Kamis, 29 November 2012

Lirik lagu If You Have Heard

Pada tau kan acara Exceptionallu Unlike Another??? itu acara musik di Taipei yang menampilkan Super Junior M (SJM). n lagu favorit ku pas SJM Tampil itu lagu yang dibawain Kyuhyun sendiri yang judulnya "Ru Guo Ni Ye Ting Shuo (If You Have Heard)" milik A-Mei (Zhang Hui Mei)

asli enak lho lagunya... aku aja ampe terbawa esmossi... *halah apaan..

nih aku kasih liriknya..



A-Mei- Ru Guo Ni Ye Ting Shuo (If You Have Heard)


tu ran fa xian zhan le hao jiu
bu zhi dao yao wang na zou
hai bu xiang hui jia de wo
zai duo ren pei zhi hui geng ji mo
xu duo hua ti guan yu wo
jiu lian wo ye you ting guo
wo de kuai le yao bei ren ke
wei qu que mei you ren su shuo


ye ba xin yang cong ban bo luo
na diao fang wei sheng xia shen me
wei shen me cui ruo shi hou
xiang ni geng duo


ru guo ni ye ting shuo
you mei you xiang guo wo
xiang pu tong jiu peng you
hai shi ni yi ran hui xin teng wo
hao duo hao duo de hua xiang dui ni shuo
xuan zhe yi ke xin mei zhao luo
yao zen me fu he
she bu de you wu ke nai he


ruo guo ni ye ting shuo
hui bu hui xiang xin wo
dui liu yan hui fu he
hai shi ni zhi dao wo hai shi wo
die die zhuang zhuang cai ming bai le xu duo
deng wo de ren jiu ni yi ge
xiang dao ni xiang qi wo
xiong kou yi ran wen re


xu duo hua ti guan yu wo
jiu lian wo ye you ting guo
wo xiang wo ning ke dou chen mo
jie shi fan er xian de zuo zuo


..


ru guo ni xiang qi wo
ni hui xiang dao shen me


--

English Translations
Suddenly realized I've been standing for a long time
Don't know where to head to
I who still don't feel like going home
Will only feel lonelier when more people are keeping me company
A lot of topics concerning me
Even I heard of them myself
My happiness needs to be acknowledged
I feel wronged but I have nobody to tell to


The night peels my heart like an onion
What's left if the defense is taken away
Why is that when I am fragile
I think of you even more


If you have heard about it too
Have you ever thought of me
Like a normal old friend
Or do you still love me dearly
There's so so much I want to tell you
My heart is suspended without any place to settle
How am I to burden this
I can't bear to part, yet I have no other choice


If you have heard about it too
Will you believe me
Will you follow the rumors
Or will you still know that I am still myself
I finally understood so much after staggering all the way
You're the only one who waits for me
Thinking of you thinking of me
My chest is still feeling warm


A lot of topics concerning me
Even I heard of them myself
I think I rather be silence
Explaining would make me look artificial


..


If you thought of me
What will you think of?

*

*

*

penasaran lagunya kayak gimana?? silahkan kunjungi situs-situs download yang tersebar luas.. ^^

Memori SMA (MAN Purwakarta)













Selasa, 27 November 2012

KyoKyu Couples hanbok

 Kyo Kyu Couples.. (*^_^*)
Hanbok version.. muahahahahahahahaha...*kesedek netty

KyoKyu Couple.. (*^-^*)

just for fun..^^


murni editaditan,,, keliatan jelas kan???? *iya lahhh gila lo... #plakk..

Sabtu, 24 November 2012

FanFiction: My Wedding (2)


TITLE                     : “ MY WEDDING “ 2
AUTHOR               : Novarida Mardliatin
FACEBOOK ID      : Fhaa Wanay Min/Kim Elfrida MissEvilKyu
TWITTER ID         : @NovaRidaa
GENRE                   : Sad Romance, Happy Ending
LENGTH                 : TwoShoot
RATING                  : 17+
MAIN CAST         : Cast boleh pilih sendiri sesuai keinginan atau imajinasi anda. bisa Bias/idola kamu. Disini tentu author milih Kyu sebagai pasangan.. tapi kalian terserah mau siapa aja. 

Author a.k.a Kim Hyura /you (istri)
·         Cho Kyuhyun a.k.a Kyu/bias (suami)
·         Yang Mi Soon a.k.a Mi Soon/your friend
·         Ibu Mertua (oc) a.k.a Ibu
·         Wanita (oc)/whatever

DESCLAIMER      : ini story milik saya. Alur tentu terserah saya,, reader hanya boleh pilih cast aja.. hahaha… masih banyak typo dimana-mana. Jadi jangan kaget.. oh iya,, hampir lupa..(ah selalu), ini cerita tentang hubungan suami dan istri.. ya.. cerita tentang kehidupan rumah tangga gitu.. eriittss… tapi tenang.. FF ini BERSIH kok.. jadi kalem aja… hhee…. DILARANG KERAS UNTUK MENG-COPY PASTE FF INI TANPA IZIN DARI AUTHOR..*caps jebol

Mian kalo ceritanya masih agak GAJE.. hhhhaaa.. ^^v

Happy reading all……

*
 

*
 

*

Aku masih tak percaya, namja berpakaian Tuxedo putih itu kini telah resmi menjadi suamiku. Seorang namja yang telah mencuri hatiku sejak 2 tahun yang lalu, kini menjadi temanku menapaki setiap tahapan dalam hidupku nanti, berbagi suka dan berbagi duka. Setia untuk selamanya.

