Minggu, 23 Desember 2012

FF UNFORGETTABLE (Part 2)

FF UNFORGETTABLE (part 2)

TITTLE: UNFORGETTABLE
AUTHOR: Real name: Novarida.
                Fb Id: Fhaa Wanay Min
                Twitt id: @NovaRidaa
                Blog: http://kimelfrida.blogspot.com/
CAST:      Super Junior’s Kyuhyun as Cho Kyuhyun
                Author as. Kim So Hee
                And other cast.
CAST:      Super Junior’s Kyuhyun as Cho Kyuhyun
                Author as. Kim So Hee
                And other cast.
GENRE: Romance-angs-bit hurt
LENGTH: two Shoot
RATING: 17+
DESCLAIMER: ini FF buatan author sendiri lho.. mohon kerjasamanya dari para readers buat ngasie kritik dan sarannya ya.. dilarang keras meng-COPY PSTE FF ini tanpa seijin author.
EDITOR: Sansan Kurai

Link chapt 1:
http://www.facebook.com/notes/fhaa-wanay-min/ff-unforgettable-part-1/422846561097115

Happy reading..^^

*

Kurasakan sepasang tangan hangat menyelimutiku. Kemudian memelukku hangat. Kyuhyun.

“tenanglah, semua akan baik-baik saja..” ucapnya menenangkanku.
“aku takut.. appa ku bukan orang yang suka main-main. Dia pasti serius dengan ucapannya. Dia akan menyakiti eomma.. bagaimana ini.. aku anak yang tak berguna.. bahkan aku tak lagi bisa melindungi eomma juga adikku..”
“tenanglah.. semua sudah ku atasi. Eomma mu baik-baik saja..”
“bagaimana bisa..”
“apa yang tak bisa kulakukan?” aku makin tak mengerti dengan perkataannya.
“dengarkan aku,, aku tau kau selalu merindukan eomma mu belakangan ini, iya kan? Maka dari itu aku mencari eomma mu. Dan kau tau? Eomma mu juga adik mu baik-baik saja. Dan mereka tak tinggal bersama appa mu lagi. dan aku menceritakan apa yang terjadi denganmu padanya, dia sangat bersyukur kau dalam keadaan baik-baik saja.”
“lalu dimana mereka sekarang..? bawa aku menemui mereka.. kumohon..”
“pasti. Tapi tidak sekarang..”
“kenapa?”
“orang itu,, mungkin dia kini sedang mengawasimu. Ini terlalu berbahaya. Terlebih untuk eomma dan adikmu. Bersabarlah.. jika aku tak bisa membawamu menemui mereka, akan kubawa mereka menemui mu..”
“jeongmal..?”
“ne..”
“kenapa kau baik sekali padaku…?”
“sudah kewajiban ku melindungimu. Semenjak aku membawamu kemari, aku merasakan bahwa aku harus melindungimu..”
“kau namja baik.. tak seharusnya aku membawamu kedalam masalahku..”
“itu sudah tugasku..”
“jika semuanya sudah berhasil.. maka kau tak perlu lagi menjagaku..”
“apa maksudmu?’
“bukankah appanim dan eommanim menjodohkan kita untuk melindungiku..?”
“kau sungguh-sungguh berfikir demikian? Asal kau tau So Hee, untuk apa aku menikah denganmu hanya untuk melindungi mu? Tanpa menikahpun aku masih bisa melindungimu.. aku menyanggupinya karena aku memang ingin menikah denganmu. Apa aku salah?” Aku diam menyimak setiap detail kata yang keluar dari bibirnya.
“mianhae..” sesalku telah mengatakan itu.
“sudahlah.. kita mulai ini dari awal lagi.. kita pikirkan bersama bagai mana langkah kedepan untuk bisa membawa eomma mu kemari. Tentunya tanpa sepengetahuan appamu.”

Aku tau Kyuhyun mencoba menenangkanku, tapi itu belum berhasil kurasa. Ketakutanku terhadap appa yang mungkin bisa menyakiti eomma masih membayangiku. Meski dia bilang eomma berada di tempat aman di bawah pengawasannya, tapi aku belum dapat tenang jika belum melihat eomma secara langsung.

“baiklah baiklah.. akan kubawa kau besok menemui eomma mu.. kau pasti tak mempercayaiku kan..?”
“benarkah?? Terimakasih banyak.. Kyuhyun-ssi… eh, mian..”
“istirahatlah.. besok akan menjadi hari yang panjang.. kau harus mempunyai tenaga yang banyak untuk menemui eomma mu..”
“mmmm… tentu..”

Dia kemudian menyelimuti ku dan.. ‘CHU~’ mencium keningku lembut. Perlakuannya padaku telah berhasil membuat wajaku terasa memanas. Dengan cepat ku tutupi sebagian wajahku dengan selimut tebal yang menutupiku, mencoba menyembunyikannya dari Kyuhyun yang kutau dia sedang menahan tawanya melihat tingkahku. Dia terlalu tau tentang diriku, dia bisa tau apa yang ada dipikiranku. Entah bagaimana caranya agar bisa menyembunyikan isi pikiranku darinya.

*

*

Ya, sesuai dengan apa yang dikatakannya, Kyuhyun membawaku ke suatu tempat yang katanya eommaku berada di sana. Entah itu benar atau dia hanya menghiburku. Aku belum yakin benar jika aku belum melihatnya secara langsung. Aku berharap semoga dia benar-benar membawaku menemui eomma. Dia selalu tau isi pikiranku, dan semoga kali ini dia juga benar-benar tau isi pikiranku bahwa aku benar-benar ingin bertemu dengan eomma.

Perjalanan ini terasa begitu lama dan panjang. Entah ini pikiranku saja atau memang perjalanan ini  sangat jauh aku tidak tau. Aku tidak begitu hafal jalanan kota seoul. Bagaimana tidak, selama ini aku hanya tinggal di dalam rumah besar keluarga Cho ini. Dan selama itu pula yang kulakukan hanya belajar dan belajar apa yang keluarga ini ajarkan padaku.

Sekilas kuperhatikan namja di sampingku yang sudah beberapa minggu ini resmi menjadi suamiku atas keputusan yang menurutku sepihak dari keluarga yang membesarkanku. Entah apa yang mendorongku menerima ini semua, karena sejujurnya sejak awal aku memutuskan untuk mengabdi sepenuhnya pada keluarga Cho ini yang telah menolongku dan menyelamatkanku dari orang-orang itu.

Entahlah, aku tak yakin dengan ini, yang kupikirkan ketika itu adalah membalas kebaikan mereka dengan tidak mengecewakan mereka. Memang aneh,, tak ada sebuah ikatan pernikahan yang dilandasi dengan ‘Balas Budi’. Mungkin hanya aku yang demikian. Namun, semenjak kejadian kemarin, sesuatu yang aneh kurasakan. Entah itu apa.

Kembali kuperhatikan Kyuhyun yang serius mengemudi. Dia tampak sangat fokus. Tapi tunggu.. kenapa dia selalu melihat ke arah kaca spion? Apa ada yang mencurigakan?? Tapi kulihat tidak ada yang aneh. Lalu ada apa??
“tenanglah, tidak akan ada sesuatu yang terjadi seperti pikiranmu..”
ucapannya membuatku kembali terpaku. Namja ini, apakah dia mempunyai indra lain diluar kelima panca inderanya? Dia selalu tau apa yang ada dipikiranku.

Kembali kuposisikan diriku seperti semula. Duduk tenang menghadap kedepan. Tidak, tidak bisa. Perasaanku mulai tidak tenang. Aku tidak tau, aku seperti sedang di buntuti. tapi oleh siapa? Apakah appa? Tidak mungkin. Tapi..

“so Hee.. bagaimana jika kita istirahat sejenak.. cuaca diluar sangat cerah..” kuperhatikan sekitar, pantai? Sejauh inikah kita pergi?
“nde..? ahh.. tentu..”

Segera setelah mendapatkan tempat yang teduh dan terasa nyaman untuk melepas penat, Kyuhyun meminggirkan mobilnya ketepian jalanan yang cukup tenang. Dia mengajakku  turun.  Ya, suasananya tenang, damai, sejuk.. membuat setiap orang enggan beranjak dari sini dan ingin kembali kemari dilain hari. Kyuhyun juga tampaknya menikmati suasana. Dia memejamkan mata merasakan segarnya angin pantai yang dengan lembut menyapu wajah tampannya dan mengibaskan rambut caramelnya dengan perlahan menambah sempurna dirinya dimataku. Tunggu.. apa yang kupikirkan..

Kuikuti apa yang dia lakukan, menikmati segarnya udara pantai dipagi hari. Sinar matahari yang memantul dari biasan air laut tak mengurangi kesegaran udara disini. Ditambah kami duduk dibawah pohon besar nan rindang menambah sejuknya tempat ini. Belum pernah aku merasakan sebebas ini menghirup oksigen sebanyak yang kumau.

“So Hee..” sapaannya membuatku terpaksa keluar dari pikiranku.
“nde?”
“ah tidak.. lupakan lah.”

Membingungkan. Sebenarnya kenapa namja ini. Seperti ada sesuatu yang ingin dibicarakannya. Tapi apa? Aku tak bisa membaca pikirannya seperti dia selalu tepat membaca pikiranku. Aku kembali diam menatap lurus ke arah lautan lepas. Kupejamkan mataku kembali menenangkan pikiran dan hatiku yang akhir-akhir ini selalu mengganggu. Kudengar pantai bisa mengambil aura negative yang terpancar dari dalam diri kita.

Ya, benar, aku merasa rileks, semua perasaan takutku perlahan hilang seolah melebur bersama deburan ombak didepan sana. Semuanya terganti dengan sebuah perasaan damai dalam hatiku. Aku tak lagi merasakan ketakutan akan bayangan appa yang selalu menyakitiku ketika dulu dan memisahkan aku dengan eomma secara paksa. Lebih parah lagi saat appa menjualku dan menjadikanku bahan taruhan untuk para hidung belang itu.

Sesak, semuanya sangat menyesakkan. Jika tidak mengingat eomma, mungkin aku sudah tidak sanggup lagi bertahan. Aku tak bisa membayangkan apa yang akan aku lakukan ketika aku merasa sendirian atas perlakuan appa. Tapi keyakinan bahwa semuanya akan berlalu dan kembali normal sehingga aku bisa kembali bersama eomma lagi, membuat ku yakin dan bertahan sampai sejauh ini. Aku tak bisa membayangkan jika aku melakukan suatu kecerobohan, maka eomma akan kecewa padaku dan itu akan memisahkan kami untuk selamanya. Eomma..?? apa eomma baik-baik saja? Aku merindukanmu.. aku tidak akan memaafkan appa jika sesuatu terjadi padamu. Sungguh.

“so hee..gwaenchanha-yo? Apa kau sakit?” tanyanya terdengar khawatir. Dia menghadapkanku sejajar dengannya.
“ah.. anioo..”
“jeongmal-yo?”

Kuraih tangannya yang memang menggenggam tanganku hangat, kutatap langsung ke manik matanya, meyakinkan bahwa aku baik-baik saja dan dia tak perlu mengkhawatirkanku.
“nan gwaenchanha..”
Dan dia menarik nafas lega, sedangkan aku tak bisa bernafas sama sekali saat menyadari aku membalas genggaman tangannya. Ya tuhan,, apa yang kulakukan?

“Kyuhyun-sshi..”
“mwo? Sampai kapan kau akan seperti itu padaku..?”
“aarrhh.. mian, geurae,, oppa..”
“begitu kan lebih terdengar manis..”
“apa ada yang mengganggu pikiranmu,, oppa?”

Tepat dugaanku. Memang Kyuhyun sedang memikirkan sesuatu. Terbukti dia langsung diam saat aku menanyakan hal itu. Tapi apa? Dia pandai menyembunyikan semuanya. Aku tak akan memaksa jika dia tidak mau berbagi denganku. Aku mengerti dia membutuhkan ruang untuk menyimpan sendiri apapun yang dipikirkannya. Karena aku tau, tidak semua masalah yang dihadapi oleh kita itu harus diceritakan, tapi ada kalanya kita membutuhkan waktu sendiri untuk menyelesikan masalah itu.

“jika nanti kau sudah bertemu eomma mu, apa kau akan kembali bersamanya? Maksudku tinggal kembali bersamanya?”

Mengapa dia bertanya seperti itu? Apa hal itu yang dipikirkannya sedari tadi? Lalu untuk apa? Itu pertanyaan yang menurutku sedikit… konyol.

“aku merindukannya.”
“arraseo.. tapi, bisakah jika nanti kau tetap disini.. bersamaku?”

Aku terkejut dibuatnya. Apa aku tidak salah dengar? Dia, maksudku Kyuhyun berkata seperti itu? Namja ini,, sebenarnya ada apa dengan dia. Aku semakin dibuatnya bingung.

“wae-yo?” tanyaku
“molla.. aku sendiri bingung”
“pasti ada alasannya kan?”

Tapi Kyuhyun tidak mengatakan apapun padaku. Memori otakku kembali berputar pada kejadian beberapa tahun yang lalu. Saat aku masih tinggal bersama appa yang selalu memperlakukanku buruk, saat aku harus menerima kenyataan pahit bahwa aku dijadikan bahan untuk pertaruhan, saat aku harus menghadapi orang-orang menyeramkan itu, dan saat seseorang yang ternyata Kyuhyun menolongku dan membawaku tinggal bersama keluarganya, saat keluarganya yang begitu baik sudi menerimaku dan merawatku, memberi apa yang belum tentu bisa ku dapatkan jika terus tinggal bersama appa, sampai saat aku bersumpah pada diriku sendiri bahwa aku akan mengabdikan hidupku pada keluarga ini sebagai bukti terimakasihku pada mereka, membuat aku yakin mungkin keinginan Kyuhyun barusan harus aku penuhi karena kyuhyun adalah anggota keluarga Cho.

Tapi berfikir demikian sungguh membuat aku merasa sakit. Ada hal lain yang kurasakan saat ini. Tapi aku tak begitu yakin akan hal itu. Sesuatu yang berbeda mendelisik kuat dalam hatiku, meski kucoba untuk menekan itu semua, semakin kuat pula perasaan aneh itu. Kyuhyun, namja itu, semenjak aku menikah dengannya atas permintaan appa dan eommanya, dia selalu berputar-putar diotakku. Selalu muncul di sela-sela mimpi burukku yang menghantuiku. Bagai seorang malaikat, dia datang menolongku dan menenangkanku disaat aku takut. Tuhan, yakinkan aku bahwa ini memang benar..

