku hanya seorang ibu rumah tangga biasa yang harus mengurusi aku dan adikku di rumah kumuh yang jauh dari kata layak, aku harus berbagi dengan adikku dalam segala hal. Juga harus merelakan kasih sayang berlebih dari eomma karena adikku mengidap penyakit paru-paru di usianya yang baru empat tahun.
Mau tak mau, suka tak suka aku harus bisa menggantikan eomma mengurusi rumah. Berbenah, memasak, mencuci bahkan aku harus bisa membagi waktu sekolahku dengan bekerja mencari tambahan dana untukku bisa bersekolah, karena ayahku tak pernah memberiku uang saku bahkan uang sekolah pun tak pernah ia berikan. Bahkan dengan teganya aku diperintahkan untuk putus sekolah..
“daripada uang yang kau hasilkan itu untuk sesuatu yang tak berguna.. lebih baik uangnya berikan padaku..” katanya tak karuan. Mengingat alkohol kini telah merajalela menguasai kesadarannya.
“shireoo appa.. aku bekerja untuk sekolahku..” tentangku sok berani.
“MWOYA..??” bentaknya tak terima. Dia menarik kerah bajuku meski memerlukan usaha besar untuk melakukannya. Dia menarikku paksa sampai dapat ku cium bau menyengat dari bibirnya.
“aku ingin sekolah appa.. aku tak ingin masa depanku hancur. Aku ingin memperbaiki masa depan keluarga kita. aku tak mau dianggap remeh lagi oleh orang lain.. cukup sekarang aku harus seperti ini. Aku masih mempunyai cita-cita yang ingin kuraih..” belaku, meski ku tau itu sia-sia.
“lihat dirimu.. kau masih bocah, sudah berani melawan orang tua.. YA!!! Aku appa mu..!! hormati aku..!!” bentaknya sembari mengguncang tubuhku kasar. Dia tak menyadari bahwa aku ini seorang anak perempuan.
“di hormati?? Untuk apa aku menghormati orang yang tak bisa menghormati dirinya sendiri..!!!”
“jaga bicaramu…. Nona sok pintar.. PLAKKK..” tangan kekar itu berhasil mendarat di wajahku sampai aku tersungkur di lantai.
“YA.!!apa yang kamu senangi chagi..??
"APA YANG KAU LAKUKAN..”
eomma yang kemudian menghampiriku tampak tak terima melihat perlakuan appa yang ringan tangan terhadapku. Aku tau appa dibawah pengaruh alcohol,, tapi ini keterlaluan.. dulu sebelum dia terkena PHK karena bankrutnya perusahaan tempat appa bekerja sebelumnya, tak pernah sekalipun dia memukulku, bahkan hanya berkata kasar padaku pun tak pernah dia lakukan. Tapi mengapa appa berubah seperti itu?? itu gara-gara alcohol terkutuk itu..
“dengarkan aku anak sok pintar.. hidupku adalah milikku.. jadi kau tak pantas mencampuri urusanku. Kau cukup menuruti apa yang ku perintahkan tanpa sekalipun membantahku.. camkan itu baik-baik..” Tandasnya langsung berjalan sempoyongan ke kamarnya.
Demi apapun aku membencinya. Entah setan apa yang membuat appa menjadi seperti itu. benar-benar membuatku jengkel. Ingin aku pergi meninggalkan rumah ini jika aku tak mengingat eomma dan adik semata wayangku.
“sayang, maaf kan appa mu.. saat ini dia sedang mabuk.. dia tak benar-benar membencimu.. ne..” aku hanya mengangguk lemas dan menangis dipelukan eomma. Pernah sekali aku berfikir, mengapa tuhan memberiku seorang ayah yang seperti ini.. tapi siapa aku? aku tak bisa menentang kuasa-Nya.
“apa sakit..?” Tanya eomma khawatir sambil mengusap ujung bibirku yang sedikit terluka akibat pukulan keras appa.
“ani eomma..” jawabku berusaha menenangkan eomma agar tidak khawatir lagi. belaian tangan hangat eomma bagaikan obat yang paling mujarab bagiku. Hanya dengan tangannya lah semua kesakitan dan bebanku terasa ringan. Kuraih tangan yang sedari tadi mengusap lembut ujung bibirku, ku ciumi mereka, berdoa agar tangan-tangan ini tak pernah hilang dariku.
“aku tak akan merasa sakit, jika eomma selalu bersamaku. Bembelaiku seperti ini, memberikan pelukan hangat mu, tak peduli sekeras apapun appa menyakitiku, aku akan bertahan demi eomma. Eomma adalah segalanya bagiku, kebahagiaan eomma, adalah kebahagiaan terbesar untukku. Aku akan berjuang keras untuk eomma. Apapun akan ku lakukan demi eomma dan adik. Kumohon,, eomma bertahan bersamaku..” buliran bening lolos keluar dari mata sayu milik eomma. Dia tersenyum padaku. Kubalas senyumannya, ku hapun air matanya, dan dia pun memelukku erat.
Kata-kata yang ku ucapkan pada eomma mungkin tterdengar tak sesuai dengan usiaku. Tapi itulah harapanku. Aku berharap semoga eomma selalu diberikan kesehatan, kekuatan dan kelapangan hati agar eomma bisa bertahan dalam kemelut keluarga ini, mengingat banyak anak seusiaku di luar sana yang senasib denganku harus menanggung beban serupa sendirian, menghadapi appa yang kejam tanpa dukungan sang eomma di sisi mereka karena tak sanggup menghadapi suami yang demikian. Lain halnya dengan eommaku, yang rela menghadapi ini semua demi anak-anaknya.
Hari berganti. Rasa takut melandaku saat ini. Takut pada appa yang besar kemungkinan bisa kasar seperti kemarin. Ini yang membuatku gentar menghadapi appa. Sebisa mungkin aku menghindar bertemu dengannya. Namun rumah kecil kami terasa lebih sempit ketika mau tak mau aku berhadapan dengan appa. Dia menatapku tajam seolah ingin menerkamku hidup-hidup. Matanya yang merah menambah ketakutanku.
Namun apa yang ada dipikiranku salah. Dia mendekatiku yang tertunduk ketakutan tanpa bisa melangkah mundur. Dia meraih daguku yang bergetar karena deritan gigiku akibat ketakutanku. Dia menyentuh pipi kiriku yang dipukulnya dan masih meninggalkan bekas memar dan noda darah yang mengering. Appa menyentuh lukaku, menatapku dengan tatapan seolah dia merasa bersalah.
“inikah yang kulakukan terhadap putriku..?” Tanya nya dengan nada sendu yang sukses membuat ku tercengang.
“appa..” jawabku ragu. Dan tanpa diduga dia menarikku kedalam dekapannya.
“maafkan appa chagi.. appa khilaf, appa gelap mata padamu.. tak seharusnya appa melakukan hal itu padamu.. maafkan appa ..ini semua gara-gara minuman yang terus di sogokkan kepadaku..”
Aku terkejut mendengar appa mengatakan itu padaku. Namun sejujurnya hatiku bagai melayang saat ini. Aku merasa sangat bahagia appa mengatakan itu. namun aku juga ragu, apa ini hanya ucapannya semata, apakah appa akan kembali menjadi appa yang seperti kemarin,,
“apa yang harus appa lakukan untuk menebus semua yang appa lakukan padamu..??”
“hentikan kebiasaan minum appa.. bisakah?”
“mwo? Minum..”
“ne.. jika appa bersungguh-sungguh ingin menebus apa yang telah kau lakukan,, berhenti lah minum.. dan hiduplah dengan baik, seperti appa yang dulu..”
“baiklah.. demi kau.. appa akan lakukan..”
“jeongmal..?”
“ne.. percayalah pada appa..”
“tentu..”
Pada awanya aku memang tak mempercayai apa yang dikatakan appa, mengingat apa yang sudah terjdi belakangan ini sangat jauh dari kata “dapat dimaklumi” dan tak mungkin appa bisa berubah dalam waktu singkat. Tapi aku mencoba mempercayainya, dan berharap semoga appa memang bersungguh-sungguh ingin merubah kebiasaan buruknya.
Satu minggu, dua minggu bahkan sampai satu bulan.. appa mampu membuktikan bahwa dirinya memang sudah berubah,. Kebiasaan minum-minumnya sudah tak pernah lagi dia lakukan. Pulang bekerja tepat waktu, tak pernah marah-marah bahkan memukulku lagi, dan kini appa sudah menunaikan kewajibannya sebagai kepala keluarga dengan selalu membiayai setiap keperluan kami.
Masuk bulan ke dua setelah pengucapan sumpah appa tentang merubah kebiasaannya masih bisa dia lakukan. Dan itu cukup menunjukkan padaku dan eomma bahwa harapan appa untuk bisa berubah menjadi lebih baik itu sudah di depan mata dan benar-benar appa melaksanakan janjinya pada kami. Namun harapan itu sirna setelah memasuki minggu ke tiga di bulan kedua, appa kedapatan sedang minum-minum bersama teman-temannya di sebuah kedai. Saat itu aku dan juga eomma beserta adik ku baru selesai mengunjungi teman eomma yang sedang sakit, tanpa sengaja aku dan juga eomma melihat appa di bopong temannya yang juga sama-sama terpengaruh oleh alcohol keluar dari kedai itu sambil bernyanyi tak karuan.
Aku terlebih eomma jelas tak menyangka appa akan seperti ini lagi. kami berfikir bahwa appa memang sungguh-sungguh akan merubah kebiasaannya. Tapi nyatanya tidak. Eomma sudah bicara pada appa mengenai ini. Tapi apa yang di dapatkannya jauh dari harapan. Bukan jawaban pasti yang eomma terima, tapi bentakan yang diterimanya.
“apa yang kau lakukan semalam..?”