“chagiya,, apa kau bahagia?”
“tentu oppa.. aku sangat bahagia sekali.”
“terimakasih kau bersedia menjadi istriku.. kau tau, ketika kau mengatakan kau bersedia, aku sangat bahagiaa sekali..” senyumnya tak pernah lepas dari wajah tampannya. Sungguh wanita mana yang bisa menolak pria sebaik dia. Meski pada awalnya dia begitu menjengkelkan, tapi lambat laun dia berubah sangat manis.

“chagiya, kau mau kita memiliki anak berapa?” aku kaget mendengar dia bertanya seperti itu. tapi itu pertanyaan yang lumrah bagi sepasang pengantin baru.
“molla.. aku belum memikirkannya.. memangnya kenapa?” tanyaku penasaran.
“ani.. aku hanya bertanya saja.. tapi, apa kita tak mau merasakan indahnya berpacaran setelah menikah?” dia menatapku yang masih bingung. “maksudku, kita nikmati saja dulu masa-masa awal pernikahan kita tanpa adanya seorang anak..”
“kau tak mau memiliki anak dariku?”
“bukan begitu, hanya untuk beberapa bulan saja, kita nikmati dulu masa-masa kita berdua..”
“ibumu? Apa tak apa-apa?” dia hanya menggelengkan kepala.
“ibuku baik.. jadi tak akan masalah..”
“begitukah?”
“mmm..” dia hanya mengangguk dan mempererat pelukannya padaku.

****

Sudah hampir setahun kami menikah. Ibu mertuaku tentu bertanya-tanya kenapa tak ada tanda-tanda kehamilan pada diriku. aku mengerti apa yang dipikirkan ibu mertuaku itu. normalnya, setiap pasangan yang menikah, belum sampai 2 atau 3 bulan pasti sudah ada tanda-tanda berbadan dua. Tapi tidak denganku. Sampai kini tanda-tanda itu  belum juga ada pada diriku.

“maaf ibu, bukan aku belum bisa memberimu kabar bahagia..” lirihku dalam hati.

Seharusnya aku mengerti sejak awal.. karna sebelum menikah, aku sering berkonsultsi terhadap keluargaku jika sudah menikah dan hidup bersama sang mertua, meski aku dan Kyu tak tinggal serumah bersama mertuaku, tapi mertuaku baik dan selalu berkunjung ke rumah. Untuk apa lagi kalau bukan untuk mencari kabar baik dariku.

Semakin sering ibu mertuaku bertanya tentang kehamilan padaku, semakin sering pula aku mengelak. Meski ini keputusanku bersama Kyu, tapi aku merasa sakit ketika ibu mertuaku menanyai kehamilan padaku. Aku tau sebetulnya ibu mertuaku sudah bosan menanyaiku tentang hal itu.

“Hyura, kau belum juga hamil?” aku hanya menggeleng. “kau tak merasakan tanda-tanda lain? Seperti kau suka pusing, mual atau apa..?” aku menggeleng lagi. Ibu mertuaku tak bosan bertanya lagi “apa datang bulanmu teratur? Maksudku, Apa bulan ini kau terlambat datang bulan?” aku menggeleng lagi untuk kesekian kalinya. Bagaimana mungkin aku terlambat datang bulan, jika pada kenyataannya dua pekan lalu aku selesai datang bulan. Ibu mertuaku menarik nafas panjang.

“Hyura, bagai mana kalau kita kedokter?” aku merasa hatiku ditampar ibu mertuaku. Bagaimana mungkin ibu mertuaku menyarankan aku ke dokter? Apa dia mulai berfikir ada kelainan dalam diriku? apa dia pikir aku tak bisa memberinya cucu?
“ibu, kurasa tak perlu..”
“bagaimana mungkin itu tak perlu, sudah hampir satu tahun kalian menikah, tapi kau tak juga memberiku cucu..!!”  nada suara ibu mulai meninggi, mendengar itu hatiku terasa sakit. Bagaimana bisa ibu berfikir aku tak bisa memberikan keturunan.

“mungkin tuhan belum mempercayakannya padaku bu..” raut wajah ibu mertuaku seketika berubah. Wajah yang hangat kini terasa dingin bagiku. Dulu aku memutuskan untuk menundanya hanya beberapa bulan. Tapi setelah ibu selalu bertanya hal itu, aku dan suamiku memutuskan tak ingin lagi menundanya.

“baik, kalau sampai dua bulan kedepan kau belum hamil juga, ibu yang akan mencari jalan keluarnya. Dan kau tidak boleh menolak.” Mengapa ibu berkata begitu? Apa yang akan dilakukan ibu jika itu gagal..

Waktu terus berlalu. Sampai malam tiba dan Kyu pulang dari kerja.
“chagiya, kau kenapa? Kenapa matamu sembab? Kau menangis?” kutatap lekat wajahnya. Semburat kekhawatiran jelas tergambar dari wajah tampannya.

“aku..” kini aku tak bisa menahannya lagi. Dia memelukku erat. Dia paham betul, saat ini aku membutuhkan kekuatan besar untuk melewati ini.
“apa ibu-ku lagi..” aku mengangguk. Dia mempererat dekapannya.
“aku harus bagaimana..”
“sudah lah.. jalani saja. Kita sudah berusaha semampu kita. salahku kenapa kita memutuskan untuk menundanya. Dan sekarang, karena terlalu lama dibiarkan kosong, sehingga ada bagian dari dirimu yang  belum siap..”

aku tak berani mengatakan semuanya pada Kyu. Apalagi mengenai waktu yang ibu berikan. Jika aku mengatakannya, itu akan membuatnya semakin buruk. Pekerjaan sudah membuat pikirannya terkuras habis. Bagaimana jika ditambah masalah ku dengan ibu mertuaku. Aku tak bisa melihatnya.