“so hee..”
“nde?”
“kurasa aku membutuhkan sebuah pelukan..”
“mwo?”
“bolehkah aku memelukmu..??” mwo?? Apa yang harus aku lakukan…
“So Hee..”
“nde? Oh.. tentu..” aisshh… apa yang kau katakan so hee…

Dan begitulah, aku berada dipelukannya sekarang. Jujur kuakui, aku merasa seperti sesuatu mencekikku hingga aku tak bisa bernafas. Jantungku juga berdegup cepat sekali. Sial. Tunggu.. aku juga bisa mendengar detakan lain.. apakah mungkin jika…

“So Hee.. aku mungkin tidak bisa berkata manis pada seorang wanita. Karna sejujurnya, kau lah wanita pertama dalam hidupku. Lucu kan? Tapi aku senang, karena wanita pertama untukku adalah wanita yang menjadi istriku. Aku serius dengan ucapanku ini, tak pernah aku berkata seyakin ini pada seseorang. Seperti yang kukatakan kemarin, saat pertama aku melihatmu, saat itu pula lah aku merasa aku harus menjagamu. Mungkin terdengar konyol karena ketika itu usia kita masih sangat kecil. Waktu itu kau hanya anak usia 15 tahun, sedangkan aku baru 18 tahun. Tapi usia 18 tahun bukankah sudah bisa membedakan mana yang benar dan salah kan? Begitu juga aku.”

Aku hanya bisa diam mendengar setiap kata yang keluar dari bibirnya. Aku tak mampu berkata apapun padanya. Seolah mulutku mengunci dirinya rapat-rapat agar tak ada satu katapun yang keluar darinya. Aku terenyuh atas apa yang kudengar, rasanya seperti tercubit tapi membuat aku terbang.  Dia melepas pelukannya dariku dan menangkup kedua belah pipiku.  Seperti ada sesuatu yang menarikku dan memaksakanku melihat sepasang mata indah itu. Tak pernah aku melihat tatapan setulus itu selain dari eommaku. Ya, hanya eomma yang selalu menatapku tulus seperti itu.

Pikiranku entah melayang kemana aku tak tau, sampai aku tersadar ketika aku merasa ada sesuatu menyapu bibirku dengan lembut. Ya tuhan.. dia menciumku.. untuk yang pertama kali…

“aa… mianhae So Hee.. tidak seharusnya aku..”
“tidak apa-apa,, oppa.. kau suamiku,, jadi sudah sepantasnya jika…” omona,, So Hee.. apa yang kau katakan, apa aku terlihat seperti wanita jalang sekarang..??
“syukurlah jika kau tidah marah… sebaiknya kita pergi sekarang..” ajaknya kemudian dengan membimbingku masuk ke dalam mobil miliknya.

Kami kembali melanjutkan perjalanan, entah sejauh mana lagi kami harus pergi, hanya kyuhyun yang tau. Aku hanya ikut kemanapun dia membawaku, asal bertemu eomma. Tapi aku kembali merasa seseoang membututi kami. Entah siapa atau itu hanya perasaanku saja. Sampai Kyuhyun memarkirkan mobilnya di sebuah SPBU.

“SoHee.. tunggu sembentar ne.. aku ingin ke toilet.”
“ne..”

Kyuhyun meninggalkanku sendiri di dalam mobil. Merasa bosan kuputuskan untuk keluar sebentar sambil menunggu Kyuhyun kembali. Perasaan resah itu kembali. Aku seperti merasa seseorang sedang mengawasi kami. Kyuhyun, kenapa lama sekali..

Kuputuskan untuk kembali dan menunggu Kyuhyun datang, namun di saat aku hendak masuk kedalam mobil, tiba-tiba seseorang membekapku dari belakang dengan menggunakan sapu tangan beraroma menyengat. Aku tidak tau itu siapa, aku diseretnya menjauh dari mobil milik Kyuhyun. Aku mencoba memberontak, tapi bau menyengat itu melumpuhkan kesadaranku.

Ruangan ini cukup gelap. Hanya ada sedikit cahaya yang masuk melalui celah jendela. Aku dimana? Terakhir yang kuingat adalah aku menunggu Kyuhyun, omo, bagaimana ini? Bagaimana jika Kyuhyun mencariku? Aku harus keluar dari sini. Tapi tanganku sakit dan perih.. mwo? Aku diikat? Siapa yang melakukan ini semua? Apa salahku? Tidak, aku harus berhasil membuka ikatan ini, tapi sulit..

“Percuma So Hee.. tau tak bisa kemana-mana sekarang..”

Suara itu?? aku mencari kesemua penjuru tempat kosong ini, tapi gelap, aku tak bisa melihat siapa-siapa.
Tap.. tap.. tap.. dia mendekat.. semakin dekat.. demi tuhan aku ketakutan setengah mati. Apa yang mau orang ini lakukan terhadapku? Orang itu berdiri persis didepanku. Kupicingkan mataku memperjelas siapa orang yang melakukan ini padaku.

“appa..??”

Apakah sungguh-sungguh appa yang melakukan ini padaku? Benar-benar appa? Tega sekali dia melakukannya padaku. Apa salah yang kuperbuat padanya. Aku tak percaya ini,, katakan padaku jika yang kulihat ini salah.

“kita bertemu lagi, Putriku..”
“cihh… aku bukan putrimu lagi.. bukankah anda telah menjual saya?” tantangku.

Tak sudi aku memanggilnya appa, appaku bukan dia lagi. Dia hanya orang jahat yang tega melakukan apapun untuk mendapatkan keinginannya sekarang. Appaku adalah appa yang baik, dia sudah hilang sejak bertahun tahun lalu. Bukan orang jahat ini

“NAPPEUN.. PLAAAKK>"

“pukul aku sesuka hatimu. Selesaikan sekarang kemarahanmu padaku. Lihat, tanganku kau ikat, jadi aku tak akan melawanmu, benarkan?”
“kau lupa,, ibumu masih ada padaku?”
“hh,, lucu. Aku tidak bodoh tuan.. aku bukan So Hee kecil lagi yang bisa dengan gampang dibodohi.. aku yang lebih tau dimana eomma sekarang..” jawabku bohong.
“PLAKK..” lagi, dia memukulku. “keluarga terhormat itu rupanya mencuci otakmu, So Hee..”
“apa yang kau tau tentang keluargaku…?”
“apa yang ku ketahui.. semuanya.. kita lihat apa yang bisa kulakukan pada keluarga suamimu itu..”
“apa yang kau inginkan..”
“rupanya kau semakin pintar So Hee sayang..”
“KATAKAN APA YANG KAU INGINKAN DARIKU..”
“tenang lah.. apa yang kuinginkan?? Biar nanti kupikirkan.” Tandasnya lalu pergi setelah melepas ikatanku.

Aku benci situasi seperti ini, entah darimana orang itu tau titik lemahku saat ini. Ya tuhan,, kumohon, lindungi mereka.. jangan biarkan orang jahat itu melakukan hal buruk kepada mereka. Aku yang bermasalah dengannya, maka aku yang seharusnya menanggung semuanya, bukan keluarga baik itu. mereka tidak tau apa-apa.

Entah sudah berapa lama aku disini, apakah hari sudah berganti atau belum aku tak bisa memastikannya. Ditempat ini, baik siang atau malam tampak sama saja. Sama-sama gelap. Tak lama seseorang membuka pintu, dan disaat itu lah ku ketahui bahwa hari masih terang.

“sebaiknya kau katakana, apa yang ingin kau lakukan padaku? Apa kau ingin membalas dendammu padaku?”
“ya,, So Hee.. sabarlah sedikit lagi, pasti kukatakan apa yang kuinginkan..”
“jika kau tak mengatakan sekarang, maka kupastikan kau takkan dapat melakukan apapun padaku..”
“ahaha.. memangnya apa yang akan ku lakukan padamu eoh?? Aku tak ingin melakukan apapun padamu, kau So Hee manisku..”
“Mwo?”
“ya, jujur ku akui aku ingin membalas dendam padamu karena kau lari ketika itu, tapi itu semua bukan atas kesalahanmu, tapi…”
“jangan lakukan apapun pada mereka.. mereka tidak tau apapun tentang ini, masalahmu adalah denganku..”
“tapi gara-gara mereka aku hdup dalam kesengsaraan, keresahan..”
“salahmu bebuat seperti itu padaku.. keluarga itu hanya meolongku dan merawatku..”
“tetap saja, semua sama dimataku. Hhemm.. aku tau aku mendapatkan kesenanganku sekarang, kau.. dan orang itu..”
“jangan kau lakukan apapun padanya.. kumohon..”
“sepertinya kau takut sekali jika suamimu itu bertemu denganku… “

Ya tuhan.. apa yang orang ini rencanakan.. dia seperti malaikat pencabut nyawa dimataku. Mengerikan.

“So Hee..” Kyuhyun,, bagaimana dia menemukanku.. kumohon jangan datang kesini.
“kumohon, jangan lakukan apapun padanya..”
“terlambat.. jika saja dulu kau lakukan apa yang aku inginkan, semua tidak akan seperti ini. Orang itu harus mati ditanganku.”

Orang jahat itu pergi meninggalkanku sendiri. Apa? Apa yang akan dilakukannya? Tanpa pikir panjang aku mencoba menyusul appa, tapi kenapa? Kenapa langkah kakinya selalu lebih cepat dariku? Dan ketika aku menemukan mereka, sesuatu yang tidak mengenakkan terjadi. Entah apa yang mereka bicarakan aku tidak tau. Baik wajah appa maupun wajah kyu sama-sama terlihat geram.

Kulihat appa merogoh kedalam saku belakang celananya. Dia mengambil sesuatu dari sana dan disembunyikannya di balik punggungnya. Tapi apa? Benda itu berukuran kecil. Benda itu, benda mengerikan itu, apa yang akan dilakukannya? Appa, kumohon, jangan melakukan hal yang terkutuk. Tidak, aku harus menghentikannya.

Kuberlari menghampiri mereka sebelum terlambat. Aku tau persis appa tidak bermain-main dengan ucapannya.
“appa, aku… hmmppphh….” Belum sempat aku mengatakan apapun padanya, aku merasakan seperti sesuatu mengoyak isi perutku
“So Hee.. gwaenchanha-yo? YA! APA YANG KAU LAKUKAN?” bentak Kyuhyun pada appa.
“Aku.. aku.. aku tidak melakukan apapun kau tau? Itu salahmu sendiri..!!” jawabnya terbata.

Benda yang kini ternoda merah segar itu tarjatuh dari tangannya. Dan sedetik kemudian orang-orang berseragam mengepung appa dan membawanya dengan paksa.
“appa..” aku merasa sakit dalam hatiku melihat appa dibawa seperti itu. tapi sakit ditubuhku semakin menjalar dan melumpuhkanku. Aku hanya bisa terduduk memegangi perutku menahan rasa sakit. noda merah yang keluar dariku perlahan mengotori sebagian besar baju putih yang kukenakan.

Aku hanya bisa meringis kesakitan. Kyuhyun membawaku masuk kedalam mobilnya dan duduk disampingku. Sengaja membiarkan orang berjas hitam yang kutau itu adalah orang-orang yang selalu mengawal Kyuhyun dari jauh itu mengemudi. Dia merangkulku dan menyandarkanku padanya. tanganku mulai gemetar dan terasa kaku.

Kutatap orang yang merangkulku ini. Appa, dia tampak mengkhawatirkanku. Apakah yang kulihat ini nyata atau fatamorgana ditengah keinginanku yang terdalam bahwa appa akan kembali seperti dulu. Aku sangat senang dan bahagia saat ini hingga pada akhirnya air mataku meluber dalam pelukannya.

Sakitku terasa semakin menjadi. Wajah appa yang memelukku perlahan memudar dan berganti menjadi wajah Kyuhyun. Wajah putihnya kini merah padam, mata terindah indah yang pernah kulihat itu tampak sembab.
“gwaenchanha.” Ucapku sebisanya.
Cairan merah itu mulai berubah menghitam. Ya Tuhan, jika memang aku harus berakhir sekarang aku siap. Tapi kumohon Tuhan, jangan Kau siksa akhir hidupku dengan rasa sakit yang tak mampu aku terima.

Dan seketika, nafasku mulai sesak dan tercekat. Seolah sesuatu menahan kerja paru-paruku menghirup oksigen yang kubutuhkan. Kyuhyun mengguncangkan tubuhku perlahan, memastikan aku masih terjaga.
“So Hee.. kumohon, bertahanlah..”
Itu yang samar-samar dapat kudengar dari sela isakan kecilnya. Aku sakit melihatnya seperti itu, benar-benar menyakitkan. Namun  aku sudah tidak bisa bertahan lebih lama lagi. Ya Tuhan, kumohon lindungi orang-orang yang kusayangi. Tubuhku melemah, dan semuanya gelap..

*

*

*

Entah aku ada dimana sekarang. Semuanya terasa sama. Sejauh mataku memandang hanya gelap dan gelap. Aku hanya berjalan lurus kedepan tanpa mempedulikan apapun yang kemungkinan ada di depanku. Aku hanya mengandalkan instingku untuk menjadi penunjuk arah kemana kakiku melangkah.
“So He..”
“Siapa itu?” teriakku saat tiba-tiba terdengar suara memanggilku. Suara yang lebih terdengar seperti kembusan angin.
“So Hee..” suara itu kembali terdengar dan menakutiku. Hingga tiba-tiba sesuatu yang menyilaukan muncul tepat didepanku.

Itu.. seperti sebuah layar proyektor raksasa yang memutarkan sebuah adegan drama. Dapat kulihat disana seorang gadis kecil berambut panjang berlari dengan riangnya menyusuri hamparan padang rumput luas bersama seorang pria dewasa. Gadis itu tampak begitu senang bisa bermain dengan orang itu yang kuyakini dia adalah appanya. Betapa beruntungnya gadis kecil itu bisa bersenang-senang dengan appanya. Disayangi, dicintai dengan segenap kasih.

Cukup lama mereka bermain main, sampai seorang wanita berambut sebahu datang menghampiri mereka.
“sudah mainnya.. kita makan siang dulu.. eomma sudah membuatkan makanan kesukaanmu Chagiya..”
Gadis kecil itu tampak senang mendengarnya.
“Kajja, So Hee sayang.. kita makan..”

