TITTLE : Forgive Me (chapt. 1)
AUTHOR : Novarida Mardliatin
FACEBOOK ID
: Fhaa Wanay Min
TWITTER
ID : @NovaRidaa
GENRE
: Romance, Bit Hurt
LENGTH
: Two Shoot
RATING
: GENERAL
MAIN
CAST :
·
Author
a.k.a Kim Hyun Kyo
·
Super
Junior's Kyuhyun a.k.a Cho Kyuhyun
·
Fauzzia
Diny a.k.a Park Ji Soo
·
And
other cast (temukan sendiri..^^)
DESCLAIMER
: ini story milik saya. Alur tentu terserah saya,, kekeke... masih banyak
typo dimana-mana. Jadi jangan kaget.. oh iya,, jika ada kemiripan dengan cerita
yang pernah reader baca sebelumnya, itu murni kebetulan. FF ini murni hasil
yang keluar dari otaknya author langsung. DILARANG KERAS UNTUK MENG-COPY PASTE
FF INI TANPA IZIN DARI AUTHOR..*caps jebol
Happy reading all……
*
*
*
To:
Hyun Kyo..
Chagi,, kau kemana saja..? aku mencoba
menghubungimu, tapi kau tak pernah membalas satupun pesan maupun telephone
dariku. Tak tahukah kau? Betapa rindunya dan tersiksanya aku selama kau
menghindari ku..?? entah apa yang terjadi denganmu chagi, sampai kau tiba-tiba
bersikap seperti ini padaku. Apa aku melakukan kesalahan yang membuat kau
terluka?? Jika memang Ya, kumohon,, maafkan aku chagi.. aku mohon..
Chagi,, ada yang harus aku katakana
padamu.. ini mengenai eommaku..
Eomma mengirimku ke Jerman untuk
melanjutkan Studyku. Maaf aku tak mengatakan ini terlebih dahulu.. aku ingin
mengatakannya padamu, tapi tak satupun panggilan dariku kau jawab. aku tak mau
berpisah denganmu chagi.. tapi aku juga tak ingin mengecewakan kedua orang
tuaku. ini keputusan yang sulit. Jika
saat itu kau bersamaku, pasti kau bisa memberikan solusi yang tepat untukku..
Chagi,, malam ini aku akan berangkat
ke Jerman,, jika kau ingin aku tinggal disini,, kumohon,, datanglah ke Bandara
Incheon, maka aku tak akan pergi ke jerman. Aku benar-benar tak ingin pergi,
aku ingin bersamamu disini..
Chagi,, kutunggu kedatanganmu malam
ini..
_Kyuhyun_
Hyun
Kyo hanya terpaku menatap lembaran kertas putih itu dengan air mata yang
menggenang di pelupuk matanya. Ia tak tau harus berbuat apa sekarang. Dia tak
ingin menghancurkan masa depan kekasihnya, namun disisi lain ia juga tak ingin
berpisah dari namja yang sangat dicitainya.
“bagimana
ini.. apa yang harus aku lakukan..??” lirihnya.
--
Penunjuk
waktu yang terpampang di pergelangan tangan seorang namja berambut coklat itu
telah menunjukkan pukul 07:30. Kyuhyun kini diambang keputus asaan. Apakah Hyun
Kyo akan datang, atau tidak.
“penumpang
pesawat penerbangan 13215 dengan tujuan Jerman di harap untuk segera menaiki
pesawat, karena pesawat akan segera take off”
Kecewa,
itulah yang dirasakan Kyuhyun. Harapan terakhirnya untuk bisa bersama dengan
Kekasihnya pupus sudah. Kini ia harus meninggalkan semua harapannya disini.
Seoul dan Jerman telah memisahkan mereka. lautan dan samudera telah menenggelamkan
semua cerita dan cita-cita mereka. Kyuhyun harus merelakan semuanya disini.
Ia
berjalan gontai menuju ruang keberangkatan dengan perasaan yang hancur
berkeping-keping. Ia mencoba untuk bisa bertahan, meski tentu akan sulit
baginya jika tanpa Hyun Kyo disisinya.
“Kyo,
kenapa kau tak datang,, kau tau? Betapa aku mengharapkan kau datang dan
mencegahku pergi dari sini. Apakah aku melakukan kesalahan besar? Sampai kau
tak ingin bertemu denganku lagi..? jika memamg ini membuatmu lega, aku tidak
apa-apa Kyo,, semoga kau bisa hidup lebih baik disini.. suatu saat nanti aku
akan datang kembali dan memastikan kau baik-baik saja. Sampai jumpa Kyo, semoga
ini bukan akhir semuanya,,”
Kyu
berjalan lurus kedepan. Sesekali dia menoleh ke belakang berharap Kyo berdiri
di sana. Namun sayang, berkali-kali dia menoleh, berkali itu pula ia tak mendapatkan
yang dicarinya. Namun hanya kekecewaan lah yang didapatinya.