Waktu terus berjalan. Perkataan ibu ketika itu seperti bom waktu yang suatu saat bisa meledak. Aku hanya bisa menunggu pasrah menerima kenyataan pahit yang akan ku alami nanti. Hal terpahit yang kemungkinan aku alami adalah berpisah dari Kyu, suamiku yang sangat kucintai. Aku tau pasti bahwa aku tak mungkin bisa berpisah darinya. Tapi itu konsekwensi terburuk yang mungkin harus aku alami.

Satu minggu, dua minggu.. sampai satu bulan.. aku belum mendapatkan tanda-tanda yang ibu maksud. Segala upaya telah aku lakukan. Dimulai pergi ke dokter, minum obat penyubur, sampai minum ramuan tradisional pun aku lakukan. Tapi tak ada hasilnya. Aku hanya sedikit merasakan perih di perutku. Ku pikir, itu hanya reaksi obat yang aku minum selama ini.

Sudah hampir dua bulan. Besok ibu mungkin akan mengeksekusiku karena aku gagal. Sampai saat ini pun aku belum bisa memberi kabar baik padanya.
“chagiya kenapa wajahmu ditekuk seperti itu?” dia melingkarkan tangannya di bahuku. Membuat lengannya terasa bantalan nyaman buatku.
“anni, aku hanya sedang berfikir,,” jawabku lemas.
“berfikir apa? Kau jangan terlalu berfikir yang berat-berat..” dia mengecup lembut puncak kepalaku.
Aku menatap dalam matanya. Mata itu mungkin tak akan aku lihat lagi setelah besok. Mungkin ini malam terakhirku bersama suamiku ini. Kupeluk dia erat, karna aku tau, akan sulit untuk bisa memeluknya setelah besok..

“sebenarnya kau ini kenapa?” tanyanya lagi. Tentu dia terkejut dengan perubahan sikapku. Aku hanya menggelengkan kepala saja. Yang aku inginkan sekarang adalah memeluk dia selama aku bisa, aku tak mau melepaskan pelukanku ini karena setelah aku membuka mataku besok, aku tak bisa memeluknya seperti ini lagi.

****

Hari ini tepat dua bulan. Aku menatap diriku sendiri dicermin. Lihat itu, betapa menyedihkannya diriku. aku harus siap menerima eksekusi mertuaku sekarang, ”Hyura, kau harus bisa menerima apapun yang akan meimpamu..” ucapku dalam hati.

“chagiya, kau kenapa lagi.. dari tadi sebelum aku mandi sampai sekarang, kau hanya memegangi perutmu..?”
“entahhlah oppa. Aku hanya sedikit merasa sakit diperutku saja. Mungkin karena aku belum datang bulan..”
“kau belum datang bulan? Aneh sekali.. aku baru menyadarinya.. “ dia hanya tersenyum.
Benar juga. Bulan ini dan bulan lalu juga tidak.. ah tak mungkin.. ini sudah sering aku alami. Dulu sebelum menikah aku juga pernah terlambat, bahkan sampai 3 bulan. Jadi tak mungkin jika.. ah tidak, Hyura, kau tak boleh seyakin itu..

Ting dong….. ting dong…

Deggg>> ibu, kuyakin itu dia. Tuhan… beri aku kekuatan untuk menghadapi ini. Kumohon..

“biar aku yang buka..” Kyu langsung menuju ruang depan. Mataku mulai berat. Rasanya kakiku tak mampu untuk melangkah menghadapi ini.
“chagiya… ibu datang..” teriak suamiku dari ruang depan. Kucoba menguatkan diri untuk menghadapi ibu.

Meski sulit, aku harus kuat. Ku langkahkan kaki ku menemui ibu.
“ibu..” aku memberi salam dan duduk disamping Kyu. Kulihat ibu datang bersama seorang wanita. Kuakui dia cantik, tapi untuk apa ibu datang bersamanya..
“sukurlah kau masih ada di rumah..”
“memangnya ada apa ibu pagi-pagi kemari?” Tanya Kyu heran.
“langsung saja. Sebelumnya ibu menemui istrimu..” wajah dingin itu.. aku tak bisa memandangnya. Kurasakan tangan hangat suamiku menggenggam erat tanganku yang gemetar dan mulai dingin.

“bagaimana Hyura, kau sudah memenuhi keinginanku..?” aku menggeleng.. entah sejak kapan pipiku mulai basah. Kyu menggenggam tanganku lebih erat lagi, bermaksud untuk menguatkanku.
“tepat dugaanku selama ini. Apa kau mau ikut ibu ke dokter?” aku tersentak mendengar permintaan ibu itu. dadaku terasa sesak, aku mulai tak bisa bernafas dengan baik lagi. aku menatap ibu tak percaya dia sungguh-sungguh mengatakan itu.
“ibu, apa maksud ibu?” tampaknya Kyu sudah mulai merasa ada yang aneh.
“istrimu tak mengatakannya padamu?” dia hanya menggeleng, dan ibu hanya tersenyum dingin. ”ibu memberinya kesempatan selama dua bulan ini. Tapi nyatanya dia tak bisa memanfaatkannya dengan baik.”
“kesempatan? Kesempatan apa?”
“Hyura, kau tak memberi tau suamimu?” aku hanya diam, tertunduk pasrah.
“Chagiya, coba kau ceritakan padaku..? apa ini berkaitan dengn perubahan sikapmu akhir-akhir ini..?” aku tidak bisa bicara sepatah katapun. Aku mencoba mengumpulkan kekuatan yang kupunya untuk ini.