Aku sangat iri pada gadis itu. dia sangat beruntung memiliki seseorang yang sangat mencintainya, menyayanginya, melakukan apapun untuknya. Ya tuhan, semoga gadis kecil ini tidak bernasib buruk sepertiku. Semoga kebahagiaan selalu menyertainya..

Namun tiba-tiba, gadis kecil itu menghilang bersama sang appa. Wanita itu tampak kebingungan atas apa yang dialaminya. Dia menangis memeluk boneka kecil milik puterinya. Wanita itu memanggil nama puterinya..
“So Hee…. So Hee…”

Eomma……

*

*

Aku terbangun dari mimpiku. Dan aku terkejut ketika aku menyadari ini bukan dikamarku. Sedikit perih dapat kurasakan dari tangan kiri dan perutku. Samar samar dapat ku dengar seseorang berbicara di sudut ruangan..
“sudah eomma katakan, kau jangan berbuat gegabah.. lihat hasilnya. So Hee celaka. Dan itu salahmu.” Marah eomma pada Kyuhyun. Dan siapa wanita eommanim dan menenangkan dia?
“ne eomma,, arraseo.. aku yang salah, mianhe..” jawab Kyuhyun lesu.

“oppa… eommanim..” panggilku, entah mereka mendengarnya atau tidak.
“So Hee..” rupanya mereka mendengarku dan langsung mendekat kearahku. Aku mencoba bangun dari tidurku, namun eommanim melarangku dan memaksaku kembali berebahkan tubuhku. Kembali ku lihat wanita sedari tadi berada di belakang eommanim. Siapa dia? Wajahnya sudah tak asing untukku. Kutatap dia dalam, hingga aku yakin siapa dia.

Orang yang selama ini ku cari, orang yang selama ini kurindukan, kini benar-benar ada didepan mataku. Siapa sangka aku akan bertemu dengannya lagi dalam situasi seperti ini. Impianku adalah bertemu dengannya di saat saat yang paling bahagia untukku. Bukan dengan cara seperti ini.

“eomma..”
“So Hee..” eomma menghambur mnemelukku. Masih terasa seperti saat dulu eomma selalu memelukku. Hangat, nyaman, ini yang membuat aku tak bisa tanpa eomma. Pelukan sayangnya membuat aku lebih kuat. Pelukan sayangnya tak akan bisa terganti dengan pelukan seperti apapun. Tak akan ada pelukan seperti pelukan eomma.

Eommanim meninggalkan ruangan kamarku, membiarkan aku menikmati kehangatan bersama eomma lagi. Begitu pula Kyuhyun yang bersiap meninggalkan kami. Namun aku menraih tangannya dan menahannya untuk tidak pergi meninggalkanku dari sini. Dia menatapku penuh tanya, tapi tak ada satupun yang kujawab.

Tak lama, eomma pun beranjak dari kamarku dengan alasan akan mengambil barangnya yang tertinggal dirumah. Dan disini hanya tinggal aku dan Kyuhyun berdua.
“kenapa?” mulainya.
“mwo?”
“kenapa kau melakukkan itu, lihatlah, kau menjadi celaka gara-gara aku..”
“tidak apa-apa oppa.. sudah kewajibanku”
“maksudmu?”
“tidak Seharusnya aku membawa mu kedalam masalahku dengan appaku..”
“mwo?”

“karena malam itu kau menyelamatkanku dan membawaku pergi dari orang jahat itu, appa menjadi bulan bulanan mereka. Mereka menuntut ganti rugi atas kalahnya appa dalam bermain judi ketika itu. seharusnya appa menyerahkan ku pada mereka, tapi karena aku menghilang, mereka merasa dirugikan dan selalu menagihnya pada appa. Itu yang membuat appa begitu membencimu dan menganggap oppa adalah penyebabnya.”

“mwo?”

“aku sangat berterimakasih pada keluargamu yang sangat baik dan menerimaku juga merawatku sampai saat ini. Keluargamu sangat baik. Baik sekali.. kalian memberiku keluarga baru dan menjadikanku seseorang yang berbeda. Maka dari itu, dulu aku bersumpah bahwa aku akan mengabdikan hidupku untuk keluarga ini. Dengan cara apapun yang mereka inginkan akan aku lakukan semampuku.”

“termasuk saat appa dan eommaku menjodohkan kita.?” Aku hanya diam tertunduk. Tidak tau apa yang harus kukatakan lagi padanya. “kasarnya, kau menikah denganku atas dasar balas budi, begitu..”

“awalnya memang seperti itu. tapi..setelah aku menikah denganmu, aku merasa sesuatu yang aneh terjadi dalam hidupku. Entah itu apa, aku sendiri tidak mengerti. Aku seperti menjadi orang yang berbeda. Aku seperti terlahir kembali. Aku mencoba menekan apa yang aku alami dan aku rasakan padamu, karena aku menyadari siapa aku. Tapi semakin aku menghilangkan itu semua, semakin aku merasakan sakit yang luar biasa. Terserah oppa menganggap aku seperti apa, aku sudah tidak memikirkannya lagi. Aku hanya menyampaikan apa yang ada di kepalaku saja. Semuanya terserah pada oppa saja.”

“apa kau mencintaiku?”
“mwo?? Aku? Aku… tidak yakin apakah aku….”
“So Hee..” sapaannya menarikku untuk menoleh padanya. “saranghae..”

Aku menatap dirinya, mencari jawaban atas apa yang kurasakan. Kutatap jauh kedalam dirinya, semakin aku meyakini bahwa memang benar..
“nadoo saranghae..”

Aku mencintainya..
#

#

# FIN
Back Sound: Du nuni moraseo geudaeman bwayo, gaseumi oroseo geudael anayo. Tteollinun ipsuri gwitgae daheumyon. Chombuteo geudaeman kkumkkwo-watdon geumal,,, Saranghae.. (because I’m blind, I only see you. Because my heart is frozen, I hug you. When my trembling lips touch yours ears. I say the words I dreamed of since I met you, “I Love You”) [Super Junior Yesung: Blind For Love]

A/n:
akhirnya,, setelah sekian lama author nyelem nyati mutiara terpendam(?).. ketemu juga. Tapi perlu di dempul di sana sini.. soalnya ada kotoran yang mengganggu mata..(baca: typo)

mian buat chingudeul yang kena tag jailnya author. Author harap readers sekalian kasih kritik dan saran yang membantu ya,, buat perbaikan FF author yang masih kacangan ini.. tapi jangan Kacangin FF author juga.. hehehehe,,,

FF UNFORGETTABLE (Part 1)

FF UNFORGETTABLE (Part 1)

TITTLE: UNFORGETTABLE
GENRE: Angs
MAINCAST:
  • Super Junior’s Kyuhyun a.k.a Cho Kyuhyun
  • Author a.k.a So Hee 
And others

Desclaimer: Stori ini murni hasil kerja keras author. meski masih jauh dari kata SEMPURNA nya Demian, tapi author sebisa mungkin menyempurnakannya sesuai dengan hukum bacaan Bahasa Indonesia yang berlaku. Tapi manusia memang tempat salah dan Khilaf, jadi mohon dimaafkan apabila masih ada kata atau kalimat yang kurang mengenakkan atau membuat para pembaca sekalian pusing. terimakasih.. ^^

happy reading yeorobun....^^


*

Tetes demi tetes, perlahan air hujan riuh membasahi dataran luas di luar sana. Semua turun bagai sang awan menumpahkannya tanpa tersisa di pelataran langit sana. Langit menghitam bagai tak ada lagi putih di muka bumi ini. Semua gelap, semakin gelap dan lebih gelap lagi.

Aku yang menyaksikan kejadian itu hanya mampu menatap nanar dari balik jendela yang berembun. enggan rasanya meninggalkan tempat ini barang sedikit pun.  Aku tak mengerti dengan apa yang terjadi. perlahan tubuhku terasa dingin dan kaku. Perasaan sakit di dadaku bagai menusuk bertubi-tubi, bayangan masa lalu mulai menghantuiku lagi. tanganku gemetar,, kedinginan? Atau ketakutan?

Tubuhku terasa dihujani bunga Es. Dingin, menggigil,, bibirku tak henti-hentinya meracau tanpa adanya kendali dari kerja otakku.

“eomma.. eomma… eomma… eomma.. eomma….”

Aku seperti orang yang tak waras, meracau tak karuan. Aku tak menghendaki ini. Bayangan itu, selalu menghantui pikiranku,, menakuti hatiku,, meresahkanku, dan mengingatkanku pada kenyataan pahit, bahwa aku telah dibuang dan tak diinginkan lagi.

Ketika itu..
Usiaku baru  menginjak 11 tahun. Aku hidup dan besar di lingkungan keluarga berekonomi rendah. Ayahku hanya seorang pekerja serabutan dan juga seorang pemabuk. Ibuku hanya seorang ibu rumah tangga biasa yang harus mengurusi aku dan adikku di rumah kumuh yang jauh dari kata layak, aku harus berbagi dengan adikku dalam segala hal. Juga harus merelakan kasih sayang berlebih dari eomma karena adikku mengidap penyakit paru-paru di usianya yang baru empat tahun.

Mau tak mau, suka tak suka aku harus bisa menggantikan eomma mengurusi rumah. Berbenah, memasak, mencuci bahkan aku harus bisa membagi waktu sekolahku dengan bekerja mencari tambahan dana untukku bisa bersekolah, karena  ayahku tak pernah memberiku uang saku bahkan uang sekolah pun tak pernah ia berikan. Bahkan dengan teganya aku diperintahkan untuk putus sekolah..

“daripada uang yang kau hasilkan itu untuk sesuatu yang tak berguna.. lebih baik uangnya berikan padaku..” katanya tak karuan. Mengingat alkohol kini telah merajalela menguasai kesadarannya.

“shireoo appa.. aku bekerja untuk sekolahku..” tentangku sok berani.
“MWOYA..??” bentaknya tak terima. Dia menarik kerah bajuku meski memerlukan usaha besar untuk melakukannya. Dia menarikku paksa sampai dapat ku cium bau menyengat dari bibirnya.
“aku ingin sekolah appa.. aku tak ingin masa depanku hancur. Aku ingin memperbaiki masa depan keluarga kita. aku tak mau dianggap remeh lagi oleh orang lain.. cukup sekarang aku harus seperti ini. Aku masih mempunyai cita-cita yang ingin kuraih..” belaku, meski ku tau itu sia-sia.
“lihat dirimu.. kau masih bocah, sudah berani melawan orang tua.. YA!!! Aku appa mu..!! hormati aku..!!” bentaknya sembari mengguncang tubuhku kasar. Dia tak menyadari bahwa aku ini seorang anak perempuan.
“di hormati?? Untuk apa aku menghormati orang yang tak bisa menghormati dirinya sendiri..!!!”
“jaga bicaramu…. Nona sok pintar.. PLAKKK..” tangan kekar itu berhasil mendarat di wajahku sampai aku tersungkur di lantai.
“YA.!!apa yang kamu senangi chagi..??
"APA YANG KAU LAKUKAN..”

eomma yang kemudian menghampiriku tampak tak terima melihat perlakuan appa yang ringan tangan terhadapku. Aku tau appa dibawah pengaruh alcohol,, tapi ini keterlaluan.. dulu sebelum dia terkena PHK karena bankrutnya perusahaan tempat appa bekerja sebelumnya,  tak pernah sekalipun dia memukulku, bahkan hanya berkata kasar padaku pun tak pernah dia lakukan. Tapi mengapa appa berubah seperti itu?? itu gara-gara alcohol terkutuk itu..

“dengarkan aku anak sok pintar.. hidupku adalah milikku.. jadi kau tak pantas mencampuri urusanku. Kau cukup menuruti apa yang ku perintahkan tanpa sekalipun membantahku.. camkan itu baik-baik..” Tandasnya langsung berjalan sempoyongan ke kamarnya.

Demi apapun aku  membencinya. Entah setan apa yang membuat appa menjadi seperti itu. benar-benar membuatku jengkel. Ingin aku pergi meninggalkan rumah ini jika aku tak mengingat eomma dan adik semata wayangku.

“sayang, maaf kan appa mu.. saat ini dia sedang mabuk.. dia tak benar-benar membencimu.. ne..” aku hanya mengangguk lemas dan menangis dipelukan eomma.  Pernah sekali aku berfikir, mengapa tuhan memberiku seorang ayah yang seperti ini.. tapi siapa aku? aku tak bisa menentang kuasa-Nya.
“apa sakit..?” Tanya eomma khawatir sambil mengusap ujung bibirku yang sedikit terluka akibat pukulan keras appa.
“ani eomma..” jawabku berusaha menenangkan eomma agar tidak khawatir lagi. belaian tangan hangat eomma bagaikan obat yang paling mujarab bagiku. Hanya dengan tangannya lah semua kesakitan dan bebanku terasa ringan. Kuraih tangan yang sedari tadi mengusap lembut ujung bibirku, ku ciumi mereka, berdoa agar tangan-tangan ini tak pernah hilang dariku.
“aku tak akan merasa sakit, jika eomma selalu bersamaku. Bembelaiku seperti ini, memberikan pelukan hangat mu, tak peduli sekeras apapun appa menyakitiku, aku akan bertahan demi eomma. Eomma adalah segalanya bagiku, kebahagiaan eomma, adalah kebahagiaan terbesar untukku. Aku akan berjuang keras untuk eomma. Apapun akan ku lakukan demi eomma dan adik. Kumohon,, eomma bertahan bersamaku..” buliran bening lolos keluar dari mata sayu milik eomma. Dia tersenyum padaku. Kubalas senyumannya, ku hapun air matanya, dan dia pun memelukku erat.

Kata-kata yang ku ucapkan pada eomma mungkin tterdengar tak sesuai dengan usiaku. Tapi itulah harapanku. Aku berharap semoga eomma selalu diberikan kesehatan, kekuatan dan kelapangan hati agar eomma bisa bertahan dalam kemelut keluarga ini, mengingat banyak anak seusiaku di luar sana yang senasib denganku harus menanggung beban serupa sendirian, menghadapi  appa yang kejam tanpa dukungan sang eomma di sisi mereka karena tak sanggup menghadapi suami yang demikian. Lain halnya dengan eommaku, yang rela menghadapi ini semua demi anak-anaknya.