“apa? Aku tak melakukan apapun..”
“kau mabuk lagi..”
“tidak.. aku hanya minum sedikit..”
“kau fikir aku bodoh?? Aku melihat dengan mata kepalaku sendiri,, kau keluar dari kedai itu dengan minuman di tanganmu dan berjalan sempoyongan..”
“mianhae,, aku tak sengaja.. temanku yang menghasutku..”
“teman..?? kau pikir aku percaya..?”
“lalu apa yang harus ku katakan?” bentak appa tiba-tiba. “baik.. semalam aku memang mabuk.. aku bosan hidup seperti ini kau tau..?? aku bosan terus terlibat dalam masalah yang tak ada ujungnya ini.. kau puas..”
Aku yang memang sedang mengasuh adikku hanya diam mematung mendengar pertengkaran appa dan eomma.. adikku mungkin belum mengerti tentang situasi yang terjadi.. terkadang aku berfikir betapa beruntungnya dia tidak mengerti tentang ini. Berbeda denganku, belum cukup waktuku untuk memahami kaadaan keluarga yang bisa kukatakan kacau ini.. namun aku dituntut untuk bisa memahami dan mengerti tentang ini semua, meski aku tak ingin.
Setiap hari, kelakuan appa semakin sulit di tebak. Terkadang dia kasar, terkadang dia baik dan lembut. Terkadang dia murah hati, namun tak jarang appa juga mengambil jerih payahku dan jerih payah eomma yang sudah susah payah kami tabung untuk mengobati penyakit adik yang membutuhkan biaya yang tak sedikit. Tapi appa sama sekali tak berfikir sampai sejauh itu. dia lebih memilih bersenang-senang dengan teman minumnya dibanding berkumpul dan memikirkan bagaimana menyelesaikan semua masalah yang ada. Bahkan tak jarang appa selalu pulang larut malam dan tak pulang selama beberapa hari.
Aku dan eomma tak perduli lagi dengan appa. Masa bodoh apa yang akan dilakukannya. Yang terpenting sekarang adalah bagaimana aku mengumpulkan biaya untuk sekolahku dan juga pengobatan adik. Aku tak mau eomma terus menanggung semua ini sendirian. Meski aku tak bisa berbuat banyak, tapi setidaknya aku bisa sedikit membantu eomma saat ini.
Dengan kerja kerasku dan juga eomma selama hampir dua tahun ini, sedikit demi sedikit masalah dapat teratasi. Meski tanpa appa yang membantu, tapi kami bisa membuktikan bahwa satu orang dewasa dan satu orang anak kecil yang berusaha keras jauh lebih baik daripada seorang dewasa pemabuk bersatu dengan dua orang wanita pekerja keras. Adik ku kini sudah membaik keadaannya, menurut dokter dia sudah hampir sembuh total. Hanya tinggal menunggu pemulihan. Dan itu berarti biaya pengobatan pun akan sedikit berkurang dan bisa digunakan untuk memenuhu kebutuhan yang lain.
“So Hee sayang,, adik mu kini sudah hampir sembuh, dan itu berarti akan sedikit meringankan biaya untuk pengobatannya, dan itu berarti juga, bisa digunakan untuk menutuopi biaya sekolahmu..”
“tidak eomma.. sebaiknya eomma gunakan saja untuk keperluan yang lain.. untuk sekolah, aku sudah mempunyai tabunganku sendiri..”
“tapi..”
“sudahlah eomma.. eomma simpan saja.. mungkin nanti bisa digunakan untuk keperluan mendesak..”
“kau memang anak yang baik So Hee.. eomma menyayangimu..” katanya lembut seraya mengusap lembut rambut yang sengaja ku gerai bebas.
Ya,, beginilah kami sekarang. Meski tanpa appa yang membantu, tapi kami bisa membuktikan bahwa kami mampu. Appa memang selalu ada bersama kami, tapi dia tak sekalipun membantu kami, bahkan hanya membantu untuk berfikirpun tak pernah. Appa hanya pulang untuk makan dan tidur saja.
oOoOoOo
Hari ini kelabu,, begitu juga suasana di rumah kecil yang kami tiggali di pemukiman sederhana ini. Entah apa yang terjadi, mendadak semua kaku. Aku sendiri tak mengerti dengan apa yang terjadi. perasaanku hari ini sangat tidak enak.
“sepertinya akan ada hujan lebat..” racauku.
“so Hee..” panggil seseorang yang aku tak ingin temui sebenarnya.
“ne appa..” meski malas,, lebih baik aku menjawab. Takut-takut amarahnya meledak kembali.
“kau.. temani appa keluar sebentar..”
“mwo?? Apa yang akan kau lakukan pada So Hee..?” Tanya eomma tiba-tiba, tak percaya dengan yang di dengarnya.
Aku hanya diam tak membuka suara sedikitpun. Aku hanya menurut pada yang menang di antara dua dewasa yang berdebat. Aku berharap semoga eomma yang memengangkan perdebatan, tapi rupanya salah. Ucapan eomma kalah dengan gerakan kaki appa yang tiba-tiba melangkah menarikku keluar saat eomma belum selesai bicara.
Tak percaya dengan apa yang terjadi, ternyata appa membawaku ke kedai tempat biasa dia minum-minum bersama teman-temannya. Dan yang lebih parah lagi, kini appa sudah berani bermain judi bersama mereka semua. Aku mulai merasa cemas dengan ini semua. Aku menatap sekeliling kedai, tampaknya tak ada seorang pun yang tidak berada dibawah pengaruh alcohol.
Dan yang lebih membuatku terpukul tak percaya adalah, bahwa appa tega menjadikanku, puterinya sebagai taruhan karena appa nyatanya selalu kalah telak. Aku benar-benar membenci appa, sungguh membencinya. Appa mana yang tega menjadikan puterinya sebagai taruhan?? Hanya dia, appa ku.
Kalah, appa ku kalah taruhan.. dan dia meninggalkan ku disini, bersama para pemabuk yang entah apa yang ada di pikirannya. Aku mengejar appa, menarik tangannya supaya dia tak meninggalkanku sendiri di tengah hujan besar bersama pria-pria mesum yang entah apa yang akan dilakukannya padaku.
“appa… jangan tinggalkan aku.. jebal..” rengekku berharap dia berbalik dan membawaku pulang.
“appa… kumohon.. jangan tinggalkan aku.. appa…” aku terus menarik lengannya. Namun kekuatan seorang anak 15 tahun denagn pria 41 tahun jelas berbeda jauh. Dia menghempaskanku begitu saja ditengah hujan lebat tanpa sekali pun menoleh kebelakang.
“appa…..” tangis kesakitan hatiku pecah seketika.
Betapa teganya appa padaku.. dia menjualku hanya demi permainan yang justru merugikan dirinya sendiri. Aku dikejutkan dengan dua pasang tangan kekar yang menarik paksa diriku. ketakutanku membuncah seketika. Belum hilang rasa sakitku karena appa meninggalkanku , kini aku dihadapkan dengan dua pria yang entah apa maksudnya menarikku dengan paksa.
“apa yang ingin kau lakukan.. lepaskan aku..” pintaku meronta mencoba melepaskan diri dari tangan-tangan mereka.
“kau sekarang sudah milik kami So Hee sayang.. jadi kami bebas melakukan apapun yang kami inginkan..”
“shireoo.. lepaskan… lepaskan..”
“sudah.. diam.. ikut saja bersamaku..”
“shireo.. lepaskan..”
Aku terus meronta agar bisa terlepas dari mereka.. menggigit tangan mereka sudah kulakukan sampai aku terbebas dari mereka, aku berusaha lari sekuat tenaga meski petir menyambar dari atas sana. Namun langkah kaki mereka dua kali lebih cepat dari langkah kakiku.. aku diseretnya untuk megikuti mereka.. tentu aku menolak dengan sekuat tenaga sampai mereka merasa jengkel padaku dan memukulku hingga aku hampir pingsan. Namun aku berusaha keras untuk tetap terjaga meski rasa sakit di pundakku begitu berdenyut. Mereka terus menarikku dan memaksaku. Aku masih tetap menolak, sampai aku melihat seseorang berjas putih menolongku dari mereka dan dia menghampiriku..
“gwaenchanha-yo..?” namun semuanya terasa berat,, kemudian gelap..
oOoOoOoOo
Sinar temaram lampu begitu terasa menyolok mataku. Memaksa mereka untuk segera terjaga dan bangun kepada dunia nyata. Hangat,, itu yang sekarang kurasakan. Dan baru kusadari aku berada di sebuah ruangan seperti kamar tidur, namun terlihat begitu mewah dan elegant.
Seorang pria dewasa sedang duduk memperhatikan ku dengan seorang wanita dibelakangnya. Aku ingat, dia pria berjas putih itu, yang menolongku kemarin.
“kau sudah bangun..?”
“dimana aku..?”
“kau aman dirumahku..”
“ahh.. kau yang menyelamatkan ku tuan. Gamsahahamnida..” lanjutku berusaha beranjak bangun. Tapi ngilu di sekitar pundakku masih terasa sangat perih..
“gwaenchanha-yo..?” tanyanya tampak khawatir. Dia memgangi pundakku yang semakin disentuh semakin terasa ngilu.
“aaarrrrrhh….” Ringisku memegangi pundak sebelah kiri.
“ah.. mianhae.. “ lanjutnya kemudian melepaskan tangannya dariku. “sepertinya cideramu sangat serius.. biar kupanggilkan dokter..”
“tidak perlu tuan..” tapi sepertinya dia tak mendengarkan ku.
Dokterpun datang dan memeriksaku. Dia mengatakan cidera ku memang bisa di katergorikan cukup serius. Akibat hantaman benda berat yang dilayangkan pria pemabuk itu, aku harus menderita sakit yang luar biasa.
“nona…??”