“maaf, bukan aku tak mau memberi tahu mu, aku hanya tak mau membebanimu. Masalah pekerjaan sudah menguras pikiranmu. Aku tak mau menambahnya dengan masalahku..” aku menatapnya dalam.
“ini bukan hanya masalahmu. Tapi ini juga berkaitan dengan ku... harusnya kau mengatakan masalahmu padaku. Jangan kau simpan ini sendiri. Apa kau sudah tak menganggapku sebagai suamimu lagi?” Kyu bicara dengan meninggikan suaranya. Ku tahu, dia tak senang dengan ini.

“demi tuhan Kyu.. bukan itu maksudku.. aku..”
“sudah.. jadi bagaimana Hyura? Apa yang akan kau lakukan? ibu bisa saja memberimu pilihan.. kau mau tau apa itu?” aku mencoba menerka-narka pilihan apa yang akan ibu ajukan padaku. Sekilas aku berfikir, apa ada hubungannya dengan wanita disamping ibu?
“pilihan pertama, kau harus mau melakukan inseminasi.”
“apa?” suamiku terdengar kaget, sama kagetnya denganku.
“pilihan kedua, kau harus berbagi suami dengan wanita lain.” ibu menoleh sekilas ke arah wanita yang duduk disampingnya. aku tak bisa bernapas lagi,. aku tak bisa berpikir jernih saat ini. Ini sangat menyakitkan. Bagaimana bisa ibu memberi pilihan seperti ini.

“ibu, maksud ibu ini apa.. ibu pikir ini main-main..? inseminasi? Berbagi suami.. bu..ib..” nada suaranya yang meninggi harus terputus dengan sanggahan ibu yang tiba-tiba.
“kau tak mengerti ibu, kau anak ibu satu-satunya.. ibu sayang padamu. Ibu juga ingin seperti orang lain, yang dengan bangga membicarakan cucunya..”
“tapi ini konyol bu.. bagai mana bisa ibu mempertaruhkan pernikahan kami hanya demi memenuhi keinginan ibu untuk menimang seorang cucu? Tau kah ibu, ini menyakiti hati kami, terutama Hyura bu..”
“ibu hanya sayang padamu..”
“sayang..? ibu bilang sayang..? ini bukan sayang namanya.. ibu sangat egois..”
“lalu ibu harus bagaimana? Ibu harus melewati masa tua ibu tanpa adanya cucu yang menemani ibu? Begitu?”
“tidak begitu bu.. aku hanya minta ibu sedikit menunggu..”
“menunggu kau bilang..?? harus berapa lama lagi ibu menunggu..? ini sudah satu tahun pernikahanmu.. awalnya ibu mencoba menerima keterlambatan kehamilan istrimu.. tapi ini sudah terlalu lama..”
“bu..!!”
“cukup..!!! hentikan…” aku tak bisa melihat suami dan ibu mertuaku bertengkar hanya gara-gara aku.
“baik.. ibu beri kau waktu sampai besok untuk berfikir. Kalau kau tak bisa memutuskan ini, berarti kau harus pergi dari sini, TINGGALKAN ANAKKU…”

Perkataan ibu barusan menusuk tepat ke ulu hatiku. Rasanya sakit sekali. Bagaimana tega ibu melakukan ini padaku. Dulu dia sangat menyayangiku.. kini tidak lagi. Apa yang harus aku lakukan..? suamiku sama buruknya sepertiku. Dia tak berkata apapun setelah itu. dia hanya berdiri mematung menatap sinis pada ibunya sendiri.

****

“oppa,,” aku mencoba bicara dengannya malam ini.
“waeyo chagiya..?” kulihat dia tapak muram. Tapi dia mencoba biasa dan tetap menyunggingkan senyum manisnya padaku.
“aku minta maaf karena tak mengatakan semuanya padamu. Aku hanya..” belum sempat aku menyelesaikan apa yang ingin kukatakan, kalimatku terputus atas ucapannya.
“tidak apa-apa.. aku mengerti..” Kyu menangkup pipi kiriku  tersenyum manis dan kembali muram.
“eummhh,, oppa, tentang tadi siang, aku.. aku berfikir kalau, mungkin ibu ada benarnya.”
“sudahlah, jangan bahas masalah itu. aku tak mau membahasnya.” Dia tertunduk.
“tapi, tak ada jalan lain selain itu..”dia berbalik dan memelukku. Aku mulai menangis lagi dipelukannya.
“kau mu melihat anak kita tumbuh di rahim orang lain?” aku menggeleng. “kau mau membagi suamimu dengan wanita lain?” aku menggeleng lagi dan memeluk suamiku erat. “Makanya, kau jangan seperti ini..” kudengar suaranya sedikit bergetar.

“tapi mungkin apa yang dikatakan ibumu ada benarnya, aku harus rela kehilanganmu.. kau harus bahagia. Aku belum bisa memberi kebahagiaan untukmu dan juga ibu.. aku..?” dia melepaskan pelukannya.
“kau mau meninggalkan ku? Begitu?” Aku hanya tertunduk menahan kesakitan dalam hatiku.
“jawab aku..” dia menatapku tajam. Semburat kemarahan dan kesedihan jelas nampak dari kedua mata indahnya.

“aku tau, aku tak bisa berpisah denganmu,, tapi mau bagaimana lagi.. semua cara sudah ku tempuh untuk mewujudkan keinginan ibumu. Aku sudah berkali-kali pergi ke dokter. Minum obat penyubur, minum ramuan kehamilan.. aku sudah melakukan itu,, sampai aku rela tubuhku ambruk harena semua yang aku konsumsi selam ini memaksa untuk aku muntahkan.. kau tak tau betapa tersiksa aku selama ini hanya untuk mewujudkan harapan besar ibu..” baru kali ini aku berteriak padanya. Dia tak menjawabku, dia hanya menatapku iba.