Hari berganti. Rasa takut melandaku saat ini. Takut pada appa yang besar kemungkinan bisa kasar seperti kemarin. Ini yang membuatku gentar menghadapi appa. Sebisa mungkin aku menghindar  bertemu dengannya. Namun rumah kecil kami terasa lebih sempit ketika mau tak mau aku berhadapan dengan appa. Dia menatapku  tajam seolah ingin menerkamku  hidup-hidup. Matanya yang merah menambah ketakutanku.

Namun apa yang ada dipikiranku salah. Dia mendekatiku yang tertunduk ketakutan tanpa bisa melangkah mundur. Dia meraih daguku yang bergetar karena deritan gigiku akibat ketakutanku. Dia menyentuh pipi kiriku yang dipukulnya dan masih meninggalkan bekas memar dan noda darah yang mengering. Appa menyentuh lukaku, menatapku dengan tatapan seolah dia merasa bersalah.

“inikah yang kulakukan terhadap  putriku..?” Tanya nya dengan nada sendu yang sukses membuat ku tercengang.
“appa..” jawabku ragu. Dan tanpa diduga dia menarikku kedalam dekapannya.
“maafkan appa chagi.. appa khilaf, appa gelap mata padamu.. tak seharusnya appa melakukan hal  itu padamu.. maafkan appa ..ini semua gara-gara minuman yang terus di sogokkan kepadaku..”

Aku terkejut mendengar appa mengatakan itu padaku. Namun sejujurnya hatiku bagai melayang saat ini. Aku merasa sangat bahagia appa mengatakan itu. namun aku juga ragu, apa ini hanya ucapannya semata, apakah appa akan kembali menjadi appa yang seperti kemarin,,

“apa yang harus appa lakukan untuk menebus semua yang appa lakukan padamu..??”
“hentikan kebiasaan minum appa.. bisakah?”
“mwo? Minum..”
“ne.. jika appa bersungguh-sungguh ingin menebus apa yang telah kau lakukan,, berhenti lah minum.. dan hiduplah dengan baik, seperti appa yang dulu..”
“baiklah.. demi kau.. appa akan lakukan..”
“jeongmal..?”
“ne.. percayalah pada appa..”
“tentu..”

Pada awanya aku memang tak mempercayai apa yang dikatakan appa, mengingat apa yang sudah terjdi belakangan ini sangat jauh dari kata “dapat dimaklumi” dan tak mungkin appa bisa berubah dalam waktu singkat. Tapi aku mencoba mempercayainya, dan berharap semoga appa memang bersungguh-sungguh ingin merubah kebiasaan buruknya.

Satu minggu, dua minggu bahkan sampai satu bulan.. appa mampu membuktikan bahwa dirinya memang sudah berubah,. Kebiasaan minum-minumnya sudah tak pernah lagi dia lakukan. Pulang bekerja tepat waktu, tak pernah marah-marah bahkan memukulku lagi, dan kini appa sudah menunaikan kewajibannya sebagai kepala keluarga dengan selalu membiayai setiap keperluan kami.

Masuk bulan ke dua setelah pengucapan sumpah appa tentang merubah kebiasaannya masih bisa dia lakukan. Dan itu cukup menunjukkan padaku dan eomma bahwa harapan appa untuk bisa berubah menjadi lebih baik itu sudah di depan mata dan benar-benar appa melaksanakan janjinya pada kami. Namun harapan itu sirna setelah memasuki minggu ke tiga di bulan kedua, appa kedapatan sedang minum-minum bersama teman-temannya di sebuah kedai. Saat itu aku dan juga eomma beserta adik ku baru selesai mengunjungi teman eomma yang sedang sakit, tanpa sengaja aku dan juga eomma melihat appa di bopong temannya yang juga sama-sama terpengaruh oleh alcohol keluar dari kedai itu sambil bernyanyi tak karuan.

Aku terlebih eomma jelas tak menyangka appa akan seperti ini lagi. kami berfikir bahwa appa memang sungguh-sungguh akan merubah kebiasaannya. Tapi nyatanya tidak. Eomma sudah bicara pada appa mengenai ini. Tapi  apa yang di dapatkannya jauh dari harapan. Bukan jawaban  pasti yang eomma terima, tapi bentakan yang diterimanya.

“apa yang kau lakukan semalam..?”
“apa? Aku tak melakukan apapun..”
“kau mabuk lagi..”
“tidak.. aku hanya minum sedikit..”
“kau fikir aku bodoh?? Aku melihat dengan mata kepalaku sendiri,, kau keluar dari kedai itu dengan minuman di tanganmu dan berjalan sempoyongan..”
“mianhae,, aku tak sengaja.. temanku yang menghasutku..”
“teman..?? kau pikir aku percaya..?”
“lalu apa yang harus ku katakan?” bentak appa tiba-tiba. “baik.. semalam aku memang mabuk.. aku bosan hidup seperti ini kau tau..?? aku bosan terus terlibat dalam masalah yang tak ada ujungnya ini.. kau puas..”

Aku yang memang sedang mengasuh adikku hanya diam mematung mendengar pertengkaran appa dan eomma.. adikku mungkin belum mengerti tentang  situasi yang terjadi.. terkadang aku berfikir betapa beruntungnya dia tidak mengerti tentang ini. Berbeda denganku, belum cukup waktuku untuk memahami kaadaan keluarga yang bisa kukatakan kacau ini.. namun aku dituntut untuk bisa memahami dan mengerti tentang ini semua, meski aku tak ingin.

Setiap hari, kelakuan appa semakin sulit di tebak. Terkadang dia kasar, terkadang dia baik dan lembut. Terkadang dia murah hati, namun tak jarang appa juga mengambil jerih payahku dan jerih payah eomma yang sudah susah payah kami tabung untuk mengobati penyakit adik yang membutuhkan biaya yang tak sedikit. Tapi appa sama sekali tak berfikir sampai sejauh itu. dia lebih memilih bersenang-senang dengan teman minumnya dibanding berkumpul dan memikirkan bagaimana menyelesaikan semua masalah yang ada. Bahkan tak jarang appa selalu pulang larut malam dan tak pulang selama beberapa hari.

Aku dan eomma tak perduli lagi dengan appa. Masa bodoh apa yang akan dilakukannya. Yang terpenting sekarang adalah bagaimana aku mengumpulkan biaya untuk sekolahku dan juga pengobatan adik. Aku tak mau eomma terus menanggung semua ini sendirian. Meski aku tak bisa berbuat banyak, tapi  setidaknya aku bisa sedikit membantu eomma saat ini.

Dengan kerja kerasku dan juga eomma selama hampir dua tahun ini, sedikit demi sedikit masalah dapat teratasi. Meski tanpa appa yang membantu, tapi kami  bisa membuktikan bahwa satu orang dewasa dan satu orang anak kecil yang berusaha keras jauh lebih baik daripada seorang dewasa pemabuk bersatu dengan dua orang wanita pekerja keras. Adik ku kini sudah membaik keadaannya, menurut dokter dia sudah hampir sembuh total. Hanya tinggal menunggu pemulihan. Dan itu berarti biaya pengobatan pun akan sedikit berkurang dan bisa digunakan untuk memenuhu kebutuhan yang lain.

“So Hee sayang,, adik mu kini sudah hampir sembuh, dan itu berarti akan sedikit meringankan biaya untuk pengobatannya, dan itu berarti juga, bisa digunakan untuk menutuopi biaya sekolahmu..”
“tidak eomma.. sebaiknya eomma gunakan saja untuk keperluan yang lain.. untuk sekolah, aku sudah mempunyai tabunganku sendiri..”
“tapi..”
“sudahlah eomma.. eomma  simpan saja.. mungkin nanti  bisa digunakan untuk keperluan mendesak..”
“kau memang anak yang baik So Hee.. eomma menyayangimu..” katanya lembut seraya mengusap lembut rambut yang sengaja ku gerai bebas.

Ya,, beginilah kami sekarang. Meski tanpa appa yang membantu, tapi kami bisa membuktikan bahwa kami mampu. Appa memang selalu ada bersama kami, tapi dia tak sekalipun membantu kami, bahkan hanya membantu  untuk berfikirpun tak pernah. Appa hanya pulang untuk makan dan tidur saja.

oOoOoOo

Hari ini kelabu,, begitu juga suasana di rumah kecil yang kami tiggali di pemukiman sederhana ini. Entah apa yang terjadi, mendadak semua kaku. Aku sendiri tak mengerti dengan apa yang terjadi. perasaanku hari ini sangat tidak enak.
“sepertinya akan ada hujan lebat..” racauku.
“so Hee..” panggil seseorang yang aku tak ingin temui sebenarnya.
“ne appa..” meski malas,, lebih baik aku menjawab. Takut-takut amarahnya meledak kembali.
“kau.. temani appa keluar sebentar..”
“mwo?? Apa yang akan kau lakukan pada  So Hee..?” Tanya eomma tiba-tiba, tak percaya dengan yang di dengarnya.

Aku hanya diam tak membuka suara sedikitpun. Aku hanya menurut pada yang menang di antara dua dewasa yang berdebat. Aku berharap semoga eomma yang memengangkan perdebatan, tapi rupanya salah. Ucapan  eomma kalah dengan gerakan kaki appa yang tiba-tiba melangkah  menarikku keluar saat eomma belum selesai bicara.

Tak percaya dengan apa yang terjadi, ternyata appa membawaku ke kedai tempat biasa dia minum-minum bersama teman-temannya. Dan yang lebih parah lagi, kini appa sudah berani bermain judi  bersama mereka semua. Aku mulai merasa cemas dengan ini semua. Aku menatap sekeliling kedai, tampaknya tak ada seorang pun yang tidak  berada dibawah pengaruh alcohol.

Dan yang lebih membuatku terpukul  tak percaya adalah, bahwa appa tega menjadikanku, puterinya sebagai taruhan karena appa nyatanya selalu kalah telak. Aku benar-benar membenci appa, sungguh membencinya. Appa mana yang tega menjadikan puterinya sebagai taruhan?? Hanya dia, appa ku.

Kalah, appa ku kalah taruhan.. dan dia meninggalkan ku disini, bersama para pemabuk yang entah apa yang ada di pikirannya. Aku mengejar appa, menarik tangannya supaya dia tak meninggalkanku sendiri di tengah hujan besar bersama pria-pria mesum yang entah apa yang akan dilakukannya padaku.

“appa… jangan tinggalkan aku.. jebal..” rengekku berharap dia berbalik dan membawaku pulang.
“appa… kumohon.. jangan tinggalkan aku.. appa…” aku terus menarik lengannya. Namun kekuatan seorang anak 15 tahun denagn pria 41 tahun jelas berbeda jauh. Dia menghempaskanku begitu saja ditengah hujan lebat tanpa sekali pun menoleh kebelakang.
“appa…..” tangis kesakitan hatiku pecah seketika.

Betapa teganya appa padaku.. dia menjualku hanya demi permainan yang justru merugikan dirinya sendiri. Aku dikejutkan dengan dua pasang tangan kekar yang menarik paksa diriku. ketakutanku membuncah seketika. Belum hilang rasa sakitku karena appa meninggalkanku , kini aku dihadapkan dengan dua pria yang entah apa maksudnya menarikku dengan paksa.

“apa yang ingin kau lakukan.. lepaskan aku..” pintaku meronta mencoba melepaskan diri dari tangan-tangan mereka.
“kau sekarang sudah milik kami So Hee sayang.. jadi kami bebas melakukan apapun yang kami inginkan..”
“shireoo.. lepaskan… lepaskan..”
“sudah.. diam.. ikut saja bersamaku..”
“shireo.. lepaskan..”

Aku terus meronta agar bisa terlepas dari mereka.. menggigit tangan mereka sudah kulakukan sampai aku terbebas dari mereka, aku berusaha lari  sekuat tenaga meski petir menyambar dari atas sana. Namun langkah kaki mereka dua kali lebih cepat dari langkah kakiku.. aku diseretnya untuk megikuti mereka.. tentu aku menolak dengan sekuat tenaga sampai mereka merasa jengkel  padaku dan memukulku hingga aku hampir pingsan. Namun aku berusaha keras untuk tetap terjaga meski rasa sakit di pundakku begitu berdenyut. Mereka terus menarikku dan memaksaku. Aku masih tetap menolak, sampai aku melihat seseorang berjas putih menolongku dari  mereka dan dia menghampiriku..
“gwaenchanha-yo..?” namun semuanya terasa berat,, kemudian gelap..

oOoOoOoOo

Sinar temaram lampu begitu terasa menyolok mataku. Memaksa mereka untuk segera terjaga dan bangun kepada dunia nyata. Hangat,, itu yang sekarang kurasakan. Dan baru kusadari aku berada di sebuah ruangan seperti kamar tidur, namun terlihat begitu mewah dan elegant.

Seorang pria dewasa sedang duduk memperhatikan ku dengan seorang wanita dibelakangnya. Aku ingat, dia pria berjas putih itu, yang menolongku kemarin.
“kau sudah bangun..?”
“dimana aku..?”
“kau aman dirumahku..”
“ahh.. kau yang menyelamatkan ku tuan. Gamsahahamnida..” lanjutku berusaha beranjak bangun. Tapi ngilu di sekitar pundakku masih terasa sangat perih..
“gwaenchanha-yo..?” tanyanya tampak khawatir. Dia memgangi pundakku yang semakin disentuh semakin terasa ngilu.
“aaarrrrrhh….” Ringisku memegangi pundak sebelah kiri.
“ah.. mianhae.. “ lanjutnya kemudian melepaskan tangannya dariku. “sepertinya cideramu sangat serius.. biar kupanggilkan dokter..”
“tidak perlu tuan..” tapi sepertinya dia tak mendengarkan ku.

Dokterpun datang dan memeriksaku. Dia mengatakan cidera ku memang bisa di katergorikan cukup serius. Akibat hantaman benda berat yang dilayangkan pria pemabuk itu, aku harus menderita sakit yang luar biasa.

“nona…??”
“So Hee.. namaku So Hee..”
“iya, nona So Hee, kau harus istirahat penuh untuk memulihkan kondisimu. Cideramu  cukup serius. Dan jangan memaksakan diri untuk mengangkat beban yang berat..” tutur dokter itu.
“aku harus pulang..”
“sebaiknya kau tinggal disini.. sepertinya kau bermasalah dengan pria yang meninggalkanmu kemarin..” jawab seorang wanita yang kupikir dia adalah nyonya di rumah ini.