“So Hee.. namaku So Hee..”
“iya, nona So Hee, kau harus istirahat penuh untuk memulihkan kondisimu. Cideramu cukup serius. Dan jangan memaksakan diri untuk mengangkat beban yang berat..” tutur dokter itu.
“aku harus pulang..”
“sebaiknya kau tinggal disini.. sepertinya kau bermasalah dengan pria yang meninggalkanmu kemarin..” jawab seorang wanita yang kupikir dia adalah nyonya di rumah ini.
Sejenak aku terdiam mengingat kejadian semalam. Hatiku tersayat manakala mengingat bahwa appa sudah membuangku. Entah apa yang harus kulakukan sekarang.. aku hanya bocah 15 tahun yang di buang appanya sendiri. Tapi aku tak bisa disini.
“jadilah anak perempuanku.. kau lebih aman disini..”
Disinilah aku mulai sekarang, memulai kehidupan baruku dirumah ini. Aku hidup sangat nyaman disini, semua keluarga disini baik padaku. Cho ahjussi, Cho ahjumma, dan anak mereka, Cho Kyuhyun juga baik padaku. Meski dia terkadang dingin, tapi dia sama sekali tak pernah berbuat jahat padaku. Aku dan dia hanya berselusuh usia 3 tahun. Sehingga tak sulit untukku bisa beradaptasi dengannya.
Disini aku diajarkan banyak hal. Cho Ahjumma juga mendatangkan seorang guru untuk membantuku belajar. Aku sangat senang karena kini aku tak perlu memikirkan pekerjaan apa yang aku harus lakukan untuk dapat terus sekolah. Hanya 1 yang kupikirkan sekarang, bagaimana kehidupan eomma dan adik..??
Pikiran akan eomma yang terus menghantui setiap hariku. Pikiran tentang eomma yang terus mencemaskan ku. namun aku hanya bisa memendamnya sendiri. Aku tak bisa mengatakan apapun pada keluarga Cho ini. Mereka sudah terlalu banyak membantuku disini.. aku tak ingin menyusahkan mereka..
Bulan berganti tahun.. entah sudah berapa lama aku tinggal dengan keluarga ini. Aku tak terlalu memikirkannya. Yang selalu ku pikirkan adalah belajar dan belajar agar kelak ketika aku bertemu dengan eomma.. aku bisa munjukkan bahwa impian kita selama ini tercapai.
“so Hee.. bisakah kita bicara..” Tanya Cho ahjumma dan Cho ahjussi.
“ne..”
“begini.. kau sudah berumur 22 tahun sekarang, dan kau sudah harus tau dunia luar..”
“ma.. maksud anda..?”
“kami tidak bisa menyembunyikanmu terus menerus so Hee..” aku menyimak baik-baik apa yang dikatakan mereka.
“tapi aku nyaman seperti ini..”
“tidak.. itu tidak baik untukmu.. kau gadis pintar,, sangat disayangkan jika kau hanya menjadi gadis rumahan biasa.. jadi kami memutuskan…” kalimatnya menggantung tiba-tiba. Aku tak mengerti sesungguhnya apa yang direncanakan mereka..
“jadi kami memutuskan kau dan putera kami menikah saja..”
“m..mwo..??” jelas aku terkejut mendengarnya. Lelucon macam apa ini..
“ini demi kebaikan mu So Hee.. kau akan aman jika menikah..”
“aman? Mereka sudah tak mengejarku lagi.. mungkin mereka sudah melupakan ku dan tak lagi mengenaliku..”
“siapa yang tau apa yang akan terjadi. kami hanya mengkhawatirkanmu.. dan kami juga sangat merasa perlu untuk melindungi mu setelah Kyuhyun membawamu ke rumah ini dan menceritakan apa yang dilihatnya malam itu.”
Jadi.. yang membawaku, dan menolongku itu,, Kyuhyun?? Dan bukan Cho Ahjussi..?
“jadi.. kumohon.. menikahlah dengan puteraku.. bukan hanya demi kau So Hee.. tapi juga karena aku berfikir, kamu lah yang lebih pantas bersamanya..” aku tak mampu menjawab apapun pada mereka. ini membingungkan..
“diam berarti kau setuju.. kita tinggal memilih waktu yang tepat untuk melaksanakannya..?”
“mwo?? Apa anda tak bertanya pada Kyuhyun-ssi terlebih dahulu??”
“kami sudah berbicara dengannya jauh sebelum kami berbicara pasamu..” Mwo? Apa yang dikatakan ahjumma? Sudah berbicara dengannya terlebih dahulu,, kenapa jadi seperti ini..
Dan ucapan mereka bukan hanya isapan jempol belaka. Mereka sungguh-sungguh sudah merencanakan semua ini dengan matang. Tak membutuhkan waktu lama, mereka memutuskan untuk menikahkan ku dan puteranya. Hanya berselang beberapa minggu dari pembicaraan mereka denganku. Dan baru kusadari, mereka, keluarga Cho telah mempersiapkan ini semua sebelum aku mendengar mereka bicara denganku.
Setelah acara pernikahan di gelar lantas keluarga ini memperkenalkanku sebagai anggota baru mereka. Cho Ahjumma dan Cho ahjussi yang sekarang harus kubiasakan memanggilnya eomma dan appa tak menyembunyikan apapun tentang diriku pada teman-temannya. Aku berfikir apakah ini tak berdampak buruk bagi mereka?
“tenanglah.. ini sudah dipikirkan dengan matang..” sergah Kyuhyun yang seolah tau isi pikiranku. Dan itu pula lah yang membuat ku sedikit.. kagum. Dan dia melontarkan senyumnya yang entah mengapa terlihat sangat,, manis.
Jauh dari dugaanku saat itu, yang berfikir citra keluarga ini akan hancur karena aku, ternyata semua baik-baik saja. Tak ada satu pun yang berkata buruk tentang keluarga ini. Ini aku ketahui dari beberapa staff yang bekerja di kator appanim.. mereka mengatakan
“semua baik-baik saja nona..”
Lega.. aku sangat lega. Dan aku juga sangat bersyukur tuhan berlaku adil pada keluarga ini yang sangat baik padaku dengan terus memberikan berjuta kebaikan pada mereka.
oOoOoOoOo
hari ini aku memutuskan untuk berjalan-jalan di taman kota. Sedangkan Kyuhyun sedang sibuk dikantor. Kami memang jarang memiliki waktu untuk sekedar berjalan bersama begitupun di rumah. Dia memperlakukanku layanknya seorang suami terhadap istrinya. Namun aku sendiri belum bisa melakukan hal yang sama terhadapnya. Bahkan ketika dia menyentuh lenganku pun aku begitu merasakan ketakutan yang luar biasa. Bayangan kelam itu terus menghantuiku. Beruntung Kyuhyun begitu memahamiku dan dia pun tak pernah menuntutku lebih.
Aku berjalan tak tentu arah. Hanya mengikuti kemanapun kaki ku ini ingin melangkah. Merasakan indahnya hari dan segarnya udara meski awan hitam di atas kepalaku mulai berkumpul. Rasa pegal dikakiku memaksakanku untuk berhenti sejenak dan duduk di sebuah bangku kayu. Tak lama ku istirahatkan kaki ku, tiba-tiba kulihat sepasang kaki jenjang berdiri di samping kananku dan menjulurkan sebotol minuman padaku. Dan hal itu membuatku lebih terkejut ketika kudapati dia adalah Kyuhyun.
“mengapa kau tak menghubungiku jika kau membutuhkan teman berjalan.. kau tau? Berjalan sendirian di taman itu membosankan..”
“gamsahamnida.. aku khawatir mengganggu pekerjaan mu, Kyuhyun-ssi. Jadi kuputuskan berjalan sendiri.” Jawabku sembari mengambil apa yang disodorkannya padaku. Dan Kyuhyun pun duduk bersamaku. Ini aneh. Baru kali ini aku dapat duduk hanya berdua saja bersamanya. Mengapa jadi sesak? Dan apa ada yang salah dengan kinerja jantungku? Kenapa lambat laun detakannya semakin cepat??
“apa kau sakit?”
“ne?”
“kau tampak sedikit.. pucat..”
“animnida.. Kyuhyun-ssi..”
Beginilah aku bahkan terhadap suamiku sendiri. Kaku, dan Formal. Aku terbiasa seperti ini sejak pertama aku masuk kedalam keluarga Cho. Dan ini berlanjut hingga sekarang.
“sampai kapan kau akan berbicara formal padaku, So Hee?”
“mianhamnida jika itu mengganggu mu.. tapi aku sudah terbiasa bicara seperti ini..”
“ssshhhh.. bagai mana ini.. istriku sediri kaku di hadapanku. Apa yang harus kulakukan..?? Ya! So Hee.. bisakah kau tak bersikap formal padaku?” dia mendekatkan wajahnya padaku hingga sejajar. Dan baru ku sadari dia memiliki manik mata yang indah dan cemerlang.
“a.. aku … tak bisa..”
“ku ajarkan,, bagaimana..” dia masih berada di posisinya.
“mwo?”
“dimulai dari kau jangan memanggilku Kyuhyun-ssi lagi, tapi cukup panggil aku Kyuhyun saja. Otte..?”
“mianhamnida Kyuhyun-ssi.. tapi aku tak bisa melakukan itu..”
“atau kau panggil aku oppa..” MWO? Apa katanya barusan? Oppa..?
“hei,, So Hee.. wajahmu jangan memerah begitu,, membuatku ingin memakanmu..”
Kupalingkan wajahku segera, mengindari tatapannya yang semakin membuat aku tak nyaman. Bertahun-tahun aku tinggal bersamanya, namun baru kali ini aku merasakan hal yang seaneh ini jika bersamanya.
“so hee..” sapaan itu menyapu lembut gendang telingaku. Kurasakan sesuatu yang hangat dan lembut menyentuh tanganku.