“sampai begitukah kau selama ini? Kenapa kau tak memberi tahuku betapa tersiksanya kau selama ini.. aku suami yang buruk untukmu.. aku..” dia terduduk lesu. Aku baru sekali ini melihat dia seperti itu. aku baru sekali ini melihat dia menangis sampai seperti itu. sungguh ini membuat aku bertambah sakit..

Aku meraih tubuhnya dan memberinya pelukan. Kuusap lembut punggungnya berharap di membaik.
“kalian sangat berharga bagiku. kau dan ibumu harus bahagia. Biarkan aku pergi. mungkin memang harus begini.. aku akan sangat bahagia jika kau dan ibumu bahagia. Hanya itu.. melihat itu semua, adalah kebahagiaan terbesar untuk ku.. “

“tidak.. aku tak akan bahagia jika tanpamu.. aku akan sangat buruk jika tanpamu.. kumohon,, tetaplah disini bersamaku.. cukup itu..”

“kau tau, untuk meraih kebahagiaan, harus ada yang kita korbankan.. demi meraih kebahagiaanmu,, aku berani berkorban untukmu.. sungguh.. aku hanya ingin kau bahagia.. tidak lebih..” kucoba memberi senyuman untuknya. Meski sebenarnya hatiku sakit, tapi ini senyum terakhir yang bisa aku berikan untuknya.

****

Hari berganti, pagi-pagi sekali ibu sudah ada dirumah. Tanpa sepengetahuan Kyu, aku mengemasi pakaianku. Hyura, inilah akhir pernikahanmu. Kau harus kuat.. demi kebahagiaan suamimu, kau harus merelakannya.

“bagaimana Hyura, pilihan apa yang akan kau ambil..?” ibu langsung melontarkan pertanyaannya padaku. suamiku hanya memandangku sengan tatapan sedihnya. Seolah dia berharap aku akan mempertahankan pernikahan ini.

“baik bu.. aku tak bisa melihat anakku nanti tumbuh di rahim wanita lain. aku juga tak bisa menerima kalau aku harus berbagi suamiku dengan wanita lain. jadi,,.. aku …” aku mencoba mengambil napas panjang dan mengumpulkan kekuatan untuk mengatakan ini. ”mungkin ini lebih baik bagiku. Juga bagi Kyuhyun oppa tarutama ibu.” Aku menelan ludah yang terasa pahit karena mengatakan itu. “jadi kuputuskan lebih baik aku saja yang pergi..”

Dengan berat hati aku menyeret koperku. Aku tak menginginkan ini terjadi. Tapi aku harus memilih satu pilihan.

“Hyura..” aku melirik sekilas suamiku. raut wajahnya mengisyaratkan tak percaya pilihan ini aku ambil.
“maaf karna selama ini aku belum menjadi menantu yang baik untuk ibu. Maaf karna aku belum bisa memenuhi keinginan ibu. Maaf karena belum bisa membuat ibu bahagia. tapi aku akan sangat bahagia jika ibu bahagia mendapat apa yang ibu inginkan bisa terwujud, meski itu bukan dari diriku.. aku sudah berusaha semampuku. Tapi tuhan berkehendak lain.. mungkin ini memang sudah jalanku.”

Aku tau meski ibu membelakangiku, dia juga menangis telah membuatku seperti ini. Karena ku dapat melihat berkali-kali dia mengusap pipinya. Aku menatap kembali wajah suami yang aku cintai selama ini. Dia tak kalah kacaunya sepertiku. Aku memberikan pelukan terakhirku untuknya. Berharap dia merasakan sedalam apa aku mencintainya, dan sesakit apa aku saat ini.

“oppa, semoga kau bahagia.. ah tidak, kau harus bahagia..” aku memberikan senyumku padanya sambil sesekali menyeka airmataku yang berjatuhan dengan deras.

“agasshi, aku harap kau memberikan kebahagiaan yang lebih pada keluargaku ini..” raut wajah bersalah tergambar jelas di wajah cantik wanita yang datang bersama ibu.

“aku harus pergi sekarang.. sampai jumpa..”
Dan, pada akhirnya aku benar-benar kehilangan semuanya.. kehilangan suami yang sangat aku cintai, kehilangan ibu yang sudah seperti ibuku sendiri.

****

Entah aku harus pergi kemana sekarang, aku tak tau.. aku tak punya tujuan. Aku sendirian disini. Aku tak memiliki siapa-siapa. Satu-satunya keluargaku hanyalah keluarga suamiku. Hanya itu. dan kini satu-satunya keluarga-ku pun tak ada lagi.

TTIIIDDD>>>>>

Aku hampir tertabrak oleh sebuah mobil. Tanpa sadar aku menyembrang tanpa melihat lampu penunjuk jalan.

“Hyura..?? kau kah itu?” aku kenal suara itu. dia Mi Soon.. teman lamaku. Tapi kenapa aku harus bertemu dengannya disaat seperti ini..
“Mi Soon?”aku memeluknya erat.
“kau tidaak apa-apa? Kau tampak buruk..” aku menggeleng lembut padanya dan memaksakan senyumku padanya. “kajja, ikutlah denganku..” aku mengangguk..

Aku ikut dengan Mi Soon. Kemana dia membawaku aku tak peduli. Selama pejalanan aku tak membuka suaraku sedikitpun.. aku tak mungkin menceritakan semuanya pada Mi Soon betapa menyedihkannya hidupku.