Sejenak aku terdiam mengingat kejadian semalam. Hatiku tersayat manakala mengingat bahwa appa sudah membuangku. Entah apa yang harus kulakukan sekarang.. aku hanya bocah 15 tahun yang di buang appanya sendiri. Tapi aku tak bisa disini.

“jadilah anak perempuanku.. kau lebih aman disini..”

Disinilah aku mulai sekarang, memulai kehidupan baruku dirumah ini. Aku hidup sangat nyaman disini, semua keluarga disini baik padaku. Cho ahjussi, Cho ahjumma, dan anak mereka, Cho Kyuhyun juga baik padaku. Meski dia terkadang dingin, tapi dia sama sekali tak pernah berbuat jahat padaku. Aku dan dia hanya berselusuh usia 3 tahun. Sehingga tak sulit untukku bisa beradaptasi dengannya.

Disini aku diajarkan banyak hal. Cho Ahjumma juga mendatangkan seorang guru untuk membantuku belajar. Aku sangat senang karena kini aku tak perlu memikirkan pekerjaan apa yang aku harus lakukan untuk dapat terus sekolah. Hanya 1 yang kupikirkan sekarang, bagaimana kehidupan eomma dan adik..??

Pikiran akan eomma yang terus menghantui setiap hariku. Pikiran tentang eomma yang terus mencemaskan ku. namun aku hanya bisa memendamnya sendiri. Aku tak bisa mengatakan apapun pada keluarga Cho ini. Mereka sudah terlalu banyak membantuku disini.. aku tak ingin menyusahkan mereka..

Bulan berganti tahun.. entah sudah berapa lama aku tinggal dengan keluarga ini. Aku tak terlalu memikirkannya. Yang selalu ku pikirkan adalah belajar dan belajar agar kelak ketika aku bertemu dengan eomma.. aku bisa munjukkan bahwa impian kita selama ini tercapai.

“so Hee.. bisakah kita bicara..” Tanya Cho ahjumma dan Cho ahjussi.
“ne..”
“begini.. kau sudah berumur 22 tahun sekarang, dan kau sudah harus tau dunia luar..”
“ma.. maksud anda..?”
“kami tidak bisa menyembunyikanmu terus menerus so Hee..” aku menyimak baik-baik apa yang dikatakan mereka.
“tapi aku nyaman seperti ini..”
“tidak.. itu tidak baik untukmu.. kau gadis pintar,, sangat disayangkan jika kau hanya menjadi gadis rumahan biasa.. jadi kami memutuskan…” kalimatnya menggantung tiba-tiba. Aku tak mengerti sesungguhnya apa yang direncanakan mereka..
“jadi kami memutuskan kau dan putera kami menikah saja..”
“m..mwo..??” jelas aku terkejut mendengarnya. Lelucon macam apa ini..
“ini demi kebaikan mu So Hee.. kau akan aman jika menikah..”
“aman? Mereka sudah tak mengejarku lagi.. mungkin mereka sudah melupakan ku dan tak lagi mengenaliku..”
“siapa yang tau apa yang akan terjadi. kami hanya mengkhawatirkanmu.. dan kami juga sangat merasa perlu untuk melindungi mu setelah Kyuhyun membawamu ke rumah ini dan menceritakan apa yang dilihatnya malam itu.”

Jadi.. yang membawaku, dan menolongku itu,, Kyuhyun?? Dan bukan Cho Ahjussi..?

“jadi.. kumohon.. menikahlah dengan puteraku.. bukan hanya demi kau So Hee.. tapi juga karena aku berfikir, kamu lah yang lebih pantas bersamanya..” aku tak mampu menjawab apapun pada mereka. ini membingungkan..
“diam berarti kau setuju.. kita tinggal memilih waktu yang tepat untuk melaksanakannya..?”
“mwo?? Apa anda tak bertanya pada Kyuhyun-ssi terlebih dahulu??”
“kami sudah berbicara dengannya jauh sebelum kami berbicara pasamu..” Mwo? Apa yang dikatakan ahjumma? Sudah berbicara dengannya terlebih dahulu,, kenapa jadi seperti ini..

Dan ucapan mereka bukan hanya isapan jempol belaka. Mereka sungguh-sungguh sudah merencanakan semua ini dengan matang. Tak membutuhkan waktu lama, mereka memutuskan untuk menikahkan ku dan puteranya. Hanya berselang beberapa minggu dari pembicaraan mereka denganku. Dan baru kusadari, mereka, keluarga Cho telah mempersiapkan ini semua sebelum aku mendengar mereka bicara denganku.

Setelah acara pernikahan di gelar lantas keluarga ini memperkenalkanku sebagai anggota baru mereka. Cho Ahjumma dan Cho ahjussi yang sekarang harus kubiasakan memanggilnya eomma dan appa tak menyembunyikan apapun tentang diriku pada teman-temannya. Aku berfikir apakah ini tak berdampak buruk bagi mereka?

“tenanglah.. ini sudah dipikirkan dengan matang..” sergah Kyuhyun yang seolah tau isi pikiranku. Dan itu pula lah yang membuat ku sedikit.. kagum. Dan dia melontarkan senyumnya yang entah mengapa terlihat sangat,, manis.

Jauh dari dugaanku saat itu, yang berfikir citra keluarga ini akan hancur karena aku, ternyata semua baik-baik saja. Tak ada satu pun yang berkata buruk tentang keluarga ini. Ini aku ketahui dari beberapa staff yang bekerja di kator appanim.. mereka mengatakan
“semua baik-baik saja nona..”

Lega.. aku sangat lega. Dan aku juga sangat bersyukur tuhan berlaku adil pada keluarga ini yang sangat baik padaku dengan terus memberikan berjuta kebaikan pada mereka.

oOoOoOoOo

hari ini aku memutuskan untuk berjalan-jalan di taman kota. Sedangkan Kyuhyun sedang sibuk dikantor. Kami memang jarang memiliki waktu untuk sekedar berjalan bersama begitupun di rumah. Dia memperlakukanku layanknya seorang suami terhadap istrinya. Namun aku sendiri belum bisa melakukan hal yang sama terhadapnya. Bahkan ketika dia menyentuh lenganku pun aku begitu merasakan ketakutan yang luar biasa. Bayangan kelam itu terus menghantuiku. Beruntung Kyuhyun begitu memahamiku dan dia pun tak pernah menuntutku lebih.

Aku berjalan tak tentu arah. Hanya mengikuti kemanapun kaki ku ini ingin melangkah. Merasakan indahnya hari dan segarnya udara meski awan hitam di atas kepalaku mulai berkumpul. Rasa pegal dikakiku memaksakanku untuk berhenti sejenak dan duduk di sebuah bangku kayu. Tak lama ku istirahatkan kaki ku, tiba-tiba kulihat sepasang kaki jenjang berdiri di samping kananku dan menjulurkan sebotol minuman padaku. Dan hal itu membuatku lebih terkejut ketika kudapati dia adalah Kyuhyun.

“mengapa kau tak menghubungiku jika kau membutuhkan teman berjalan.. kau tau? Berjalan sendirian di taman itu membosankan..”
“gamsahamnida.. aku khawatir mengganggu pekerjaan mu, Kyuhyun-ssi. Jadi kuputuskan berjalan sendiri.” Jawabku sembari mengambil apa yang disodorkannya padaku.  Dan Kyuhyun pun duduk bersamaku. Ini aneh. Baru kali ini aku dapat duduk hanya berdua saja bersamanya. Mengapa jadi sesak? Dan apa ada yang salah dengan kinerja jantungku? Kenapa lambat laun detakannya semakin cepat??
“apa kau sakit?”
“ne?”
“kau tampak sedikit.. pucat..”
“animnida.. Kyuhyun-ssi..”

Beginilah aku bahkan terhadap suamiku sendiri. Kaku, dan Formal. Aku terbiasa seperti ini sejak pertama aku masuk kedalam keluarga Cho. Dan ini berlanjut hingga sekarang.

“sampai kapan kau akan berbicara formal padaku, So Hee?”
“mianhamnida jika itu mengganggu mu.. tapi aku sudah terbiasa bicara seperti ini..”
“ssshhhh.. bagai mana ini.. istriku sediri kaku di hadapanku. Apa yang harus kulakukan..?? Ya! So Hee.. bisakah kau tak bersikap formal padaku?”  dia mendekatkan wajahnya padaku hingga sejajar. Dan baru ku sadari dia memiliki manik mata yang indah dan cemerlang.
“a.. aku … tak bisa..”
“ku ajarkan,, bagaimana..” dia masih berada di posisinya.
“mwo?”
“dimulai dari kau jangan memanggilku Kyuhyun-ssi lagi, tapi cukup panggil aku Kyuhyun saja. Otte..?”
“mianhamnida Kyuhyun-ssi.. tapi aku tak bisa melakukan itu..”
“atau kau panggil aku oppa..” MWO? Apa katanya barusan? Oppa..?
“hei,, So Hee.. wajahmu jangan memerah begitu,, membuatku ingin memakanmu..”

Kupalingkan wajahku segera, mengindari tatapannya yang semakin membuat aku tak nyaman. Bertahun-tahun aku tinggal bersamanya, namun baru kali ini aku merasakan hal yang seaneh ini jika bersamanya.

“so hee..” sapaan itu menyapu lembut gendang telingaku.  Kurasakan sesuatu yang hangat dan lembut menyentuh tanganku.
“bisakah kau bersikap biasa padaku..?” tanyanya serius.
“aku..”
“kumohon.. “ melihat ekspressinya yang tampak bersungguh-sungguih pun membuat rubuh pertahananku. Dan kuanggukkan kepalaku menjawab ucapannya.
“gumawo So Hee..”  lanjutnya kemudian.

Dia menangkup sebelah pipiku, dan menyapukannya lembut. Terkejut atas perlakuannya jelas kualami. Perlakuannya padaku saat ini membuat ku teringat dengan eomma. Eomma selalu membelaiku penuh kasih saat aku membutuhkannya. Eomma selalu membelaiku saat aku butuh kekuatan besar untuk menghadapi appa. Namun sekarang tidak lagi. aku tak bisa merasakan hangatnya tangan eomma lagi.
“ya,, So Hee.. kau kenapa? Kenapa kau menangis..?”
“anioo, aku hanya.. hanya..”

Tanpa terduga Kyuhyun menarikku kedalam pelukannya. Terkejut? Jalas aku sangat terkejut. Namun sedetik kemudian rasa sesakku akan ingatan tentang eomma memudar berganti dengan perasaan nyaman untukku. Bayangan kelam yang selalu membuatku takut hilang dalam pelukannya. Entah apa yang dimiliki namja ini hingga dia bisa menghilangkan rasa takutku yang luarbisa.

“sudahlah.. sebaiknya kita pulang. Sepertinya akan turun hujan lebat sebentar lagi.”
“nde..”

Dia menarikku lembut meninggalkan taman indah itu. tangan hangatnya tak pernah lepas dariku.

“So Hee..” seseorang memanggilku dengan kasar.

Suara itu.. aku mengenalnya. Suara yang tak ingin ku dengar lagi selamanya. Tapi mengaopa disaat seperti ini dia muncul. Aku tak berani menjawabnya, bahkan untuk berbalik dan melihatnya. Namun tiba-tiba tanganku ditarik paksa dari arah belakang, memaksaku untuk berbalik walau aku tak mau.

“kau.. benar kau So Hee.. YA.. NAPPEUN.. KAU HANYA MEMBUAT MASALAH UNTUKKU”  bentaknya.
“KAU YANG MENCIPTAKAN MASALAHMU SENDIRI. KAU MENYERAHKAN KU PADA ORANG-ORANG ITU.. KAU TAK TAU APA YANG KUALAMI SETELAH ITU..” meski aku ketakutan setengah mati berhadapan dengannya lagi, tapi kukumpulkan keberanianku untuk menghadapinya lagi. meski tanpa eomma dibelakangku.
“YA..!! PLAKK..” tangan itu mendarat dengan sempurna sama seperti beberapa tahun lalu.
“PUKUL AKU SAMPAI KAU MERASA PUAS…”

PLAAKK..  lagi, dia memukulku lagi. kini nafsu jahatnya mulai merasuki hatinya. Dia bukan appa yang kukenal lagi. dia berubah menjadi orang lain. aku tak mengenal pria di hadapanku ini. Kurasakan sebuah pecutan keras mendarat di tubuhku dan membuatku terduduk. Dia terus menerus menghujamkan nya padaku.

“YA.. HENTIKAN….”
“siapa kau..?? berani menghentikan ku memberi pelajaran anak kurangajar ini..”
“yeoja yang kau katakana kurangajar ini adalah istriku.. kau tau?”
“mwoo.. hahahaha.. kau begitu tampan dan terhormat.. tapi kenapa kau menikahi wanita yang bodoh seperti dia..”
“benar, dia memang bodoh.. bodoh karena masih mengharapkanmu kembali padanya.. aku tau apa yang kau lakukan padanya. aku saksi mata atas kejadian tujuh tahun lalu.”
“mwo?”
“kedai itu? pria-pria hidung belang itu? aku tau.. aku bisa saja melaporkanmu pada polisi.. tapi kulihat So Hee tak ingin aku melakukannya.. jadi.. enyah lah dari sini. Enyah lah dari kehidupan So Hee.. selamanya.”

Aku tertegun mendengar apa yang dikatakannya. Dia membelaku? Benarkah itu? dia membimbingku masuk kedalam mobilnya. Sayup-sayup aku mendengar orang itu berteriak yang kutau di tujukan padaku. 

“YA..!! KAU LUPA EOMMAMU MASIH ADA DI TANGANKU.. KITA LIHAT.. APA YANG BISA KULAKUKAN PADA EOMMA DAN ADIK TERSAYANGMU..”

Degg.. apa yang akan dilakukannya pada eomma.. bagaimana jika dia menyakiti eomma, juga adikku.. aku tau appa ku itu tak main-main dengan ucapannya.

*

*

Kurasakan sepasang tangan hangat menyelimutiku. Kemudian memelukku hangat. Kyuhyun.