Disisi
lain, seorang yeoja mencoba berlari sekuat yang dia mampu untuk menghentikan
semuanya. Dia berlari dan terus berlari, meski harus bertatih tatih.. Kyo
bukanlah seorang pelari yang baik.. meski dia berfokus pada apa yang ingin dicapainya,,
dia tak mengubah apapun.. dia hanya berharap, semoga usahanya tak sia-sia, dan
semoga ini semua belum terlambat.
Sia-sia..
ketika di ambang harapan untuk bersama, dia harus merelakan kekasihnya pergi..
elang besi yang membawa Kyuhyun kini terbang memecah langit malam di puncak
kepala Hyun Kyo. Dia hanya menatap sendu lampu gemerlap sang penerbang tanpa
bisa meraih tangan kekasihnya, tanpa bisa menatap sosok badan yang dia tau
pasti akan sangat dirindukannya..
“oppa,,
kenapa kau meninggalkanku sendiri..? kenapa kau tak menungguku..?”
Hyun
Kyo tak bisa berbuat apapun sekarang. Ia hanya bisa menyesali semuanya. Dia
terduduk lemas, dia menangis dan terus menangis. Tak peduli semua mata kini
tertuju padanya. tak peduli dengan anggapan orang terhadapnya. Dia hanya ingin
menangis, sampai semua yang mengganjal di hati dapat keluar dengan sendirinya.
Sayang,
semua tak sesuai dengan yang diharapkan. Bukan merasa lebih baik, tapi justru
ini lebih membuat dirinya semakin menyedihkan. Dia berjalan lemah tanpa tujuan,
tanpa keinginan, dan tanpa arah.
“menyedihkan..
hhaa.. Tuhan.. apa tak ada hal yang lebih menyedihkan dari ini..” umpatnya.
TTTIIIIIIIIIIIIIIIDDDDDDDDDDDDD…….
BRAKKK…
Sebuah
Klakson panjang membungkam rutukannya dan menghempaskan tubuhnya ke bahu
jalanan.
Sebuah
mobil putih kini ternoda merah segar di Cap depannya dengan kaca depan yang
sudah tak berwujud. Seorang wanita didalamnya tertunduk dan bersandar pada
kemudi yang masih memberikan suara lengkingan yang panjang.
Semua
orang kini mengrumuni keduanya. Mencoba memastikan keduanya baik-baik saja.
Namun sepertinya tidak begitu. Yeoja yang terkulai di tepian jalan yang
ternyata dia adalah Hyun Kyo, penuh dengan luka di hampir seluruh bagian
wajahnya. Pecahan kaca kini menancap sepurna di semua bagian wajahnya dan
membuat darah segar keluar dengan lancarnya. Seorang Yeoja yang tertunduk
didepan kemudi tampak tak separah Hyun Kyo. Dia hanya terluka di pepisnya dan
membuat noda merah segar mengotori wajahnya.
Seorang
pria paruh baya mencoba menekan tombol di benda yang digenggamnya, sampai tak
lama dua buah mobil putih bertuliskan “AMBULANCE” membawa kedua gadis itu.
oOoOoOoOo
seorang
yeoja berambut panjang dengan perban didahinya duduk termenung disamping yeoja
yang tengah berbaring lemah dengan perban yang melingkar menutupi kedua
matanya. Sudah seminggu dia terus berada dalam posisi seperti ini dengan
tatapan bersalahnya.
“Ji
Soo,, sebaiknya kau istirahat dulu,, nanti kesini lagi..” ajak seorang wanita
paruh baya bengan lembut.
“shireo
eomma,, aku ingin tetap disini. memastikan semua baik-baik saja..”
“tapikau
juga harus istirahat..”
“ani..
ini salahku,, aku harus bertanggung jawab eomma..”
“yasudah..”
Yeoja
yang diketahui bernama Park Ji Soo itu menatap kosong pada yeoja yang ada dihadapannya.
Dalam hatinya dia merasa bersalah atas kecelakaan yang menimpa mereka.
*flash
back
dia terus menekan-nekan tombol pada
layar benda kecil berwarna putih dalam genggamannya. Sampai dia lupa dia sedang
mengemudi di jalanan kota seoul yang ramai.
PLUKK
Benda kecil itu terjatuh dari
genggamannya.
“aishh.. kenapa harus jatuh..”