“Hyura, kau tak-apa-apa? Kau tampak pucat..?”
“ya? Oh.. tidak.. aku hanya sedikit pusing saja.” Aku tersenyum dipaksakan. Kepalaku pening, perutku berasa sangat kacau. Apa karena aku tak makan dengan baik selama ini..?
“kau mau kemana membawa koper sendirian?”
“molla.. aku sendiri tak tau harus kemana. Sekarang aku tak punya tujuan lagi. Mungkin aku akan mencari apartemen dan harus mencari pekerjaan.”
“kalau begitu kau sementara tinggal dirumahku saja.. aku hanya tinggal sendiri.”
“tak perlu, aku bisa menyewa apartemen. Lagi pula kau juga kan harus bekerja..”
“tenang saja. Tempat praktekku ya dirumahku sendiri.”
“praktek?”
“iya.. aku sekarang bekerja sebagai dokter. Dan aku memutuskan untuk membuka tempat praktek sendiri di rumah. Jadi, kau tinggal bersamaku saja.. kau juga bisa menjadi asistenku.. seingatku dulu kau juga mengambil jurusan kedokteran kan?”

“mm.. ne” aku mengangguk lemas.

****

Aku kini tinggal di sebuah rumah besar di daerah pinggiran kota. Suasana disini cukup tenang. Damai. Disini, aku bisa menata kembali perasaanku yang hancur akibat permasalahanku bersama suamiku.

Sudah hampir satu minggu aku disini. Tapi sedikit pun aku tak bisa melupakan semuanya. Mi Soon juga tampak nya sudah mencium permasalahanku.

“Hyura, sebenarnya kau ini kenapa?”
“aku tak apa-apa.”
“kau jangan bohong padaku. Aku tau..”

Mungkin sudah saatnya aku menceritakan semuanya pada Mi Soon. Mungkin dengan begitu bebanku sedikit berkurang. Dia tampak terkejut mendengar ceritaku. Sudah kuduga.  Tak ada yang mengerti masalahku ini. Tapi aku sedikit lega karna aku tau ada seseorang yang bisa aku ajak cerita. Selama ini aku hanya memendamnya sendirian.

“aku tak menyangka kau mengalami itu..”
“aku sudah melakukan segala cara untuk bisa memenuhi keinginan ibu mertuaku. Tapi gagal. Aku tak kunjung mendapatkannya. Yang ada tubuhku semakin lemah dan tak bisa menelan apapun lagi.”
“tunggu.. memangnya kau mengkonsumsi apa sebelumnya?”
“obat.”
“obat apa?”
 “semuanya.. dimulai dari obat dokter untuk menyuburkan kandungan, sampai ramuan tradisional.”
“lalu apa yang kau rasakan setelah mengonsumsi obat itu..?”
“semuanya keluar begitu saja.”
“keluar? Seperti apa?”
“iya, aku memuntahkannya. Sepertinya tubuhku menolak kuberi asupan obat itu. sampai makan pun aku malas. Dan terakhir, mungkin karena aku jarang memakan sesuatu, aku sering pusing.. aku tak mengerti apa yang terjadi.”

 “hhaa.. kau tau.. obat-obatan itu takkan bereaksi pada orang yang memang subur.. apalagi jika pada…..” kenapa kata-katanya berkenti?
“terakhir kau datang bulan?”
”entah lah.. sudah lama sekali.. aku juga tak mengerti. Siklus menstruasiku mulai kacau lagi. Mungkin karena akhir-akir ini aku banyak masalah..”
“kau.. kau ini kan lulusan kedokteran. Hal seperti ini pun kau tak menyadarinya..”
“maksudmu apa? aku tak mengerti..”
“ahh.. kau.. kau sudah menghubungi suamimu?” aku hanya menggeleng. “telponlah sekarang?” tak mungkin. Dia mungkin sekarang sudah bersama wanita itu..
“kau ini kenapa?” Mi Soon menaikkan suaranya.

“mungkin sekarang dia sudah bersama wanita itu. sudah lah..” aku berbaring membelakangi Mi Soon yang masih duduk diam disisi tempat tidurku.

Ingin aku menghubungi dia, tapi aku tak berani mendengar dia bersama wanita itu. aku terlalu takut. Ini keinginan ku, tapi justru ini menjadi boomerang bagiku.

***

Aku menerawang jauh ke hamparan rumput melalui jendela kamar. Hari ini praktek libur. Mi Soon mengatakan dia ada urusan mendadak. Aku tak mau ambil pusing menanyakan kemana dia pergi. ini rumahnya, kemanapun dia pergi bukan urusanku. Aku menghela nafas panjang. Pandanganku mulai kabur lagi. Ahh,, ada apa dengan ku.. aku coba menelan makanan yang ada, tapi gagal, makanan itu tak berhasil ku telan. Semuanya ku muntahkan, bahkan isi yang ada dalam perutku pun ikut keluar. Aku menyerah..

“ahh,, kenapa aku ini..” aku sungguh tak mengerti. Ada apa dengan diriku.. Aku lulusan kedokteran, tapi aku tak mengerti kondisi tubukhu sendiri. Dokter juga bisa sakit dan butuh dokter lain untuk menyembuhkan penyakitnya kan?

TOKK TOKK TOKK…

Terdengar suara pintu diketuk, itu pasti Mi Soon
“masuklah” tanpa menoleh ke arah pintu. Sampai terdengar suara seperti pintu dibuka.
“Hyura..” itu seperti…
“Hyura, aku mencarimu kemana-mana, kenapa kau tak menghubungiku..” dia memelukku dari belakang. Aku tak bisa menahannya lagi.