“bisakah kau bersikap biasa padaku..?” tanyanya serius.
“aku..”
“kumohon.. “ melihat ekspressinya yang tampak bersungguh-sungguih pun membuat rubuh pertahananku. Dan kuanggukkan kepalaku menjawab ucapannya.
“gumawo So Hee..” lanjutnya kemudian.
Dia menangkup sebelah pipiku, dan menyapukannya lembut. Terkejut atas perlakuannya jelas kualami. Perlakuannya padaku saat ini membuat ku teringat dengan eomma. Eomma selalu membelaiku penuh kasih saat aku membutuhkannya. Eomma selalu membelaiku saat aku butuh kekuatan besar untuk menghadapi appa. Namun sekarang tidak lagi. aku tak bisa merasakan hangatnya tangan eomma lagi.
“ya,, So Hee.. kau kenapa? Kenapa kau menangis..?”
“anioo, aku hanya.. hanya..”
Tanpa terduga Kyuhyun menarikku kedalam pelukannya. Terkejut? Jalas aku sangat terkejut. Namun sedetik kemudian rasa sesakku akan ingatan tentang eomma memudar berganti dengan perasaan nyaman untukku. Bayangan kelam yang selalu membuatku takut hilang dalam pelukannya. Entah apa yang dimiliki namja ini hingga dia bisa menghilangkan rasa takutku yang luarbisa.
“sudahlah.. sebaiknya kita pulang. Sepertinya akan turun hujan lebat sebentar lagi.”
“nde..”
Dia menarikku lembut meninggalkan taman indah itu. tangan hangatnya tak pernah lepas dariku.
“So Hee..” seseorang memanggilku dengan kasar.
Suara itu.. aku mengenalnya. Suara yang tak ingin ku dengar lagi selamanya. Tapi mengaopa disaat seperti ini dia muncul. Aku tak berani menjawabnya, bahkan untuk berbalik dan melihatnya. Namun tiba-tiba tanganku ditarik paksa dari arah belakang, memaksaku untuk berbalik walau aku tak mau.
“kau.. benar kau So Hee.. YA.. NAPPEUN.. KAU HANYA MEMBUAT MASALAH UNTUKKU” bentaknya.
“KAU YANG MENCIPTAKAN MASALAHMU SENDIRI. KAU MENYERAHKAN KU PADA ORANG-ORANG ITU.. KAU TAK TAU APA YANG KUALAMI SETELAH ITU..” meski aku ketakutan setengah mati berhadapan dengannya lagi, tapi kukumpulkan keberanianku untuk menghadapinya lagi. meski tanpa eomma dibelakangku.
“YA..!! PLAKK..” tangan itu mendarat dengan sempurna sama seperti beberapa tahun lalu.
“PUKUL AKU SAMPAI KAU MERASA PUAS…”
PLAAKK.. lagi, dia memukulku lagi. kini nafsu jahatnya mulai merasuki hatinya. Dia bukan appa yang kukenal lagi. dia berubah menjadi orang lain. aku tak mengenal pria di hadapanku ini. Kurasakan sebuah pecutan keras mendarat di tubuhku dan membuatku terduduk. Dia terus menerus menghujamkan nya padaku.
“YA.. HENTIKAN….”
“siapa kau..?? berani menghentikan ku memberi pelajaran anak kurangajar ini..”
“yeoja yang kau katakana kurangajar ini adalah istriku.. kau tau?”
“mwoo.. hahahaha.. kau begitu tampan dan terhormat.. tapi kenapa kau menikahi wanita yang bodoh seperti dia..”
“benar, dia memang bodoh.. bodoh karena masih mengharapkanmu kembali padanya.. aku tau apa yang kau lakukan padanya. aku saksi mata atas kejadian tujuh tahun lalu.”
“mwo?”
“kedai itu? pria-pria hidung belang itu? aku tau.. aku bisa saja melaporkanmu pada polisi.. tapi kulihat So Hee tak ingin aku melakukannya.. jadi.. enyah lah dari sini. Enyah lah dari kehidupan So Hee.. selamanya.”
Aku tertegun mendengar apa yang dikatakannya. Dia membelaku? Benarkah itu? dia membimbingku masuk kedalam mobilnya. Sayup-sayup aku mendengar orang itu berteriak yang kutau di tujukan padaku.
“YA..!! KAU LUPA EOMMAMU MASIH ADA DI TANGANKU.. KITA LIHAT.. APA YANG BISA KULAKUKAN PADA EOMMA DAN ADIK TERSAYANGMU..”
Degg.. apa yang akan dilakukannya pada eomma.. bagaimana jika dia menyakiti eomma, juga adikku.. aku tau appa ku itu tak main-main dengan ucapannya.
*
*
Kurasakan sepasang tangan hangat menyelimutiku. Kemudian memelukku hangat. Kyuhyun.
“tenanglah, semua akan baik-baik saja..” ucapnya menenangkanku.
“aku takut.. appa ku bukan orang yang suka main-main. Dia pasti serius dengan ucapannya. Dia akan menyakiti eomma.. bagaimana ini.. aku anak yang tak berguna.. bahkan aku tak lagi bisa melindungi eomma juga adikku..”
“tenanglah.. semua sudah ku atasi. Eomma mu baik-baik saja..”
“bagaimana bisa..”
“apa yang tak bisa kulakukan?” aku makin tak mengerti dengan perkataannya.
“dengarkan aku,, aku tau kau selalu merindukan eomma mu belakangan ini, iya kan? Maka dari itu aku mencari eomma mu. Dan kau tau? Eomma mu juga adik mu baik-baik saja. Dan mereka tak tinggal bersama appa mu lagi. dan aku menceritakan apa yang terjadi denganmu padanya, dia sangat bersyukur kau dalam keadaan baik-baik saja.”
“lalu dimana mereka sekarang..? bawa aku menemui mereka.. kumohon..”
“pasti. Tapi tidak sekarang..”
“kenapa?”
“orang itu,, mungkin dia kini sedang mengawasimu. Ini terlalu berbahaya. Terlebih untuk eomma dan adikmu. Bersabarlah.. jika aku tak bisa membawamu menemui mereka, akan kubawa mereka menemui mu..”
“jeongmal..?”
“ne..”
“kenapa kau baik sekali padaku…?”
“sudah kewajiban ku melindungimu. Semenjak aku membawamu kemari, aku merasakan bahwa aku harus melindungimu..”
“kau namja baik.. tak seharusnya aku membawamu kedalam masalahku..”
“itu sudah tugasku..”
“jika semuanya sudah berhasil.. maka kau tak perlu lagi menjagaku..”
“apa maksudmu?’
“bukankah appanim dan eommanim menjodohkan kita untuk melindungiku..?”
“kau sungguh-sungguh berfikir demikian? Asal kau tau So Hee, untuk apa aku menikah denganmu hanya untuk melindungi mu? Tanpa menikahpun aku masih bisa melindungimu.. aku menyanggupinya karena aku memang ingin menikah denganmu. Apa aku salah?” Aku diam menyimak setiap detail kata yang keluar dari bibirnya.
“mianhae..” sesalku telah mengatakan itu.
“sudahlah.. kita mulai ini dari awal lagi.. kita pikirkan bersama bagai mana langkah kedepan untuk bisa membawa eomma mu kemari. Tentunya tanpa sepengetahuan appamu.”
Aku tau Kyuhyun mencoba menenangkanku, tapi itu belum berhasil kurasa. Ketakutanku terhadap appa yang mungkin bisa menyakiti eomma masih membayangiku. Meski dia bilang eomma berada di tempat aman di bawah pengawasannya, tapi aku belum dapat tenang jika belum melihat eomma secara langsung.
“baiklah baiklah.. akan kubawa kau besok menemui eomma mu.. kau pasti tak mempercayaiku kan..?”
“benarkah?? Terimakasih banyak.. Kyuhyun-ssi… eh, mian..”
“istirahatlah.. besok akan menjadi hari yang panjang.. kau harus mempunyai tenaga yang banyak untuk menemui eomma mu..”
“mmmm… tentu..”
Dia kemudian menyelimuti ku dan.. ‘CHU~’ mencium keningku lembut. Perlakuannya padaku telah berhasil membuat wajaku terasa memanas. Dengan cepat ku tutupi sebagian wajahku dengan selimut tebal yang menutupiku, mencoba menyembunyikannya dari Kyuhyun yang kutau dia sedang menahan tawanya melihat tingkahku. Dia terlalu tau tentang diriku, dia bisa tau apa yang ada dipikiranku. Entah bagaimana caranya agar bisa menyembunyikan isi pikiranku darinya.
oOoOoOo
*
*
*
* To Be Continued...
GENRE: Angs
MAINCAST:
- Super Junior’s Kyuhyun a.k.a Cho Kyuhyun
- Author a.k.a So Hee
Desclaimer: Stori ini murni hasil kerja keras author. meski masih jauh dari kata SEMPURNA nya Demian, tapi author sebisa mungkin menyempurnakannya sesuai dengan hukum bacaan Bahasa Indonesia yang berlaku. Tapi manusia memang tempat salah dan Khilaf, jadi mohon dimaafkan apabila masih ada kata atau kalimat yang kurang mengenakkan atau membuat para pembaca sekalian pusing. terimakasih.. ^^
happy reading yeorobun....^^
*
Tetes demi tetes, perlahan air hujan riuh membasahi dataran luas di luar sana. Semua turun bagai sang awan menumpahkannya tanpa tersisa di pelataran langit sana. Langit menghitam bagai tak ada lagi putih di muka bumi ini. Semua gelap, semakin gelap dan lebih gelap lagi.