Ji Soo mencari-cari benda
kesayangannya itu di bawah kursi kemudi. Tanpa dia sadari dia telah menerobos
lampu merah.
“hh.. akhirnya ketemu..”
Sampai Ji Soo mencoba kembali berfokus
pada kemudi, dia menyadari ada seseorang didepannya..
KYAAAAAAA……..
*end
Flashback
Jika
mengingat itu, perasaannya bagai tersayat. “bagaimana bisa aku seceroboh itu.?”
batinnya. Sampai apa yang dikatakan dokter tentang kondisi yeoja itu
‘nona Hyun Kyo mendapatkan benturan keras
akibat kecelakaan itu. posisi kepala yang membentur keras kaca mobil sampai itu
(kaca) pecah. Dan pecahannya menancap di sebagian wajahnuya. Dan yang paling
parah adalah kaca itu berhasil masuk pada matanya dan melukai kornea matanya..’
‘lalu apa yang akan terjadi dokter?’
‘kemungkinan besar, dia akan mengalami
kebutaan permanen, dan bisa sembuh hanya dengan donor mata yang cocok bagi nona
Hyun Kyo..’
Kristal
bening kini lolos keluar dari pelupuk mata indah milik Ji Soo. Dia kini lebih
merasa bersalah atas kecerobohannya. Pada awalnya dia berniat membagi matanya
untuk Kyun Kyo sebagai bukti tanggung jawabnya. Namun orang tua Hyun kyo tak
mengijinkannya.
“sudah cukup anakku yang menderita karena
kehilangan matanya, kami tak ingin ada gadis lain yang mengalami hal yang sama
seperti itu..” ucap wanita yang tak lain eomma dari Hyun Kyo sambil memeluk
lembut Ji Soo yang sedang menangis.
“Kyo,
maafkan aku telah merusak hidupmu dengan kecerobohanku. Aku berjanji akan
melakukan apapun untuk menebus kesalahanku. Meski kau nanti tak bisa melihat
lagi,, biarkan aku yang menggantikan matamu. Meski kau hidup dalam gelap, biar
aku yang menjadi lilin kecil yang menerangi sekitarmu. Aku berjanji akan
menjadi temanu mulai sekarang, dan akan menjagamu dari kekecewaan yang lain.”
lirihnya dengan penuh isakan pilu dari bibir tipisnya.
Seharian
ini Ji Soo terus menjaga Hyun Kyo yang masih terbaring. Sampai tak terasa kini
dia mulai terlelap di samping Hyun Kyo yang perlahan mulai menggerakkan
jari-jarinya tanpa sepengetahuan Ji Soo.
oOoOoOoOo
Hyun
Kyo kini terduduk bersandar di tempat tidurnya. Tatapannya kosong, matanya
memerah, bengkak dan sembab. Gadis disampingnya yang masih membenamkan kepala
pada lipatan tangannya kini mulai tersadar dari mimpinya. Dan dia terkejut
dengan banyaknya orang yang ada diruangan itu.
“eomma,,
kenapa ada disini..”
Eommanya
tak menjawab apa yang ditanyakan putrinya. Eommanya hanya tersenyum getir. Ji
Soo mengerti, dan kemudian langsung berbalik ke arah Hyun Kyo.
“Hyun
Kyo.. aku..” dia tak mampu melanjutkan kata-katanya.
“dia
sudah tau semuanya sayang..”
“Hyun
kyo,, aku Minta maaf,, sungguh.. aku tak bermaksud menghancurkan semuanya..”
Namun
yang diajak bicara tidak sudi membuka mulutnya barang secenti pun. Dia hanya
mematung, tak bergerak, tak bicara, tak melakukan apapun. Dia hanya menatap
kosong kedepan tanpa ada yang dipikirkannya. Ini begitu sulit untuknya,
‘tuhan
benar-benar membuatku hancur, terpojok dalam kegelapan.” Batinnya.
Sesekali
air mata merembes keluar dari mata beriris cokelat itu, tanpa ekspresi,
Setiap
hari Hyun Kyo hanya diam tak bersuara. Dia hanya menghabiskan waktunya di dalam
kamar hanya dengan Kuas dan kanvas di depannya yang masih putih bersih.
Ditatapnya kanvas itu meski sebenarnya dia sama sekali tak bisa melihat wujud
kanvas itu sendiri. Sesuai janjinya, Ji Soo dengan setia menemani Hyun Kyo. Dia
selalu mengajak Hyun Kyo bicara meski tak pernah ditanggapi sedikitpun.
Hari
ini Ji Soo kembali mengunjungi Hyun Kyo di rumahnya. Sesekali dia mendengar
suara seperti kanvas yang terjatuh, meja yang terguling, atau suara seperti
pecahan kaca. Dan seperti suara frustasi dari si pemilik kamar. Ji Soo yang mendengar
itu semakin merasa dirinya buruk.