“tenanglah, semua akan baik-baik saja..” ucapnya menenangkanku.
“aku takut.. appa ku bukan orang yang suka main-main. Dia pasti serius dengan ucapannya. Dia akan menyakiti eomma.. bagaimana ini.. aku anak yang tak berguna.. bahkan aku tak lagi bisa melindungi eomma juga adikku..”
“tenanglah.. semua sudah ku atasi. Eomma mu baik-baik saja..”
“bagaimana bisa..”
“apa yang tak bisa kulakukan?” aku makin tak mengerti dengan perkataannya.
“dengarkan aku,, aku tau kau selalu merindukan eomma mu belakangan ini, iya kan? Maka dari itu aku mencari eomma mu. Dan kau tau? Eomma mu juga adik mu baik-baik saja. Dan mereka tak tinggal bersama appa mu lagi. dan aku menceritakan apa yang terjadi denganmu padanya, dia sangat bersyukur kau dalam keadaan baik-baik saja.”
“lalu dimana mereka sekarang..? bawa aku menemui mereka.. kumohon..”
“pasti. Tapi tidak sekarang..”
“kenapa?”
“orang itu,, mungkin dia kini sedang mengawasimu. Ini terlalu berbahaya. Terlebih untuk eomma dan adikmu. Bersabarlah.. jika aku tak bisa membawamu menemui mereka, akan kubawa mereka menemui mu..”
“jeongmal..?”
“ne..”
“kenapa kau baik sekali padaku…?”
“sudah kewajiban ku melindungimu. Semenjak aku membawamu kemari, aku merasakan bahwa aku harus melindungimu..”
“kau namja baik.. tak seharusnya aku membawamu kedalam masalahku..”
“itu sudah tugasku..”
“jika semuanya sudah berhasil.. maka kau tak perlu lagi menjagaku..”
“apa maksudmu?’
“bukankah appanim dan eommanim menjodohkan kita untuk melindungiku..?”
“kau sungguh-sungguh berfikir demikian? Asal kau tau So Hee, untuk apa aku menikah denganmu hanya untuk melindungi mu? Tanpa menikahpun aku masih bisa melindungimu.. aku menyanggupinya karena aku memang ingin menikah denganmu. Apa aku salah?” Aku diam menyimak setiap detail kata yang keluar dari bibirnya.
“mianhae..” sesalku telah mengatakan itu.
“sudahlah.. kita mulai ini dari awal lagi.. kita pikirkan bersama bagai mana langkah kedepan untuk bisa membawa eomma mu kemari. Tentunya tanpa sepengetahuan appamu.”

Aku tau Kyuhyun mencoba menenangkanku, tapi itu belum berhasil kurasa. Ketakutanku terhadap appa yang mungkin bisa menyakiti eomma masih membayangiku. Meski dia bilang eomma berada di tempat aman di bawah pengawasannya, tapi aku belum dapat tenang jika belum melihat eomma secara langsung.

“baiklah baiklah.. akan kubawa kau besok menemui eomma mu.. kau pasti tak mempercayaiku kan..?”
“benarkah?? Terimakasih banyak.. Kyuhyun-ssi… eh, mian..”
“istirahatlah.. besok akan menjadi hari yang panjang.. kau harus mempunyai tenaga yang banyak untuk menemui eomma mu..”
“mmmm… tentu..”

Dia kemudian menyelimuti ku dan.. ‘CHU~’ mencium keningku lembut. Perlakuannya padaku telah berhasil membuat wajaku terasa memanas. Dengan cepat ku tutupi sebagian wajahku dengan selimut tebal yang menutupiku, mencoba menyembunyikannya dari Kyuhyun yang kutau dia sedang menahan tawanya melihat tingkahku. Dia terlalu tau tentang diriku, dia bisa tau apa yang ada dipikiranku. Entah bagaimana caranya agar bisa menyembunyikan isi pikiranku darinya.

oOoOoOo
*

*

*

* To Be Continued...
 

Senin, 17 Desember 2012

FANFICTION: FORGIVE ME (CHAPTER 1)



TITTLE                     : Forgive Me (chapt. 1)
AUTHOR                 : Novarida Mardliatin
FACEBOOK ID        : Fhaa Wanay Min
TWITTER ID          : @NovaRidaa
GENRE                     : Romance, Bit Hurt
LENGTH                   : Two Shoot
RATING                   : GENERAL
MAIN CAST            :
·                     Author a.k.a Kim Hyun Kyo
·                     Super Junior's Kyuhyun a.k.a Cho Kyuhyun
·                     Fauzzia Diny a.k.a Park Ji Soo
·                     And other cast (temukan sendiri..^^)

DESCLAIMER      : ini story milik saya. Alur tentu terserah saya,, kekeke...  masih banyak typo dimana-mana. Jadi jangan kaget.. oh iya,, jika ada kemiripan dengan cerita yang pernah reader baca sebelumnya, itu murni kebetulan. FF ini murni hasil yang keluar dari otaknya author langsung. DILARANG KERAS UNTUK MENG-COPY PASTE FF INI TANPA IZIN DARI AUTHOR..*caps jebol

Happy reading all……

*

*

*

To: Hyun Kyo..
Chagi,, kau kemana saja..? aku mencoba menghubungimu, tapi kau tak pernah membalas satupun pesan maupun telephone dariku. Tak tahukah kau? Betapa rindunya dan tersiksanya aku selama kau menghindari ku..?? entah apa yang terjadi denganmu chagi, sampai kau tiba-tiba bersikap seperti ini padaku. Apa aku melakukan kesalahan yang membuat kau terluka?? Jika memang Ya, kumohon,, maafkan aku chagi.. aku mohon..

Chagi,, ada yang harus aku katakana padamu.. ini mengenai eommaku..
Eomma mengirimku ke Jerman untuk melanjutkan Studyku. Maaf aku tak mengatakan ini terlebih dahulu.. aku ingin mengatakannya padamu, tapi tak satupun panggilan dariku kau jawab. aku tak mau berpisah denganmu chagi.. tapi aku juga tak ingin mengecewakan kedua orang tuaku.  ini keputusan yang sulit. Jika saat itu kau bersamaku, pasti kau bisa memberikan solusi yang tepat untukku..

Chagi,, malam ini aku akan berangkat ke Jerman,, jika kau ingin aku tinggal disini,, kumohon,, datanglah ke Bandara Incheon, maka aku tak akan pergi ke jerman. Aku benar-benar tak ingin pergi, aku ingin bersamamu disini..

Chagi,, kutunggu kedatanganmu malam ini..

_Kyuhyun_

Hyun Kyo hanya terpaku menatap lembaran kertas putih itu dengan air mata yang menggenang di pelupuk matanya. Ia tak tau harus berbuat apa sekarang. Dia tak ingin menghancurkan masa depan kekasihnya, namun disisi lain ia juga tak ingin berpisah dari namja yang sangat dicitainya.

“bagimana ini.. apa yang harus aku lakukan..??” lirihnya.

--

Penunjuk waktu yang terpampang di pergelangan tangan seorang namja berambut coklat itu telah menunjukkan pukul 07:30. Kyuhyun kini diambang keputus asaan. Apakah Hyun Kyo akan datang, atau tidak.

“penumpang pesawat penerbangan 13215 dengan tujuan Jerman di harap untuk segera menaiki pesawat, karena pesawat akan segera take off”

Kecewa, itulah yang dirasakan Kyuhyun. Harapan terakhirnya untuk bisa bersama dengan Kekasihnya pupus sudah. Kini ia harus meninggalkan semua harapannya disini. Seoul dan Jerman telah memisahkan mereka. lautan dan samudera telah menenggelamkan semua cerita dan cita-cita mereka. Kyuhyun harus merelakan semuanya disini.

Ia berjalan gontai menuju ruang keberangkatan dengan perasaan yang hancur berkeping-keping. Ia mencoba untuk bisa bertahan, meski tentu akan sulit baginya jika tanpa Hyun Kyo disisinya.

“Kyo, kenapa kau tak datang,, kau tau? Betapa aku mengharapkan kau datang dan mencegahku pergi dari sini. Apakah aku melakukan kesalahan besar? Sampai kau tak ingin bertemu denganku lagi..? jika memamg ini membuatmu lega, aku tidak apa-apa Kyo,, semoga kau bisa hidup lebih baik disini.. suatu saat nanti aku akan datang kembali dan memastikan kau baik-baik saja. Sampai jumpa Kyo, semoga ini bukan akhir semuanya,,”

Kyu berjalan lurus kedepan. Sesekali dia menoleh ke belakang berharap Kyo berdiri di sana. Namun sayang, berkali-kali dia menoleh, berkali itu pula ia tak mendapatkan yang dicarinya. Namun hanya kekecewaan lah yang didapatinya.

Disisi lain, seorang yeoja mencoba berlari sekuat yang dia mampu untuk menghentikan semuanya. Dia berlari dan terus berlari, meski harus bertatih tatih.. Kyo bukanlah seorang pelari yang baik.. meski dia berfokus pada apa yang ingin dicapainya,, dia tak mengubah apapun.. dia hanya berharap, semoga usahanya tak sia-sia, dan semoga ini semua belum terlambat.

Sia-sia.. ketika di ambang harapan untuk bersama, dia harus merelakan kekasihnya pergi.. elang besi yang membawa Kyuhyun kini terbang memecah langit malam di puncak kepala Hyun Kyo. Dia hanya menatap sendu lampu gemerlap sang penerbang tanpa bisa meraih tangan kekasihnya, tanpa bisa menatap sosok badan yang dia tau pasti akan sangat dirindukannya..

“oppa,, kenapa kau meninggalkanku sendiri..? kenapa kau tak menungguku..?”

Hyun Kyo tak bisa berbuat apapun sekarang. Ia hanya bisa menyesali semuanya. Dia terduduk lemas, dia menangis dan terus menangis. Tak peduli semua mata kini tertuju padanya. tak peduli dengan anggapan orang terhadapnya. Dia hanya ingin menangis, sampai semua yang mengganjal di hati dapat keluar dengan sendirinya.

Sayang, semua tak sesuai dengan yang diharapkan. Bukan merasa lebih baik, tapi justru ini lebih membuat dirinya semakin menyedihkan. Dia berjalan lemah tanpa tujuan, tanpa keinginan, dan tanpa arah.

“menyedihkan.. hhaa.. Tuhan.. apa tak ada hal yang lebih menyedihkan dari ini..” umpatnya.

TTTIIIIIIIIIIIIIIIDDDDDDDDDDDDD……. BRAKKK…
Sebuah Klakson panjang membungkam rutukannya dan menghempaskan tubuhnya ke bahu jalanan.

Sebuah mobil putih kini ternoda merah segar di Cap depannya dengan kaca depan yang sudah tak berwujud. Seorang wanita didalamnya tertunduk dan bersandar pada kemudi yang masih memberikan suara lengkingan yang panjang.

Semua orang kini mengrumuni keduanya. Mencoba memastikan keduanya baik-baik saja. Namun sepertinya tidak begitu. Yeoja yang terkulai di tepian jalan yang ternyata dia adalah Hyun Kyo, penuh dengan luka di hampir seluruh bagian wajahnya. Pecahan kaca kini menancap sepurna di semua bagian wajahnya dan membuat darah segar keluar dengan lancarnya. Seorang Yeoja yang tertunduk didepan kemudi tampak tak separah Hyun Kyo. Dia hanya terluka di pepisnya dan membuat noda merah segar mengotori wajahnya.

Seorang pria paruh baya mencoba menekan tombol di benda yang digenggamnya, sampai tak lama dua buah mobil putih bertuliskan “AMBULANCE” membawa kedua gadis itu.

oOoOoOoOo

seorang yeoja berambut panjang dengan perban didahinya duduk termenung disamping yeoja yang tengah berbaring lemah dengan perban yang melingkar menutupi kedua matanya. Sudah seminggu dia terus berada dalam posisi seperti ini dengan tatapan bersalahnya.

“Ji Soo,, sebaiknya kau istirahat dulu,, nanti kesini lagi..” ajak seorang wanita paruh baya bengan lembut.
“shireo eomma,, aku ingin tetap disini. memastikan semua baik-baik saja..”
“tapikau juga harus istirahat..”
“ani.. ini salahku,, aku harus bertanggung jawab eomma..”
“yasudah..”

Yeoja yang diketahui bernama Park Ji Soo itu menatap kosong pada yeoja yang ada dihadapannya. Dalam hatinya dia merasa bersalah atas kecelakaan yang menimpa mereka.

*flash back
dia terus menekan-nekan tombol pada layar benda kecil berwarna putih dalam genggamannya. Sampai dia lupa dia sedang mengemudi di jalanan kota seoul yang ramai.

PLUKK
Benda kecil itu terjatuh dari genggamannya.

“aishh.. kenapa harus jatuh..”

Ji Soo mencari-cari benda kesayangannya itu di bawah kursi kemudi. Tanpa dia sadari dia telah menerobos lampu merah.

“hh.. akhirnya ketemu..”
Sampai Ji Soo mencoba kembali berfokus pada kemudi, dia menyadari ada seseorang didepannya..
KYAAAAAAA……..
*end Flashback

Jika mengingat itu, perasaannya bagai tersayat. “bagaimana bisa aku seceroboh itu.?” batinnya. Sampai apa yang dikatakan dokter tentang kondisi yeoja itu
nona Hyun Kyo mendapatkan benturan keras akibat kecelakaan itu. posisi kepala yang membentur keras kaca mobil sampai itu (kaca) pecah. Dan pecahannya menancap di sebagian wajahnuya. Dan yang paling parah adalah kaca itu berhasil masuk pada matanya dan melukai kornea matanya..’
‘lalu apa yang akan terjadi dokter?’
‘kemungkinan besar, dia akan mengalami kebutaan permanen, dan bisa sembuh hanya dengan donor mata yang cocok bagi nona Hyun Kyo..

Kristal bening kini lolos keluar dari pelupuk mata indah milik Ji Soo. Dia kini lebih merasa bersalah atas kecerobohannya. Pada awalnya dia berniat membagi matanya untuk Kyun Kyo sebagai bukti tanggung jawabnya. Namun orang tua Hyun kyo tak mengijinkannya.
sudah cukup anakku yang menderita karena kehilangan matanya, kami tak ingin ada gadis lain yang mengalami hal yang sama seperti itu..” ucap wanita yang tak lain eomma dari Hyun Kyo sambil memeluk lembut Ji Soo yang sedang menangis.