Aku yang menyaksikan kejadian itu hanya mampu menatap nanar dari balik jendela yang berembun. enggan rasanya meninggalkan tempat ini barang sedikit pun. Aku tak mengerti dengan apa yang terjadi. perlahan tubuhku terasa dingin dan kaku. Perasaan sakit di dadaku bagai menusuk bertubi-tubi, bayangan masa lalu mulai menghantuiku lagi. tanganku gemetar,, kedinginan? Atau ketakutan?
Tubuhku terasa dihujani bunga Es. Dingin, menggigil,, bibirku tak henti-hentinya meracau tanpa adanya kendali dari kerja otakku.
“eomma.. eomma… eomma… eomma.. eomma….”
Aku seperti orang yang tak waras, meracau tak karuan. Aku tak menghendaki ini. Bayangan itu, selalu menghantui pikiranku,, menakuti hatiku,, meresahkanku, dan mengingatkanku pada kenyataan pahit, bahwa aku telah dibuang dan tak diinginkan lagi.
Ketika itu..
Usiaku baru menginjak 11 tahun. Aku hidup dan besar di lingkungan keluarga berekonomi rendah. Ayahku hanya seorang pekerja serabutan dan juga seorang pemabuk. Ibuku hanya seorang ibu rumah tangga biasa yang harus mengurusi aku dan adikku di rumah kumuh yang jauh dari kata layak, aku harus berbagi dengan adikku dalam segala hal. Juga harus merelakan kasih sayang berlebih dari eomma karena adikku mengidap penyakit paru-paru di usianya yang baru empat tahun.
Mau tak mau, suka tak suka aku harus bisa menggantikan eomma mengurusi rumah. Berbenah, memasak, mencuci bahkan aku harus bisa membagi waktu sekolahku dengan bekerja mencari tambahan dana untukku bisa bersekolah, karena ayahku tak pernah memberiku uang saku bahkan uang sekolah pun tak pernah ia berikan. Bahkan dengan teganya aku diperintahkan untuk putus sekolah..
“daripada uang yang kau hasilkan itu untuk sesuatu yang tak berguna.. lebih baik uangnya berikan padaku..” katanya tak karuan. Mengingat alkohol kini telah merajalela menguasai kesadarannya.
“shireoo appa.. aku bekerja untuk sekolahku..” tentangku sok berani.
“MWOYA..??” bentaknya tak terima. Dia menarik kerah bajuku meski memerlukan usaha besar untuk melakukannya. Dia menarikku paksa sampai dapat ku cium bau menyengat dari bibirnya.
“aku ingin sekolah appa.. aku tak ingin masa depanku hancur. Aku ingin memperbaiki masa depan keluarga kita. aku tak mau dianggap remeh lagi oleh orang lain.. cukup sekarang aku harus seperti ini. Aku masih mempunyai cita-cita yang ingin kuraih..” belaku, meski ku tau itu sia-sia.
“lihat dirimu.. kau masih bocah, sudah berani melawan orang tua.. YA!!! Aku appa mu..!! hormati aku..!!” bentaknya sembari mengguncang tubuhku kasar. Dia tak menyadari bahwa aku ini seorang anak perempuan.
“di hormati?? Untuk apa aku menghormati orang yang tak bisa menghormati dirinya sendiri..!!!”
“jaga bicaramu…. Nona sok pintar.. PLAKKK..” tangan kekar itu berhasil mendarat di wajahku sampai aku tersungkur di lantai.
“YA.!!apa yang kamu senangi chagi..??
"APA YANG KAU LAKUKAN..”
eomma yang kemudian menghampiriku tampak tak terima melihat perlakuan appa yang ringan tangan terhadapku. Aku tau appa dibawah pengaruh alcohol,, tapi ini keterlaluan.. dulu sebelum dia terkena PHK karena bankrutnya perusahaan tempat appa bekerja sebelumnya, tak pernah sekalipun dia memukulku, bahkan hanya berkata kasar padaku pun tak pernah dia lakukan. Tapi mengapa appa berubah seperti itu?? itu gara-gara alcohol terkutuk itu..
“dengarkan aku anak sok pintar.. hidupku adalah milikku.. jadi kau tak pantas mencampuri urusanku. Kau cukup menuruti apa yang ku perintahkan tanpa sekalipun membantahku.. camkan itu baik-baik..” Tandasnya langsung berjalan sempoyongan ke kamarnya.
Demi apapun aku membencinya. Entah setan apa yang membuat appa menjadi seperti itu. benar-benar membuatku jengkel. Ingin aku pergi meninggalkan rumah ini jika aku tak mengingat eomma dan adik semata wayangku.
“sayang, maaf kan appa mu.. saat ini dia sedang mabuk.. dia tak benar-benar membencimu.. ne..” aku hanya mengangguk lemas dan menangis dipelukan eomma. Pernah sekali aku berfikir, mengapa tuhan memberiku seorang ayah yang seperti ini.. tapi siapa aku? aku tak bisa menentang kuasa-Nya.
“apa sakit..?” Tanya eomma khawatir sambil mengusap ujung bibirku yang sedikit terluka akibat pukulan keras appa.
“ani eomma..” jawabku berusaha menenangkan eomma agar tidak khawatir lagi. belaian tangan hangat eomma bagaikan obat yang paling mujarab bagiku. Hanya dengan tangannya lah semua kesakitan dan bebanku terasa ringan. Kuraih tangan yang sedari tadi mengusap lembut ujung bibirku, ku ciumi mereka, berdoa agar tangan-tangan ini tak pernah hilang dariku.
“aku tak akan merasa sakit, jika eomma selalu bersamaku. Bembelaiku seperti ini, memberikan pelukan hangat mu, tak peduli sekeras apapun appa menyakitiku, aku akan bertahan demi eomma. Eomma adalah segalanya bagiku, kebahagiaan eomma, adalah kebahagiaan terbesar untukku. Aku akan berjuang keras untuk eomma. Apapun akan ku lakukan demi eomma dan adik. Kumohon,, eomma bertahan bersamaku..” buliran bening lolos keluar dari mata sayu milik eomma. Dia tersenyum padaku. Kubalas senyumannya, ku hapun air matanya, dan dia pun memelukku erat.
Kata-kata yang ku ucapkan pada eomma mungkin tterdengar tak sesuai dengan usiaku. Tapi itulah harapanku. Aku berharap semoga eomma selalu diberikan kesehatan, kekuatan dan kelapangan hati agar eomma bisa bertahan dalam kemelut keluarga ini, mengingat banyak anak seusiaku di luar sana yang senasib denganku harus menanggung beban serupa sendirian, menghadapi appa yang kejam tanpa dukungan sang eomma di sisi mereka karena tak sanggup menghadapi suami yang demikian. Lain halnya dengan eommaku, yang rela menghadapi ini semua demi anak-anaknya.
Hari berganti. Rasa takut melandaku saat ini. Takut pada appa yang besar kemungkinan bisa kasar seperti kemarin. Ini yang membuatku gentar menghadapi appa. Sebisa mungkin aku menghindar bertemu dengannya. Namun rumah kecil kami terasa lebih sempit ketika mau tak mau aku berhadapan dengan appa. Dia menatapku tajam seolah ingin menerkamku hidup-hidup. Matanya yang merah menambah ketakutanku.
Namun apa yang ada dipikiranku salah. Dia mendekatiku yang tertunduk ketakutan tanpa bisa melangkah mundur. Dia meraih daguku yang bergetar karena deritan gigiku akibat ketakutanku. Dia menyentuh pipi kiriku yang dipukulnya dan masih meninggalkan bekas memar dan noda darah yang mengering. Appa menyentuh lukaku, menatapku dengan tatapan seolah dia merasa bersalah.
“inikah yang kulakukan terhadap putriku..?” Tanya nya dengan nada sendu yang sukses membuat ku tercengang.
“appa..” jawabku ragu. Dan tanpa diduga dia menarikku kedalam dekapannya.
“maafkan appa chagi.. appa khilaf, appa gelap mata padamu.. tak seharusnya appa melakukan hal itu padamu.. maafkan appa ..ini semua gara-gara minuman yang terus di sogokkan kepadaku..”
Aku terkejut mendengar appa mengatakan itu padaku. Namun sejujurnya hatiku bagai melayang saat ini. Aku merasa sangat bahagia appa mengatakan itu. namun aku juga ragu, apa ini hanya ucapannya semata, apakah appa akan kembali menjadi appa yang seperti kemarin,,
“apa yang harus appa lakukan untuk menebus semua yang appa lakukan padamu..??”
“hentikan kebiasaan minum appa.. bisakah?”
“mwo? Minum..”
“ne.. jika appa bersungguh-sungguh ingin menebus apa yang telah kau lakukan,, berhenti lah minum.. dan hiduplah dengan baik, seperti appa yang dulu..”
“baiklah.. demi kau.. appa akan lakukan..”
“jeongmal..?”
“ne.. percayalah pada appa..”
“tentu..”
Pada awanya aku memang tak mempercayai apa yang dikatakan appa, mengingat apa yang sudah terjdi belakangan ini sangat jauh dari kata “dapat dimaklumi” dan tak mungkin appa bisa berubah dalam waktu singkat. Tapi aku mencoba mempercayainya, dan berharap semoga appa memang bersungguh-sungguh ingin merubah kebiasaan buruknya.
Satu minggu, dua minggu bahkan sampai satu bulan.. appa mampu membuktikan bahwa dirinya memang sudah berubah,. Kebiasaan minum-minumnya sudah tak pernah lagi dia lakukan. Pulang bekerja tepat waktu, tak pernah marah-marah bahkan memukulku lagi, dan kini appa sudah menunaikan kewajibannya sebagai kepala keluarga dengan selalu membiayai setiap keperluan kami.