“untuk apa kau kesini.. aku tak ingin kau melihatku seperti ini..” jawabku lirih.
“aku mencarimu..” aku membalikkan tubuhku sehingga dia berada di hadapanku sekarang

“harusnya kau tak disini. Harusnya kau di..” aku melihat wanita itu berada di belakang Kyu. Dia tersenyum bersama Mi Soon. Aku tau Mi Soon yang melakukan ini. Pandanganku mulai kabur lagi. aku lemas dan hampir terjatuh. Dia menopang tubuhku dan mandudukkanku di sisi tempat tidur.

“kau kenapa?” kulihat dia begitu khawatir. “apa kau sakit? Kau terlihat pucat”
“aku tak apa-apa.” Menepis tangan yang sedari tadi memegangiku.
“Hyura, boleh aku bicara?” aku tak menjawabnya. Wanita itu mengerti dan duduk disampingku.
“aku dan suamimu tidak bersama..”
“kenapa? Ku bilang kau harus membahagiakan suamiku kan?” dia menggeleng.
“mm,, aku tau, hanya kau yang bisa membahagiakannya.”
“kau salah..” jawabku asal
“kau yang salah..” bentak Mi Soon padaku.
“aku juga wanita, sama sepertimu. Aku juga mengerti bagaimana rasanya berada diposisimu. Itu hal yang sulit. Kau hebat sampai bisa bertahan selama ini..” aku tak berani berkata apapun lagi.
“kau tau, bibi menyesal telah melakukannya padamu. Dia terus merasa bersalah padamu. Dia sayang padamu. Sesaat setelah kau keluar dari rumah itu, bibi menangis tanpa henti melihatmu pergi..”

*Flash Back
“agassi, aku harap kau memberikan kebahagiaan yang lebih pada keluargaku ini..” raut wajah bersalah tergambar jelas di wajah wanita yang bersama ibu mertua Hyura.
“aku harus pergi sekarang.. sampai jumpa..”

Hyura pergi meninggalkan rumah itu dengan langkah yang sangat berat. Di dalam rumah, ibu mertua Hyura menangis sejadinya menyesali apa yang dia lakukan terhadap menantunya. Di lubuk hatinya yang paling dalam, dia sangat menyayangi menantunya itu. tapi keegoisan membuatnya menjadi mertua yang kejam. Dia bersalah membiarkannya pergi, dia tau betul Hyura tak memiliki seseorang disini. Rasa bersalahnya kian bertambah.

“apa salah jika ibu ingin seperti orang tua yang lain..? aku hanya menginginkan itu.. aku tak peduli lagi dengan yang lain..”
“bibi..” namun yang dipanggil ‘bibi’ tidak menoleh sama sekali. “aku juga seorang wanita, aku paham betul seperti apa dia sekarang. Perasaanya saat ini pasti sedang hancur membayangkan ibunya tak menginginkannya lagi. bukan dia tak mau mewujudkan harapan bibi, tapi keadaan yang belum mengijinkan..” tutur wanita yag bersama ‘bibi’ itu.

“ibu, kau tau? selama ini dia berusaha keras melakukan berbagai cara untuk bisa memberiku keturunan. Sampai dia rela mengkonsumsi obat-obatan yang mungkin akan membuat keadaannya bertambah buruk. Semua itu dia lakukan demi ibu” Laki-laki itu mencoba meluruskan semuanya. Meski hatinya kini sedang tersayat dengan kepergian istri yang sangat dicintainya.  Namun  Ibunya hanya diam dan terus meratapi kesalahannya.

“ibu salah, ibu tau itu.. ibu terlalu egois padanya, ibu sadar betapa ibu beruntung memiliki dia sebagai menantuku. Dia baik, dia rela melakukan apapun demi orang yang dicintainya. Ibu tau itu.. ibu salah.. maafkan ibu….” Dia terus menangis. Laki-laki itu memeluknya erat.

“sudah lah bu,, yang harus kita lakukan sekarang adalah mencarinya dan membawa dia pulang.” Ibu itu  mengangguk lemas.

Hari itu juga Kyu mencari istrinya, Hyura. Namun tak dia temukan. Dari pagi hingga malam tiba, dia terus mencari dimana Hyura. Tapi hasilnya nihil. Dia tetap tak menemukan keberadaan Hyura. Sampai pagi ini, seseorang menelpon dan menanyakan alamat rumahnya dan berkata harus menemuinya.

“aku Yang Mi Soon. Aku temannya Hyura.”
“oh, tapi sayangnya Hyura tidak ada. Sudah seminggu ini dia pergi.” Kyu lemas.
“aku tau, makanya aku datang ke sini.”
“maksudmu?”
“aku tau dimana Hyura sekarang. Dia sangat lemah.”
“apa?” Kyu, ibu dan wanita yang dijodohkan ibunya terkejut mendengar itu.
“seminggu yang lalu, aku hampir menabrak seseorang. Setelah kuamati ternyata dia Hyura, teman ku dulu. Dia terlihat kacau.” Ketiga orang itu diam mendengarkan apa yang disampaikan Mi Soon.
“belakangan ini kami ada masalah.”

“aku tau. Semalam dia menceritakan semuanya padaku. Jelas aku kaget mendengar apa yang dialaminya. Termasuk.. ehh.. maaf, soal obat-obatan yang dia konsumsi.” Mi Soon mengedarkan pandangannya pada semua yang ada di ruangan itu, tak ada yang menjawab. Semua hanya diam membisu.

“kau tau apa yang terjadi setelah dia mengonsumsi itu semua? Dia jadi tak bisa makan sedikitpun. Sampai hari ini, dia tak bisa memakan apapun. Semua dia keluarkan. Obat-obatan itu tidak membantunya sama sekali. Malah justru membuat keadaannya semakin parah.”