“Kyo, maafkan aku telah merusak hidupmu dengan kecerobohanku. Aku berjanji akan melakukan apapun untuk menebus kesalahanku. Meski kau nanti tak bisa melihat lagi,, biarkan aku yang menggantikan matamu. Meski kau hidup dalam gelap, biar aku yang menjadi lilin kecil yang menerangi sekitarmu. Aku berjanji akan menjadi temanu mulai sekarang, dan akan menjagamu dari kekecewaan yang lain.” lirihnya dengan penuh isakan pilu dari bibir tipisnya.

Seharian ini Ji Soo terus menjaga Hyun Kyo yang masih terbaring. Sampai tak terasa kini dia mulai terlelap di samping Hyun Kyo yang perlahan mulai menggerakkan jari-jarinya tanpa sepengetahuan Ji Soo.

oOoOoOoOo

Hyun Kyo kini terduduk bersandar di tempat tidurnya. Tatapannya kosong, matanya memerah, bengkak dan sembab. Gadis disampingnya yang masih membenamkan kepala pada lipatan tangannya kini mulai tersadar dari mimpinya. Dan dia terkejut dengan banyaknya orang yang ada diruangan itu.

“eomma,, kenapa ada disini..”

Eommanya tak menjawab apa yang ditanyakan putrinya. Eommanya hanya tersenyum getir. Ji Soo mengerti, dan kemudian langsung berbalik ke arah Hyun Kyo.

“Hyun Kyo.. aku..” dia tak mampu melanjutkan kata-katanya.
“dia sudah tau semuanya sayang..”
“Hyun kyo,, aku Minta maaf,, sungguh.. aku tak bermaksud menghancurkan semuanya..”

Namun yang diajak bicara tidak sudi membuka mulutnya barang secenti pun. Dia hanya mematung, tak bergerak, tak bicara, tak melakukan apapun. Dia hanya menatap kosong kedepan tanpa ada yang dipikirkannya. Ini begitu sulit untuknya,
‘tuhan benar-benar membuatku hancur, terpojok dalam kegelapan.” Batinnya.
Sesekali air mata merembes keluar dari mata beriris cokelat itu, tanpa ekspresi,

Setiap hari Hyun Kyo hanya diam tak bersuara. Dia hanya menghabiskan waktunya di dalam kamar hanya dengan Kuas dan kanvas di depannya yang masih putih bersih. Ditatapnya kanvas itu meski sebenarnya dia sama sekali tak bisa melihat wujud kanvas itu sendiri. Sesuai janjinya, Ji Soo dengan setia menemani Hyun Kyo. Dia selalu mengajak Hyun Kyo bicara meski tak pernah ditanggapi sedikitpun.

Hari ini Ji Soo kembali mengunjungi Hyun Kyo di rumahnya. Sesekali dia mendengar suara seperti kanvas yang terjatuh, meja yang terguling, atau suara seperti pecahan kaca. Dan seperti suara frustasi dari si pemilik kamar. Ji Soo yang mendengar itu semakin merasa dirinya buruk.

“Kyo..” kyo tak menjawab. Dia hanya mencoba bangkit dari posisinya yang terduduk di lantai akibat terjatuh tadi. Ji Soo mencoba membantunya namun tangannya di tepis oleh Hyun Kyo. Ji Soo hanya diam, dia mengerti situasi yang dialami Hyun Kyo saat ini. Dia mengedarkan pandangannya pada semua penjuru ruangan. “kacau” pikirnya. Namun mata Ji Soo terfokus pada beberapa lukisan yang ada di pojok kamar Hyun Kyo, kemudian mendekatinya. Dia menatap setiap lukisan yang ada dikamar itu yang dia yakini adalah lukisan hasil tangan Hyun Kyo.

Matanya berpindah dari lukisan pantai ke lukisan yang lain. “menakjubkan..” batinnya. Namun matanya tertarik untuk melihat lukisan yang tergeletak di lantai tempat Kyo terjatuh tadi. Dua buah lukisan yang entah gambar apa. Keduanya berbentuk abstrak namun memiliki perasaan. Yang satu penuh dengan warna gelap, biru, hitam, dan itu menunjukkan kekecewaan dirinya. Dan yang satu nya lagi penuh dengan warna terang dan gelap. Merah, cokelat, hitam, seperti warna rasa marah. Dan ketika Ji Soo menyentuh gambar lukisan yang masih basah itu, hatinya seperti merasakan rasa marah si pencipta lukisan ini. “apa dia marah padaku..?” batinnya.

“aku memang tak berguna..”

Lamunan Ji Soo dikejutkan oleh suara Hyun Kyo yang baru pertama kali didengarnya. “suara yang indah, namun sayang selama ini dia bungkam” lagi-lagi batinnya bicara.

“maksudmu..?” Tanya Ji Soo yang langsung membantu Hyun Kyo yang masih mencoba berdiri.
“aku memang tak berguna.. lihat aku sekarang, aku tak bisa berbuat apa-apa. Aku cacat, aku tak bisa melihat, bahkan untuk berdiri dan duduk pun aku harus dibantu. Menyedihkan..”
“jangan berkata seperti itu..”
“memang benar kan..?”
“aku tau.. aku minta maaf, aku yang salah,, aku yang menyebabkan kau menjadi seperti ini,, aku yang salah.. aku minta maaf.. sungguh aku minta maaf….” Katanya dengan nada suara yang bergetar.
“k.kau.. kenapa seperti itu.. aku tak menyalahkan mu.. aku tak bermaksud menyalahkanmu..” Hyun Kyo meraba-raba mencari sosok Ji Soo yang memang berada disampingnya. Dia meraba wajah Ji Soo merasa bersalah atas ucapannya tadi.

“tapi aku memang bersalah.. aku ceroboh.. sampai,,”
“ya..! sudahlah.. aku tidak apa-apa.. aku hanya kesal tadi..”
“kesal..? padaku ya??”
“aa.. bukan..” Kyo mengibas-ngibaskan tangannya ke sembarang arah
“lalu.??’
“sudahlah.. tak perlu di bahas..”

Ji Soo menatap wajah Hyun Kyo disampingnya. Dia melihat Hyun Kyo tidak seburuk dulu. Hari ini terlihat segaris senyum ada di wajah Hyun Kyo. Meski itu masih samar terlihat. Sejenak dia melihat lukisan yang tergeletak sembarangan di lantai. “apa itu yang jadi pelampiasan Hyun Kyo..?”

Perlahan Hyun Kyo mulai melunak. Dia tak lagi selalu diam jika di ajak bicara. Perlahan dia sudah bisa menerima kenyataan bahwa dia tidak bisa melihat lagi. meski dalam hatinya dia masih sakit atas kejadian ini,, dia tak ingin membuat Ji Soo, yang kini menjadi sahabatnya lebih merasa bersalah. Dan ternyata diam-diam, Hyun Kyo mendengar janji Ji Soo ketika mereka dirumah sakit dulu.

oOoOoOoOo

“kyo..”
“eumm..?”
“kau suka melukis ya..?”
“kok tau?”
“aku melihat lukisan mu,, dan semuanya menakjubkan..”
“hm.. jinjja..padahal itu lukisan yang sudah lama sekali?”
“nde.. aku suka semuanya..”
“gomapta chagii.. kau orang pertama yang menyukai lukisanku..”
“hheeuuhh.. harusnya aku mendapat tanda tangan mu..”
“hhaha.. kau ada-ada saja..”
Tanpa sepenglihatan Kyo, Ji Soo tersenyum haru melihat sahabatnya itu kini bisa tertawa lepas kembali..

“ya.. Kyo.. lukisan pantai itu.. kau tak memberinya judul..?”
“ee? Apa harus?”
“harus.. kau beri judul apa? Biar kutuliskan di lukisanmu itu..”
“eumm.. apa ya..?? SILUET mungkin..”
“nama yang cocok.. hheuu.. apa sejarah dibalik itu?”
“itu tempat favoritku bersama namjachingu ku dulu.”
“jinjja..? ceritakan padaku seperti apa hubungan kalian” Ji Soo mulai tertarik dengan cerita itu.

Dengan penuh perasaan, Hyun Kyo menceritakan semua yang terjadi dari awal bertemu dengan Kyuhyun sampai dia bertemu dengan Ji Soo. Lebih tepatnya mengenal Ji Soo. Diam-diam Ji Soo menuliskannya dalam laptop yang selalu dibawanya.

“apa kau ingin mengatakan sesuatu tentang tempat itu..?” sejenak Hyun Kyo berfikir.
“ne.. ada..”
“apa?”
“tempat ini,,” mengambil nafas panjang “meski kakiku tak bisa menginjak bumi lagi, meski mataku tak bisa melihat keagungan itu lagi, tapi aku akan tetap disini, menunggumu untuk kembali datang padaku. Meski aku tak dapat pergi dan melihat peraduan sang mentari dengan bumi lagi, tapi aku yakin, tempat ini akan membawamu datang padaku dengan caranya sendiri.”

Ji Soo tercengang mendengar itu semua. Matanya tak sedikitpun beranjak dari lukisan pantai berhiaskan sunset yang ada di hadapannya. Tanpa sepengetahuan Hyn Kyo, Ji Soo menuliskan semua yang dia dengar dari Hyun kyo mengenai perjalanan hidupnya juga cintanya. Ji Soo menyimpan catatan itu dengan judul “A Life Less Ordinary” *judul terinspirasi dari buku karangan baby Holder dengan judul yang sama.

oOoOoOoOoOo

sudah hampir empat tahun Hyun Kyo hidup dengan kegelapan yang menyelimutinya. Sudah hampir empat tahun Pula Ji Soo bersamanya. Ji Soo benar-benar menjadi lilin yang memberi cahaya disekitar Hyun Kyo. 

“Kyo, kenapa kau tak mengadakan pameran?”
“pameran apa..?”
“tentu lukisan mu..”
“tidak.. lukisanku tak cukup bagus untuk dipamerkan.. aku tidak sehebat Leonardo Da Vinci yang memberikan adikarya seperti ‘jamuan Makan Malam’ atau ‘Monalisa’. Aku juga tak sehebat Pablo Picasso yang membuat karya lukis ‘Guernica’.. jadi aku belum pantas untuk mengadakan pameran. Kau juga tau sendiri kan seperti apa kondisiku..?”
“yaa.. jangan seperti itu.. paling tidak kau harus memublikasikan karyamu itu..”
“hh.. terserah kau saja lah.. aku tak bisa membantahmu..”
“yee.. begitu lebih baik..  oh iya, ada satu hal lagi..”
“apa?”
“aku membuat sebuah karya tulis.. “
“jinjja? Wah,, hebat sekali..”
“kau tau aku menulis apa..?”
“apa?”
“otobiografimu.. termasuk didalamnya kisah cinta kau dan kyuhyun mu itu..”
“ya.. jangan ..!!”
“kenapa? Itu cerita yang keren.. “
“bagaimana jika orang lain tau..?”
“tidak mungkin.. aku mengubah namamu dan nama Kyuhyun mu itu..”
“ah.. kau itu..”
“jadi? Boleh kah..?”
“terserah maumu..”
“kyaa… gumawo..^^” Ji Soo memeluk Hyun kyo dengan begitu erat.
“ya.. kau mau membuatku mati kehabisan nafas eohh..?/”
“hhee.. mina mian..”

oOoOoOo

@Germany

Seorang namja berambut cokelat yang memakai kaos dan celana putih dengan dilengkapi blazer maroon tengah duduk di sebuah bangku taman di tengah kota. Matanya tak henti berfokus pada sebuah buku tebal ditangannya seolah tak ingin terlewat satu katapun darinya.

“Kyu..!!” teriak seseorag yang dengan sukses membuat mata cokelat itu perpindah dari buku ditangannya.
“ada apa? Aiden Lee..”
“ada buku baru kiriman dari Seoul..”
“novel?”
“entah lah.. bisa disebut novel, bisa juga disebut biografi..”
“memang ada yang seperti itu..?”
“ada,, ini..” jawabnya sambil menunjukkan buku bersampul tebal berwarna cokelat dengan tinta emas yang menambah manis buku tersebut.
“’A Life Less Ordinary’.. apa menariknya buku ini..?” kembali mata cokelat itu berfokus pada buku tebal yang sedari tadi dibacanya
“sangat menarik Kyu.. disini diceritakan tentang seorang yang bernama Jung Hyun Hoon yang menjadi seorang pelukis yang tidak bisa melihat.”
“oya..?” Tanya nya acuh.
“ah.. kau ini.. aku mengarti.. kau tak suka membaca novel fiksi..”
“itu kau tau..”
“tapi sayangnya ini kisah nyata..”
“lalu..?”
“ahh.. ya sudah jika kau tak mau membacanya.”
“…”
“Kyu, kapan kau akan pulang ke Korea..?”
“molla.. aku belum memikirkannya..”
“kau tak merindukan gadismu itu?”
Kyu menutup buku tebalnya, menatap lurus kedepan dan memikirkan sesuatu.

“aku merindukannya, bahkan sangat merindukannya. Tapi dia sepertinya tak merindukanku.,”
“eh, aku baru ingat, di buku ini juga diceritakan bahwa Jung Hyun Hoon ditinggalkan oleh kekasihnya ke Jerman Lho..?”
“oya? Hh” Kyu hanya tersenyum simpul.
“aku serius.. cerita kau dan yeojachingumu itu hampir sama dengan cerita buku ini..”
“kau sendiri, kapan kau ke Korea..?”
“appa sama eommaku masih sibuk disini, tak mungkin kami pindah. Paling juga hanya sekedar leommaran saja..”
“bagaimana jika pergi bersama. Aku pulang, dan kau berleommar di tempatku..”
“aahh.. ide yang bagus. Aku ikut.. kapan?”
“lusa?”
“oke..”

Kyuhyun dan Aiden pergi bersama ke korea. Sejenak Kyuhyun berfikir apa dia harus senang dapat pulang atau bagaimana. Disatu sisi dia memang senang bisa pulang ke tanah airnya, namun disisi lain,. ada perasaan cemas menghantui hatinya. Siapa lagi jika bukan Hyun Kyo.
‘cerita dalam buku ini sama seperti cerita cinta kau dan yeojachingu mu kyu..’
Perkataan aiden itu terdengar dengan jelas ditelinga Kyuhyun. “apa iya cerita itu sama seperti ku?” gumamnya.

Tanpa sengaja dia melihat buku bersampul cokelat itu tergeletak sembarangan dI meja pesawat yang membawa mereka. diraihnya buku itu dan dibaca halaman per halaman. Saat membuka sapul tebalnya, bisa dilihat potret seorang gadis yang sedang menggenggam tongkat, termenung menatap langit sore dari jendela. Namun sayang, wajah orang itu tak dapat terlihat dengan jelas karena terbias oleh cahaya sore.