Masuk bulan ke dua setelah pengucapan sumpah appa tentang merubah kebiasaannya masih bisa dia lakukan. Dan itu cukup menunjukkan padaku dan eomma bahwa harapan appa untuk bisa berubah menjadi lebih baik itu sudah di depan mata dan benar-benar appa melaksanakan janjinya pada kami. Namun harapan itu sirna setelah memasuki minggu ke tiga di bulan kedua, appa kedapatan sedang minum-minum bersama teman-temannya di sebuah kedai. Saat itu aku dan juga eomma beserta adik ku baru selesai mengunjungi teman eomma yang sedang sakit, tanpa sengaja aku dan juga eomma melihat appa di bopong temannya yang juga sama-sama terpengaruh oleh alcohol keluar dari kedai itu sambil bernyanyi tak karuan.
Aku terlebih eomma jelas tak menyangka appa akan seperti ini lagi. kami berfikir bahwa appa memang sungguh-sungguh akan merubah kebiasaannya. Tapi nyatanya tidak. Eomma sudah bicara pada appa mengenai ini. Tapi apa yang di dapatkannya jauh dari harapan. Bukan jawaban pasti yang eomma terima, tapi bentakan yang diterimanya.
“apa yang kau lakukan semalam..?”
“apa? Aku tak melakukan apapun..”
“kau mabuk lagi..”
“tidak.. aku hanya minum sedikit..”
“kau fikir aku bodoh?? Aku melihat dengan mata kepalaku sendiri,, kau keluar dari kedai itu dengan minuman di tanganmu dan berjalan sempoyongan..”
“mianhae,, aku tak sengaja.. temanku yang menghasutku..”
“teman..?? kau pikir aku percaya..?”
“lalu apa yang harus ku katakan?” bentak appa tiba-tiba. “baik.. semalam aku memang mabuk.. aku bosan hidup seperti ini kau tau..?? aku bosan terus terlibat dalam masalah yang tak ada ujungnya ini.. kau puas..”
Aku yang memang sedang mengasuh adikku hanya diam mematung mendengar pertengkaran appa dan eomma.. adikku mungkin belum mengerti tentang situasi yang terjadi.. terkadang aku berfikir betapa beruntungnya dia tidak mengerti tentang ini. Berbeda denganku, belum cukup waktuku untuk memahami kaadaan keluarga yang bisa kukatakan kacau ini.. namun aku dituntut untuk bisa memahami dan mengerti tentang ini semua, meski aku tak ingin.
Setiap hari, kelakuan appa semakin sulit di tebak. Terkadang dia kasar, terkadang dia baik dan lembut. Terkadang dia murah hati, namun tak jarang appa juga mengambil jerih payahku dan jerih payah eomma yang sudah susah payah kami tabung untuk mengobati penyakit adik yang membutuhkan biaya yang tak sedikit. Tapi appa sama sekali tak berfikir sampai sejauh itu. dia lebih memilih bersenang-senang dengan teman minumnya dibanding berkumpul dan memikirkan bagaimana menyelesaikan semua masalah yang ada. Bahkan tak jarang appa selalu pulang larut malam dan tak pulang selama beberapa hari.
Aku dan eomma tak perduli lagi dengan appa. Masa bodoh apa yang akan dilakukannya. Yang terpenting sekarang adalah bagaimana aku mengumpulkan biaya untuk sekolahku dan juga pengobatan adik. Aku tak mau eomma terus menanggung semua ini sendirian. Meski aku tak bisa berbuat banyak, tapi setidaknya aku bisa sedikit membantu eomma saat ini.
Dengan kerja kerasku dan juga eomma selama hampir dua tahun ini, sedikit demi sedikit masalah dapat teratasi. Meski tanpa appa yang membantu, tapi kami bisa membuktikan bahwa satu orang dewasa dan satu orang anak kecil yang berusaha keras jauh lebih baik daripada seorang dewasa pemabuk bersatu dengan dua orang wanita pekerja keras. Adik ku kini sudah membaik keadaannya, menurut dokter dia sudah hampir sembuh total. Hanya tinggal menunggu pemulihan. Dan itu berarti biaya pengobatan pun akan sedikit berkurang dan bisa digunakan untuk memenuhu kebutuhan yang lain.
“So Hee sayang,, adik mu kini sudah hampir sembuh, dan itu berarti akan sedikit meringankan biaya untuk pengobatannya, dan itu berarti juga, bisa digunakan untuk menutuopi biaya sekolahmu..”
“tidak eomma.. sebaiknya eomma gunakan saja untuk keperluan yang lain.. untuk sekolah, aku sudah mempunyai tabunganku sendiri..”
“tapi..”
“sudahlah eomma.. eomma simpan saja.. mungkin nanti bisa digunakan untuk keperluan mendesak..”
“kau memang anak yang baik So Hee.. eomma menyayangimu..” katanya lembut seraya mengusap lembut rambut yang sengaja ku gerai bebas.
Ya,, beginilah kami sekarang. Meski tanpa appa yang membantu, tapi kami bisa membuktikan bahwa kami mampu. Appa memang selalu ada bersama kami, tapi dia tak sekalipun membantu kami, bahkan hanya membantu untuk berfikirpun tak pernah. Appa hanya pulang untuk makan dan tidur saja.
oOoOoOo
Hari ini kelabu,, begitu juga suasana di rumah kecil yang kami tiggali di pemukiman sederhana ini. Entah apa yang terjadi, mendadak semua kaku. Aku sendiri tak mengerti dengan apa yang terjadi. perasaanku hari ini sangat tidak enak.
“sepertinya akan ada hujan lebat..” racauku.
“so Hee..” panggil seseorang yang aku tak ingin temui sebenarnya.
“ne appa..” meski malas,, lebih baik aku menjawab. Takut-takut amarahnya meledak kembali.
“kau.. temani appa keluar sebentar..”
“mwo?? Apa yang akan kau lakukan pada So Hee..?” Tanya eomma tiba-tiba, tak percaya dengan yang di dengarnya.
Aku hanya diam tak membuka suara sedikitpun. Aku hanya menurut pada yang menang di antara dua dewasa yang berdebat. Aku berharap semoga eomma yang memengangkan perdebatan, tapi rupanya salah. Ucapan eomma kalah dengan gerakan kaki appa yang tiba-tiba melangkah menarikku keluar saat eomma belum selesai bicara.
Tak percaya dengan apa yang terjadi, ternyata appa membawaku ke kedai tempat biasa dia minum-minum bersama teman-temannya. Dan yang lebih parah lagi, kini appa sudah berani bermain judi bersama mereka semua. Aku mulai merasa cemas dengan ini semua. Aku menatap sekeliling kedai, tampaknya tak ada seorang pun yang tidak berada dibawah pengaruh alcohol.
Dan yang lebih membuatku terpukul tak percaya adalah, bahwa appa tega menjadikanku, puterinya sebagai taruhan karena appa nyatanya selalu kalah telak. Aku benar-benar membenci appa, sungguh membencinya. Appa mana yang tega menjadikan puterinya sebagai taruhan?? Hanya dia, appa ku.
Kalah, appa ku kalah taruhan.. dan dia meninggalkan ku disini, bersama para pemabuk yang entah apa yang ada di pikirannya. Aku mengejar appa, menarik tangannya supaya dia tak meninggalkanku sendiri di tengah hujan besar bersama pria-pria mesum yang entah apa yang akan dilakukannya padaku.
“appa… jangan tinggalkan aku.. jebal..” rengekku berharap dia berbalik dan membawaku pulang.
“appa… kumohon.. jangan tinggalkan aku.. appa…” aku terus menarik lengannya. Namun kekuatan seorang anak 15 tahun denagn pria 41 tahun jelas berbeda jauh. Dia menghempaskanku begitu saja ditengah hujan lebat tanpa sekali pun menoleh kebelakang.
“appa…..” tangis kesakitan hatiku pecah seketika.
Betapa teganya appa padaku.. dia menjualku hanya demi permainan yang justru merugikan dirinya sendiri. Aku dikejutkan dengan dua pasang tangan kekar yang menarik paksa diriku. ketakutanku membuncah seketika. Belum hilang rasa sakitku karena appa meninggalkanku , kini aku dihadapkan dengan dua pria yang entah apa maksudnya menarikku dengan paksa.
“apa yang ingin kau lakukan.. lepaskan aku..” pintaku meronta mencoba melepaskan diri dari tangan-tangan mereka.
“kau sekarang sudah milik kami So Hee sayang.. jadi kami bebas melakukan apapun yang kami inginkan..”
“shireoo.. lepaskan… lepaskan..”
“sudah.. diam.. ikut saja bersamaku..”
“shireo.. lepaskan..”
Aku terus meronta agar bisa terlepas dari mereka.. menggigit tangan mereka sudah kulakukan sampai aku terbebas dari mereka, aku berusaha lari sekuat tenaga meski petir menyambar dari atas sana. Namun langkah kaki mereka dua kali lebih cepat dari langkah kakiku.. aku diseretnya untuk megikuti mereka.. tentu aku menolak dengan sekuat tenaga sampai mereka merasa jengkel padaku dan memukulku hingga aku hampir pingsan. Namun aku berusaha keras untuk tetap terjaga meski rasa sakit di pundakku begitu berdenyut. Mereka terus menarikku dan memaksaku. Aku masih tetap menolak, sampai aku melihat seseorang berjas putih menolongku dari mereka dan dia menghampiriku..
“gwaenchanha-yo..?” namun semuanya terasa berat,, kemudian gelap..
oOoOoOoOo
Sinar temaram lampu begitu terasa menyolok mataku. Memaksa mereka untuk segera terjaga dan bangun kepada dunia nyata. Hangat,, itu yang sekarang kurasakan. Dan baru kusadari aku berada di sebuah ruangan seperti kamar tidur, namun terlihat begitu mewah dan elegant.
Seorang pria dewasa sedang duduk memperhatikan ku dengan seorang wanita dibelakangnya. Aku ingat, dia pria berjas putih itu, yang menolongku kemarin.