“benarkah?”
“karena efek obat itu, penciuman Hyura jadi tak berfungsi dengan baik. Apa yang dia cium, itu seperti bau obat yang dia konsumsi dan membuatnya merasa mual..” sejenak Mi Soon menatap Kyu yang berfikir keras.
“Kyu, bukankah kau juga seorang dokter juga? Harusnya kau tau obat apa itu.”
“aku tau. Obat apa itu.”
“dan kau juga harusnya tau fungsi dan efek obat itu kan?”
“entahlah, aku bingung. Dia bilang setelah mengonsumsinya dia merasa mual dan pusing. Tunggu.. apa mungkin dia..??” Mi Soon hanya menjawabnya dengan senyuman dan anggukan kecil. Senyum di wajah Kyu kini mengembang.

“hanya saja dia belum menyadarinya. Dia hanya berfikir itu akibat dia tak makan dengan baik. Jadi sebaiknya kau temui dia. Dan bicara dengannya baik-baik..”

“iya, aku tau..”

Setelah mendengar itu semua, Kyu, Mi Soon dan wanita itu langsung pergi menuju ke rumah Mi Soon. Ibunya memutuskan untuk menunggu mereka pulang.
*Flashback end.

Mendengar itu semua aku tak bisa berkata apa-apalagi. Semua perasaan membaur menjadi satu. Tak tau apa yang harus aku lakukan. Aku masih bingung dengan ini. Ku tatap kembali wajah seseorang yang ada dihadapanku. dia tersenyum manis terhadapku. Senyum yang aku rindukan.

“pulanglah bersamaku. Ibu menunggumu. Dia merindukanmu Chagi..” dia memlukku erat.
“mm..” dia melepaskan pelukannya.
“kau kenapa lagi?” dia bertanya padaku yang membekap mulutku sendiri.
“kau kanapa sih..?” Tanya nya lagi. aku hanya mnggelengkan kepala sambil berlari ke toilet. Dan benar saja. Aku memuntahkannya lagi.

“YAA…. KAU MEMAKAI FARFUM APA? BAUMU MENYENGAT SEKALI…..” teriakku dari dalam kamar mandi. Tapi dia hanya tertawa puas.. dasar orang itu..

****
Aku kini kembali pulang bersama suami yang telah kembali kesisiku, juga bersama Kyu kecil yang masih tersimpan rapi dalam rahimku. Tak pernah aku membayangkan akan seperti ini akhirnya. Aku sempat menyerah untuk sekedar berharap dia akan kembali. Tapi semua pikiranku salah. Sepelik apapun masalah dalam hidupku, pasti ada jalan keluarnya. Dan masalah ini menjadi pelajaran buat ku untuk tetap yakin pada dirku sendiri dan tak menyerah dalam melindungi apa yang harus kita pertahankan.

Dan ini juga menjadi tamparan keras bagi ibu mertuaku, bahwa tak ada yang tak mungkin di dunia ini. Ke-egoisan hanya akan menjadi penghalang bagi kita untuk mencapai akhir yang bahagia. Dan aku telah membuktikan itu. 

****

“Hyura.. maafkan ibu, ibu telah menyakiti hatimu, ibu adalah ibu yang buruk untuk mu.. ibu menyesal sungguh..” pelukan hangat ibu kini bisa kurasakan lagi.
“tidak apa-apa bu, aku mengerti. Semua orang tua juga pasti akan berpikir yang sama jika berada di posisi seperti ibu saat itu. aku bersyukur tuhan telah mengembalikan semuanya sebelum terlambat..” aku melepaskan pelukan hangat ibu dengan lembut.

“kau memang anak ibu yang baik. Ibu tak akan mempermasalahkan cucu lagi denganmu.”
“mana boleh seperti itu bu,,” kenapa ibu bicara seperti itu?
“ibu serius. Ada kau saja ibu sudah senang.. sungguh..”
“jadi ibu akan menolak cucu yang sekarang ada di peut Hyura Bu..?” Kyu tampak snewn.
“apa? Jadi kau..??” aku dan suami ku hanya mengangguk pelan.. ibu terlihat sangat bahagia sekali. Terlebih aku. kini aku telah memenuhi impianku dan suamiku, termasuk ibu untuk bisa memberi kebahagiaan terbesar dalam hidup kami..
Tuhan telah menunjukkan kebesarannya, aku sangat bersukur.

*

*

*

*

*
The End

Note: akhirnya, setelah sekian jam author menulis ini, kelar juga.. maaf kalo kurang menusuk ya.. author sengaja bikin yang thema nya masalah rumah tangga.. hahaha… bosen masalah anak muda mulu.. kekeke..

Oh iya,, author hampir lupa.. jika ada kemiripan dalam cerita ini dengan cerita-cerita lain,, itu benar-benar murni kebetulan.

Mohon RCL nya ya.. Gumawo…
*bow with Kyu.

Senin, 05 November 2012

Lirik Lagu: Journey (At The Dolphin Bay OST)

Journey

Top of Form

It's a long long journey
Till I know where I'm supposed to be
It's a long long journey
And I don't know if can believe
When shadows fall and block my eyes
I am lost and know that I must hide
It's a long long journey
Till I find my way home to you

Many days I've spent driffing on Through empty shores
Wondering what's my purpose
wondering how to make me strong
I know I will falter , I know I will cry
I know you be standing by my side
It's long long journey
And I need to be close to you

Sometimes it feels no one understand
I don't even know why I do the things I do
when prides bulids me up till I can't see my soul
Will you break down this walls and pull me through

Cause it's a long long journey
till I feel that I'm worth the price
You paid for me on calvary
beaneath those stromy skies

When satan mocks and friends turn to foes
It feels like everthing is out to make me lose control
Cause it's a long long journey
Till i find my way home to you...to you