Pada halaman halaman awal menceritakan kehidupannya, sekolahnya, kesehariannya sampai menceritakan bagai mana pada akhirnya namja yang sangat dicintainya memiliki perasaan yang sama dengannya.

aku mencintaimu..’

Dialah Kim Jong Woon, namja yang selama ini selalu bertahan dengan sikap dinginnya padaku telah membuat jantungku berhenti seketika. Dia namja yang selama ini telah mencuri cinta pertamaku kini berlutut dihadapanku, tangan hangatnya  menggenggam lembut tanganku, menatapku dengan tatapan yang penuh arti.

Dialah Kim Jong Woon yang selalu membuat jantungku berhenti seketika jika berada didekatnya. Pria dingin yang dengan kebekuannya mampu meluluhkan hati seorang wanita biasa sepertiku.  Pria yang tampak angkuh namun memiliki hati bak malaikat yang berterbangan indah memberi kebahagiaan pada semua manusia dimataku.

Dialah Kim Jong Woon, namja yang kini berlutut dihadapanku, memintaku untuk menemaninya berjalan menapaki masa depan yang indah. Sungguh hati siapa yang tak tersentuh atas apa yang dilakukannya malam ini. Meski aku mencoba mencari titik kebohongan dan kepalsuan dari sorot mata indahnya, namun tak juga ku temukan itu.

Semakin jauh dan dalam aku menatap mata tajamnya, semakin hatiku tertarik kuat untuk masuk kedalamnya, semakin aku menatap lekat irisan mata cokelatnya, semakin hatiku terikat kuat padanya. semakin aku mengelak dari tatapan tanjam mata elangnya, semakin kelu lidahku ini untuk mengatakan..

“Nado..”

Kalimat itu terucap sempurna dari bibirku yang tak bisa berhenti bergetar seirama dengan debaran jantungku yang tak menentu.

Tubuhnya menghambur memeluk tubuhku yang sedari tadi lemas dan mati rasa. Dia memelukku seolah tak ingin melepaskanku darinya. Dia mendekap tubuhku begitu erat sampai aku tak bisa bergerak seinchi pun. Meski terasa sesak nafasku ini, namun aku tak ingin melepaskan dekapan hangat darinya.

“gumawo Hyunnie,, jeongmal gumawo..”

Dia menggenggam erat kedua tanganku, menatapku lembut dan senyumnya tak pernah lepas dari bibirnya. Aku yang diperlakukan demikian oleh namja yang begitu kucintai tak bisa mengucapkan sepatah kata pun. Aku hanya bisa menganggukkan kepalaku, sebagai tanda balasan atas apa yang diucapkannya.

“secepatnya akan ku ajak kau bertemu dengan kedua orang tuaku..”
“apakah itu tidak terlalu cepat, oppa..?” dia menggeleng kan kepalanya dengan lembut.
“tidak.” Jawabnya yakin.

Aku memang lemah terhadapnya. Aku tak bisa menolak apapun yang terucap dari bibir indahnya. Seperti terhipnotis, aku akan menuruti apapun yang dikatakannya. Meski sejujurnya, aku tidak begitu yakin apakah kedua orang tuanya akan menerimaku yang berasal dari keluarga yang sederhana ini..

Jong Woon oppa menarik lembut tanganku, seolah memaksaku untuk mengikuti kemanapun langkah kaki jenjangnya pergi.

“oppa,, sebenarnya kau mau mengajakku kemana..?”
“sudahlah chagi,, ikuti saja aku..”
“nde,, arasso..”

Lagi, ucapannya membuatku mati kutu, tak berdaya untuk menolaknya bahkan hanya untuk mengatakan “tidak”. Ucapannya yang berpadu harmonis dengan suara malaikatnya sungguh membuatku tersihir. Dihadapannya aku bagaikan jin lampu yang hanya mampu berkata “ nde oppa.. apa pun untukmu akan kulakukan..” pada tuannya.’

Kyuhyun tertegun membaca halaman demi halaman. Pikirannya telah sampai pada sosok Hyun Hoon  disana. “mengapa aku merasa Jung Hyun Hoon adalah Kyun Kyo..?” batinnya.. Kyuhyun sebenarnya enggan melanjutkan apa yang dibacanya sekarang, tapi rasa penasaran akan bagaimana selenjutnya cerita ini mengalahkan keraguannya.

‘aku dipertemukan dengan kedua orang tuanya. Jujur aku sangat senang dengan hal itu. tapi di sisi yang lain, aku pun merasa ragu apakah kedua orang tuanya akan menerimaku yang berasal dari kalangan biasa sepertiku? Pertanyaan itu selalu menghantui langkahku menyusuri inchi demi inchi rumah besar itu. kulihat Jong Woon oppa tak merasakan apa yang kurasa. Tentu.. dia berhadapan dengan orang tuanya sendiri, sedangkan aku? aku merasa sebagai orang asing disini. Aku merasa seperti orang yang paling aneh dimukabumi ini. Aku mencoba menepis bayangan itu, tapi tak bisa.

“apa kau yankin akan hidup bersamanya? Jong Woon..apa kau akan memilih gadis penghkayal itu dibanding aku? eommamu?”

Kalimat itu yang berhasil membungkamku malam itu.. kalimat itu yang berhasil meruntuhkan keyakinanku untuk dapat bersama dengan namja yang amat kucintai ini. Tapi tidak, aku tak ingin egois dan mememtingkan perasaan pribadiku sendiri. Siapa aku? aku hanya gadis biasa yang memang betul kata eomma jong woon oppa, aku hanya seorang gadis pengkhayal yang tak pantas bersanding dengan namja berpikiran realistis seperti jong woon. Eommanya lebih berhak atas dirinya. Bukan aku. kuputuskan untuk menyudahi ini semua. Meski perasaanku tersayat, tapi aku tak ingin menghancurkan mereka.’

PUKK..
Kyuhyun menutup buku itu dengan kasar. Dia sudah tau bagaimana selanjutnya. Kini dia merasa yakin yang dimaksud Hyun Hoon dalam buku itu adalah Hyun Kyo kekasihnya.
buku ini menceritakan seorang pelukis yang tak bisa melihat’
Kembali Kyuhyun harus memikirkan ini dengan baik. Memahami apa maksud perkataan Aiden ketika itu.
“tidak,, Hyun Kyo tak mungkin menjadi seorang pelukis yang tak bisa melihat. Itu pasti bukan dia.. cerita seperti ini sudah banyak terpublish.. novel adalah cerita fiksi. Aku yakin..” gumamnya pelan.
‘sayang sekali, ini kisah nyata..’ lagi-lagi perkataan Aiden itu merasuki pikirannya.
“aaarrrhhh..” Kyuhyun mengacak rambutnya frustasi.

oOoOoOo

Hyun Kyo kini berdiri di depan sebuah jendela besar di galeri miliknya yang kini penuh dengan banyak orang yang berminat dengan lukisannya, juga untuk bertemu langsung dengan Ji Soo yang telah menerbitkan sebuah buku yang ternyata menjadi bestseller.

“kyo, kau tak mau turun..?”
“tidak. Aku disini saja..?”
“ayolah..”
“kau saja.. aku sedang ingin sendirian sekarang..”
“hh.. baik lah.. jika kau membutuhkanku,, panggil aku ya..”
“ne.. arasso..”

Disisi yang lain Ji Soo sedang sibuk dengan kegiatannya. Bahkan tak jarang banyak yang bertanya mengenai lukisan yang terpampang dengan jelas. Dengan senang hati dia menceritakan setiap detail lukisan yang ada.
“annyeong.. permisi agasshi..”
“ne..?
“choneun Aiden lee imnida, dan ini teman saya..”
“Kyuhyun imnida..”
“ah.. aku Ji Soo.. mwo? Kau?” Ji Soo tampak terkejut.
“iya. Kebetulan aku bisa bertemu langsung dengan anda. aku sangat menyukai buku anda.”
“ah.. gamshahamnida aiden-ssi..”

Ji Soo terus meneliti setiap inci dari namja yang datang kepadanya. Namja itu begitu acuh. Dia hanya memperhatikan semua lukisan yang terpampang didinding. “apa ini namja bernama Kyuhyun yang dimaksud Hyun Kyo? Dia pria yang lumayan tampan, tapi memang benar dia namja yang sangat dingin, seperti yang dikatakan Hyun Kyo. Bagaimana bisa Kyo menyukai namja seperti ini?” pikirnya. Ji Soo terus menerus memperhatikan Kyuhyun sampai dia tak terlihat di ujung matanya karena membaur dengan pengunjung lain.

Kyuhyun tampak tekjub atas apa yang dilihatnya. Sampai matanya tertuju pada sebuah lukisan pantai dengan langit sore berwarna jingga. Seulas senyum tergambar dari paras tampannya. Dia menyentuh lukisan itu dan memejamkan mata seolah dia masuk kedalam lukisan itu. semilir angin segar tiba-tiba menerpa wajahnya. Ia membuka matanya perlahan dan membiasakan diri dengan cahaya yang menyulaukan. Dilihatnya Hyun Kyo sedang berdiri ditepi garis pantai menghadap lurus pada lautan lepas. Mata sayunya tempak terbiasa dengan sinar matahari senja yang begitu menyolok indera penglihat. Rambut panjang yang terbawa deburan angin pantai membuat dirinya tampak sempurna.

“Kyo..” Dipanggilnya gadis itu oleh Kyuhyun. Sang gadis menoleh padanya dengan senyum yang terlukis indah disana. Dihampirinya gadis pujaan hatinya itu dengan perasaan rindu yang tak terbendung. Namun jarak antara keduanya dirasa tak berkurang oleh Kyuhyun. Dia tak menyerah,, dia terus berjalan meski dia tau itu sia-sia. Sampai dia merasa lelah dan putus asa, dia melihat kebali Kyo yang masih berdiri memandanginya. Ketika kyo menampakkan senyum manisnya, pandangan Kyuhyun mulai memudar, seperti banyak kabut yang menghalangi pandangannya.

Dia tersadar dari buaiannya, perlahan dia membuka matanya dan menyadari kini dia berada di penghujung sebuah ruangan. Basah, itu yang dirasakan Kyuhyun pada kedua pipi tirusnya saat dia mencoba menyadarkan dirinya. Dia menatap sekeliling,
“sepi.. aku dimana? Seingatku aku tadi didepan sebuah lukisan dan…. Hh..apa yang terjadi..?” pikirnya bingung.

Kyuhyun menatap pintu terbuka yang ada disampingnya. Dia memasuki ruangan itu dan mendapati seorang wanita yang berdiri didekat jendela. Kyuhyun memicingkan matanya memastikan siapa wanita yang berdiri dihadapannya. Dia terbelalak mendapati siapa yang dihadapannya.
“Kyo..” lirihnya.

Hyun kyo yang berdiri ditempat yang sama dengan Kyuhyun tak mengerti dengan yang terjadi dihadapannya. Gelap, itu yang dilihatnya. Hanya detak jantungnya yang tak berhenti berdengup kencang. Entah perasaan apa yang menghinggapi Kyo saat ini. Dia membalikkan tubuh nya lemah, sehingga membuatnya seolah menghindari tatapan Kyuhyun yang terpaku dihadapannya.

“Kyo.. Kau kim Hyun Kyo?”

Kyo terkejut namanya dipanggil seseorang. Dia mencari asal sumber suara itu. dia meraba-raba apa yang ada didepannya, meski tak ada satu pun yang dia temukan.

“ya..?? kau siapa?? Apa kau yang memanggilku..?”

Kyo berjalan perlahan, yang tanpa diketahui dia berjalan lurus kearah Kyuhyun sampai kakinya membentur sesuatu hingga membuatnya hampir jatuh terjerambab. Beruntung Kyu yang berada tepat di depan meja tersebut dapat menjangkau tubuh Kyo yang hampir tersungkur.

Dapat dirasakan oleh Hyun Kyo tangan Kyu yang bergetar dan terasa dingin di indera perabanya. Kyo bergegas bembenarkan posisi berdirinya dia menggapai tubuh yang kini menopangnya berdiri. Dia meraba tangan Kyuhyun sampai tangan kecil Kyo berhasil menangkup kedua belah pipi Kyuhyun. Dia meraba semua lekuk wajah namja yang ada dihadapannya sekarang. Pipinya, matanya, hidungnya, bibirnya, dahi sampai rambutnya tak ada satupun yang terlewatkan.

Kyuhyun segera menyadari kondisi Hyun Kyo saat ini. Hatinya bagai tercabik mendapati kekasihnya kini tak bisa melihatnya lagi. dia merindukan gadis yang ada dihadapannya, dia merindukan sentuhan lembutnya, dia merindukan senyuman manisnya, dia juga merindukan tatapan hangat dari gadisnya. Namun kini apa yang didapatinya jauh bertolak belakang dengan harapannya. Dia hanya mengepalkan tangan menahan emosi yang bergemuruh dihatinya.

“Kyo.. kau.. k..”
Ji Soo langsung terdiam melihat Kyo yang sedang bersama dengan Kyuhyun. Dilihatnya Kyuhyun sedang terdiam tak percaya melihat kekasihnya seperti itu.

“Ji Soo, kau kah itu..?”
“nde Kyo.. ini aku..” jawabnya lemah.
“apa kau melihat tongkat ku? aku tak bisa menemukannya..”
“apa..?? ahh.. iya.. ini..”  Ji Soo memberikan sebuah tongkat, alat bantu penunjuk jalan untuk Kyo yang bersandar di kanvas disamping Kyo.
“ah.. gumawo Ji Soo.. dan,, tuan? Apa kau yang memanggilku tadi..?”
“….” Namja itu hanya diam tertunduk. Kristal bening itu kini lolos menganak sungai dipipi tirusnya.
“Kyo.. dia.. Kyuhyun..”
“m..mwo..??”

**

*

*To be Continued...

gimana..?? apa masih gaje? pasti.. ini kali pertama author menulis FF dengan jangka waktu yang panjaaaaanngg.. hhhahaha...
yang kena tag jail author..tentu author mengharapkan  RCL dari para readers sekalian.. plis.. koreksi FF yang masih aneh ini.. ne ne ne..
gamsha..
mian kalo ada bahasa yang kurang dimengerti atau salah.. hhhee
*bow with Kyu