“kau sudah bangun..?”
“dimana aku..?”
“kau aman dirumahku..”
“ahh.. kau yang menyelamatkan ku tuan. Gamsahahamnida..” lanjutku berusaha beranjak bangun. Tapi ngilu di sekitar pundakku masih terasa sangat perih..
“gwaenchanha-yo..?” tanyanya tampak khawatir. Dia memgangi pundakku yang semakin disentuh semakin terasa ngilu.
“aaarrrrrhh….” Ringisku memegangi pundak sebelah kiri.
“ah.. mianhae.. “ lanjutnya kemudian melepaskan tangannya dariku. “sepertinya cideramu sangat serius.. biar kupanggilkan dokter..”
“tidak perlu tuan..” tapi sepertinya dia tak mendengarkan ku.
Dokterpun datang dan memeriksaku. Dia mengatakan cidera ku memang bisa di katergorikan cukup serius. Akibat hantaman benda berat yang dilayangkan pria pemabuk itu, aku harus menderita sakit yang luar biasa.
“nona…??”
“So Hee.. namaku So Hee..”
“iya, nona So Hee, kau harus istirahat penuh untuk memulihkan kondisimu. Cideramu cukup serius. Dan jangan memaksakan diri untuk mengangkat beban yang berat..” tutur dokter itu.
“aku harus pulang..”
“sebaiknya kau tinggal disini.. sepertinya kau bermasalah dengan pria yang meninggalkanmu kemarin..” jawab seorang wanita yang kupikir dia adalah nyonya di rumah ini.
Sejenak aku terdiam mengingat kejadian semalam. Hatiku tersayat manakala mengingat bahwa appa sudah membuangku. Entah apa yang harus kulakukan sekarang.. aku hanya bocah 15 tahun yang di buang appanya sendiri. Tapi aku tak bisa disini.
“jadilah anak perempuanku.. kau lebih aman disini..”
Disinilah aku mulai sekarang, memulai kehidupan baruku dirumah ini. Aku hidup sangat nyaman disini, semua keluarga disini baik padaku. Cho ahjussi, Cho ahjumma, dan anak mereka, Cho Kyuhyun juga baik padaku. Meski dia terkadang dingin, tapi dia sama sekali tak pernah berbuat jahat padaku. Aku dan dia hanya berselusuh usia 3 tahun. Sehingga tak sulit untukku bisa beradaptasi dengannya.
Disini aku diajarkan banyak hal. Cho Ahjumma juga mendatangkan seorang guru untuk membantuku belajar. Aku sangat senang karena kini aku tak perlu memikirkan pekerjaan apa yang aku harus lakukan untuk dapat terus sekolah. Hanya 1 yang kupikirkan sekarang, bagaimana kehidupan eomma dan adik..??
Pikiran akan eomma yang terus menghantui setiap hariku. Pikiran tentang eomma yang terus mencemaskan ku. namun aku hanya bisa memendamnya sendiri. Aku tak bisa mengatakan apapun pada keluarga Cho ini. Mereka sudah terlalu banyak membantuku disini.. aku tak ingin menyusahkan mereka..
Bulan berganti tahun.. entah sudah berapa lama aku tinggal dengan keluarga ini. Aku tak terlalu memikirkannya. Yang selalu ku pikirkan adalah belajar dan belajar agar kelak ketika aku bertemu dengan eomma.. aku bisa munjukkan bahwa impian kita selama ini tercapai.
“so Hee.. bisakah kita bicara..” Tanya Cho ahjumma dan Cho ahjussi.
“ne..”
“begini.. kau sudah berumur 22 tahun sekarang, dan kau sudah harus tau dunia luar..”
“ma.. maksud anda..?”
“kami tidak bisa menyembunyikanmu terus menerus so Hee..” aku menyimak baik-baik apa yang dikatakan mereka.
“tapi aku nyaman seperti ini..”
“tidak.. itu tidak baik untukmu.. kau gadis pintar,, sangat disayangkan jika kau hanya menjadi gadis rumahan biasa.. jadi kami memutuskan…” kalimatnya menggantung tiba-tiba. Aku tak mengerti sesungguhnya apa yang direncanakan mereka..
“jadi kami memutuskan kau dan putera kami menikah saja..”
“m..mwo..??” jelas aku terkejut mendengarnya. Lelucon macam apa ini..
“ini demi kebaikan mu So Hee.. kau akan aman jika menikah..”
“aman? Mereka sudah tak mengejarku lagi.. mungkin mereka sudah melupakan ku dan tak lagi mengenaliku..”
“siapa yang tau apa yang akan terjadi. kami hanya mengkhawatirkanmu.. dan kami juga sangat merasa perlu untuk melindungi mu setelah Kyuhyun membawamu ke rumah ini dan menceritakan apa yang dilihatnya malam itu.”
Jadi.. yang membawaku, dan menolongku itu,, Kyuhyun?? Dan bukan Cho Ahjussi..?
“jadi.. kumohon.. menikahlah dengan puteraku.. bukan hanya demi kau So Hee.. tapi juga karena aku berfikir, kamu lah yang lebih pantas bersamanya..” aku tak mampu menjawab apapun pada mereka. ini membingungkan..
“diam berarti kau setuju.. kita tinggal memilih waktu yang tepat untuk melaksanakannya..?”
“mwo?? Apa anda tak bertanya pada Kyuhyun-ssi terlebih dahulu??”
“kami sudah berbicara dengannya jauh sebelum kami berbicara pasamu..” Mwo? Apa yang dikatakan ahjumma? Sudah berbicara dengannya terlebih dahulu,, kenapa jadi seperti ini..
Dan ucapan mereka bukan hanya isapan jempol belaka. Mereka sungguh-sungguh sudah merencanakan semua ini dengan matang. Tak membutuhkan waktu lama, mereka memutuskan untuk menikahkan ku dan puteranya. Hanya berselang beberapa minggu dari pembicaraan mereka denganku. Dan baru kusadari, mereka, keluarga Cho telah mempersiapkan ini semua sebelum aku mendengar mereka bicara denganku.
Setelah acara pernikahan di gelar lantas keluarga ini memperkenalkanku sebagai anggota baru mereka. Cho Ahjumma dan Cho ahjussi yang sekarang harus kubiasakan memanggilnya eomma dan appa tak menyembunyikan apapun tentang diriku pada teman-temannya. Aku berfikir apakah ini tak berdampak buruk bagi mereka?
“tenanglah.. ini sudah dipikirkan dengan matang..” sergah Kyuhyun yang seolah tau isi pikiranku. Dan itu pula lah yang membuat ku sedikit.. kagum. Dan dia melontarkan senyumnya yang entah mengapa terlihat sangat,, manis.
Jauh dari dugaanku saat itu, yang berfikir citra keluarga ini akan hancur karena aku, ternyata semua baik-baik saja. Tak ada satu pun yang berkata buruk tentang keluarga ini. Ini aku ketahui dari beberapa staff yang bekerja di kator appanim.. mereka mengatakan
“semua baik-baik saja nona..”
Lega.. aku sangat lega. Dan aku juga sangat bersyukur tuhan berlaku adil pada keluarga ini yang sangat baik padaku dengan terus memberikan berjuta kebaikan pada mereka.
oOoOoOoOo
hari ini aku memutuskan untuk berjalan-jalan di taman kota. Sedangkan Kyuhyun sedang sibuk dikantor. Kami memang jarang memiliki waktu untuk sekedar berjalan bersama begitupun di rumah. Dia memperlakukanku layanknya seorang suami terhadap istrinya. Namun aku sendiri belum bisa melakukan hal yang sama terhadapnya. Bahkan ketika dia menyentuh lenganku pun aku begitu merasakan ketakutan yang luar biasa. Bayangan kelam itu terus menghantuiku. Beruntung Kyuhyun begitu memahamiku dan dia pun tak pernah menuntutku lebih.
Aku berjalan tak tentu arah. Hanya mengikuti kemanapun kaki ku ini ingin melangkah. Merasakan indahnya hari dan segarnya udara meski awan hitam di atas kepalaku mulai berkumpul. Rasa pegal dikakiku memaksakanku untuk berhenti sejenak dan duduk di sebuah bangku kayu. Tak lama ku istirahatkan kaki ku, tiba-tiba kulihat sepasang kaki jenjang berdiri di samping kananku dan menjulurkan sebotol minuman padaku. Dan hal itu membuatku lebih terkejut ketika kudapati dia adalah Kyuhyun.
“mengapa kau tak menghubungiku jika kau membutuhkan teman berjalan.. kau tau? Berjalan sendirian di taman itu membosankan..”
“gamsahamnida.. aku khawatir mengganggu pekerjaan mu, Kyuhyun-ssi. Jadi kuputuskan berjalan sendiri.” Jawabku sembari mengambil apa yang disodorkannya padaku. Dan Kyuhyun pun duduk bersamaku. Ini aneh. Baru kali ini aku dapat duduk hanya berdua saja bersamanya. Mengapa jadi sesak? Dan apa ada yang salah dengan kinerja jantungku? Kenapa lambat laun detakannya semakin cepat??
“apa kau sakit?”
“ne?”
“kau tampak sedikit.. pucat..”
“animnida.. Kyuhyun-ssi..”
Beginilah aku bahkan terhadap suamiku sendiri. Kaku, dan Formal. Aku terbiasa seperti ini sejak pertama aku masuk kedalam keluarga Cho. Dan ini berlanjut hingga sekarang.
“sampai kapan kau akan berbicara formal padaku, So Hee?”
“mianhamnida jika itu mengganggu mu.. tapi aku sudah terbiasa bicara seperti ini..”
“ssshhhh.. bagai mana ini.. istriku sediri kaku di hadapanku. Apa yang harus kulakukan..?? Ya! So Hee.. bisakah kau tak bersikap formal padaku?” dia mendekatkan wajahnya padaku hingga sejajar. Dan baru ku sadari dia memiliki manik mata yang indah dan cemerlang.
“a.. aku … tak bisa..”
“ku ajarkan,, bagaimana..” dia masih berada di posisinya.
“mwo?”
“dimulai dari kau jangan memanggilku Kyuhyun-ssi lagi, tapi cukup panggil aku Kyuhyun saja. Otte..?”
“mianhamnida Kyuhyun-ssi.. tapi aku tak bisa melakukan itu..”
“atau kau panggil aku oppa..” MWO? Apa katanya barusan? Oppa..?
“hei,, So Hee.. wajahmu jangan memerah begitu,, membuatku ingin memakanmu..”
Kupalingkan wajahku segera, mengindari tatapannya yang semakin membuat aku tak nyaman. Bertahun-tahun aku tinggal bersamanya, namun baru kali ini aku merasakan hal yang seaneh ini jika bersamanya.
“so hee..” sapaan itu menyapu lembut gendang telingaku. Kurasakan sesuatu yang hangat dan lembut menyentuh tanganku.
“bisakah kau bersikap biasa padaku..?” tanyanya serius.
“aku..”
“kumohon.. “ melihat ekspressinya yang tampak bersungguh-sungguih pun membuat rubuh pertahananku. Dan kuanggukkan kepalaku menjawab ucapannya.
“gumawo So Hee..” lanjutnya kemudian.
Dia menangkup sebelah pipiku, dan menyapukannya lembut. Terkejut atas perlakuannya jelas kualami. Perlakuannya padaku saat ini membuat ku teringat dengan eomma. Eomma selalu membelaiku penuh kasih saat aku membutuhkannya. Eomma selalu membelaiku saat aku butuh kekuatan besar untuk menghadapi appa. Namun sekarang tidak lagi. aku tak bisa merasakan hangatnya tangan eomma lagi.
“ya,, So Hee.. kau kenapa? Kenapa kau menangis..?”
“anioo, aku hanya.. hanya..”
Tanpa terduga Kyuhyun menarikku kedalam pelukannya. Terkejut? Jalas aku sangat terkejut. Namun sedetik kemudian rasa sesakku akan ingatan tentang eomma memudar berganti dengan perasaan nyaman untukku. Bayangan kelam yang selalu membuatku takut hilang dalam pelukannya. Entah apa yang dimiliki namja ini hingga dia bisa menghilangkan rasa takutku yang luarbisa.
“sudahlah.. sebaiknya kita pulang. Sepertinya akan turun hujan lebat sebentar lagi.”
“nde..”
Dia menarikku lembut meninggalkan taman indah itu. tangan hangatnya tak pernah lepas dariku.
“So Hee..” seseorang memanggilku dengan kasar.
Suara itu.. aku mengenalnya. Suara yang tak ingin ku dengar lagi selamanya. Tapi mengaopa disaat seperti ini dia muncul. Aku tak berani menjawabnya, bahkan untuk berbalik dan melihatnya. Namun tiba-tiba tanganku ditarik paksa dari arah belakang, memaksaku untuk berbalik walau aku tak mau.
“kau.. benar kau So Hee.. YA.. NAPPEUN.. KAU HANYA MEMBUAT MASALAH UNTUKKU” bentaknya.
“KAU YANG MENCIPTAKAN MASALAHMU SENDIRI. KAU MENYERAHKAN KU PADA ORANG-ORANG ITU.. KAU TAK TAU APA YANG KUALAMI SETELAH ITU..” meski aku ketakutan setengah mati berhadapan dengannya lagi, tapi kukumpulkan keberanianku untuk menghadapinya lagi. meski tanpa eomma dibelakangku.
“YA..!! PLAKK..” tangan itu mendarat dengan sempurna sama seperti beberapa tahun lalu.
“PUKUL AKU SAMPAI KAU MERASA PUAS…”
PLAAKK.. lagi, dia memukulku lagi. kini nafsu jahatnya mulai merasuki hatinya. Dia bukan appa yang kukenal lagi. dia berubah menjadi orang lain. aku tak mengenal pria di hadapanku ini. Kurasakan sebuah pecutan keras mendarat di tubuhku dan membuatku terduduk. Dia terus menerus menghujamkan nya padaku.
“YA.. HENTIKAN….”
“siapa kau..?? berani menghentikan ku memberi pelajaran anak kurangajar ini..”
“yeoja yang kau katakana kurangajar ini adalah istriku.. kau tau?”
“mwoo.. hahahaha.. kau begitu tampan dan terhormat.. tapi kenapa kau menikahi wanita yang bodoh seperti dia..”
“benar, dia memang bodoh.. bodoh karena masih mengharapkanmu kembali padanya.. aku tau apa yang kau lakukan padanya. aku saksi mata atas kejadian tujuh tahun lalu.”
“mwo?”
“kedai itu? pria-pria hidung belang itu? aku tau.. aku bisa saja melaporkanmu pada polisi.. tapi kulihat So Hee tak ingin aku melakukannya.. jadi.. enyah lah dari sini. Enyah lah dari kehidupan So Hee.. selamanya.”
Aku tertegun mendengar apa yang dikatakannya. Dia membelaku? Benarkah itu? dia membimbingku masuk kedalam mobilnya. Sayup-sayup aku mendengar orang itu berteriak yang kutau di tujukan padaku.
“YA..!! KAU LUPA EOMMAMU MASIH ADA DI TANGANKU.. KITA LIHAT.. APA YANG BISA KULAKUKAN PADA EOMMA DAN ADIK TERSAYANGMU..”
Degg.. apa yang akan dilakukannya pada eomma.. bagaimana jika dia menyakiti eomma, juga adikku.. aku tau appa ku itu tak main-main dengan ucapannya.
*
*
Kurasakan sepasang tangan hangat menyelimutiku. Kemudian memelukku hangat. Kyuhyun.
“tenanglah, semua akan baik-baik saja..” ucapnya menenangkanku.
“aku takut.. appa ku bukan orang yang suka main-main. Dia pasti serius dengan ucapannya. Dia akan menyakiti eomma.. bagaimana ini.. aku anak yang tak berguna.. bahkan aku tak lagi bisa melindungi eomma juga adikku..”
“tenanglah.. semua sudah ku atasi. Eomma mu baik-baik saja..”
“bagaimana bisa..”
“apa yang tak bisa kulakukan?” aku makin tak mengerti dengan perkataannya.
“dengarkan aku,, aku tau kau selalu merindukan eomma mu belakangan ini, iya kan? Maka dari itu aku mencari eomma mu. Dan kau tau? Eomma mu juga adik mu baik-baik saja. Dan mereka tak tinggal bersama appa mu lagi. dan aku menceritakan apa yang terjadi denganmu padanya, dia sangat bersyukur kau dalam keadaan baik-baik saja.”
“lalu dimana mereka sekarang..? bawa aku menemui mereka.. kumohon..”
“pasti. Tapi tidak sekarang..”
“kenapa?”
“orang itu,, mungkin dia kini sedang mengawasimu. Ini terlalu berbahaya. Terlebih untuk eomma dan adikmu. Bersabarlah.. jika aku tak bisa membawamu menemui mereka, akan kubawa mereka menemui mu..”
“jeongmal..?”
“ne..”
“kenapa kau baik sekali padaku…?”
“sudah kewajiban ku melindungimu. Semenjak aku membawamu kemari, aku merasakan bahwa aku harus melindungimu..”
“kau namja baik.. tak seharusnya aku membawamu kedalam masalahku..”
“itu sudah tugasku..”
“jika semuanya sudah berhasil.. maka kau tak perlu lagi menjagaku..”
“apa maksudmu?’
“bukankah appanim dan eommanim menjodohkan kita untuk melindungiku..?”
“kau sungguh-sungguh berfikir demikian? Asal kau tau So Hee, untuk apa aku menikah denganmu hanya untuk melindungi mu? Tanpa menikahpun aku masih bisa melindungimu.. aku menyanggupinya karena aku memang ingin menikah denganmu. Apa aku salah?” Aku diam menyimak setiap detail kata yang keluar dari bibirnya.
“mianhae..” sesalku telah mengatakan itu.
“sudahlah.. kita mulai ini dari awal lagi.. kita pikirkan bersama bagai mana langkah kedepan untuk bisa membawa eomma mu kemari. Tentunya tanpa sepengetahuan appamu.”
Aku tau Kyuhyun mencoba menenangkanku, tapi itu belum berhasil kurasa. Ketakutanku terhadap appa yang mungkin bisa menyakiti eomma masih membayangiku. Meski dia bilang eomma berada di tempat aman di bawah pengawasannya, tapi aku belum dapat tenang jika belum melihat eomma secara langsung.
“baiklah baiklah.. akan kubawa kau besok menemui eomma mu.. kau pasti tak mempercayaiku kan..?”
“benarkah?? Terimakasih banyak.. Kyuhyun-ssi… eh, mian..”
“istirahatlah.. besok akan menjadi hari yang panjang.. kau harus mempunyai tenaga yang banyak untuk menemui eomma mu..”
“mmmm… tentu..”
Dia kemudian menyelimuti ku dan.. ‘CHU~’ mencium keningku lembut. Perlakuannya padaku telah berhasil membuat wajaku terasa memanas. Dengan cepat ku tutupi sebagian wajahku dengan selimut tebal yang menutupiku, mencoba menyembunyikannya dari Kyuhyun yang kutau dia sedang menahan tawanya melihat tingkahku. Dia terlalu tau tentang diriku, dia bisa tau apa yang ada dipikiranku. Entah bagaimana caranya agar bisa menyembunyikan isi pikiranku darinya.
oOoOoOo
*
*
*
* To Be Continued...
Tidak ada komentar:
Posting Komentar