“Kyo..”
kyo tak menjawab. Dia hanya mencoba bangkit dari posisinya yang terduduk di
lantai akibat terjatuh tadi. Ji Soo mencoba membantunya namun tangannya di
tepis oleh Hyun Kyo. Ji Soo hanya diam, dia mengerti situasi yang dialami Hyun
Kyo saat ini. Dia mengedarkan pandangannya pada semua penjuru ruangan. “kacau”
pikirnya. Namun mata Ji Soo terfokus pada beberapa lukisan yang ada di pojok
kamar Hyun Kyo, kemudian mendekatinya. Dia menatap setiap lukisan yang ada
dikamar itu yang dia yakini adalah lukisan hasil tangan Hyun Kyo.
Matanya
berpindah dari lukisan pantai ke lukisan yang lain. “menakjubkan..” batinnya.
Namun matanya tertarik untuk melihat lukisan yang tergeletak di lantai tempat
Kyo terjatuh tadi. Dua buah lukisan yang entah gambar apa. Keduanya berbentuk
abstrak namun memiliki perasaan. Yang satu penuh dengan warna gelap, biru,
hitam, dan itu menunjukkan kekecewaan dirinya. Dan yang satu nya lagi penuh
dengan warna terang dan gelap. Merah, cokelat, hitam, seperti warna rasa marah.
Dan ketika Ji Soo menyentuh gambar lukisan yang masih basah itu, hatinya
seperti merasakan rasa marah si pencipta lukisan ini. “apa dia marah padaku..?”
batinnya.
“aku
memang tak berguna..”
Lamunan
Ji Soo dikejutkan oleh suara Hyun Kyo yang baru pertama kali didengarnya.
“suara yang indah, namun sayang selama ini dia bungkam” lagi-lagi batinnya
bicara.
“maksudmu..?”
Tanya Ji Soo yang langsung membantu Hyun Kyo yang masih mencoba berdiri.
“aku
memang tak berguna.. lihat aku sekarang, aku tak bisa berbuat apa-apa. Aku
cacat, aku tak bisa melihat, bahkan untuk berdiri dan duduk pun aku harus
dibantu. Menyedihkan..”
“jangan
berkata seperti itu..”
“memang
benar kan..?”
“aku
tau.. aku minta maaf, aku yang salah,, aku yang menyebabkan kau menjadi seperti
ini,, aku yang salah.. aku minta maaf.. sungguh aku minta maaf….” Katanya
dengan nada suara yang bergetar.
“k.kau..
kenapa seperti itu.. aku tak menyalahkan mu.. aku tak bermaksud
menyalahkanmu..” Hyun Kyo meraba-raba mencari sosok Ji Soo yang memang berada
disampingnya. Dia meraba wajah Ji Soo merasa bersalah atas ucapannya tadi.
“tapi
aku memang bersalah.. aku ceroboh.. sampai,,”
“ya..!
sudahlah.. aku tidak apa-apa.. aku hanya kesal tadi..”
“kesal..?
padaku ya??”
“aa..
bukan..” Kyo mengibas-ngibaskan tangannya ke sembarang arah
“lalu.??’
“sudahlah..
tak perlu di bahas..”
Ji
Soo menatap wajah Hyun Kyo disampingnya. Dia melihat Hyun Kyo tidak seburuk
dulu. Hari ini terlihat segaris senyum ada di wajah Hyun Kyo. Meski itu masih
samar terlihat. Sejenak dia melihat lukisan yang tergeletak sembarangan di
lantai. “apa itu yang jadi pelampiasan Hyun Kyo..?”
Perlahan
Hyun Kyo mulai melunak. Dia tak lagi selalu diam jika di ajak bicara. Perlahan
dia sudah bisa menerima kenyataan bahwa dia tidak bisa melihat lagi. meski
dalam hatinya dia masih sakit atas kejadian ini,, dia tak ingin membuat Ji Soo,
yang kini menjadi sahabatnya lebih merasa bersalah. Dan ternyata diam-diam,
Hyun Kyo mendengar janji Ji Soo ketika mereka dirumah sakit dulu.
oOoOoOoOo
“kyo..”
“eumm..?”
“kau
suka melukis ya..?”
“kok
tau?”
“aku
melihat lukisan mu,, dan semuanya menakjubkan..”
“hm..
jinjja..padahal itu lukisan yang sudah lama sekali?”
“nde..
aku suka semuanya..”
“gomapta
chagii.. kau orang pertama yang menyukai lukisanku..”
“hheeuuhh..
harusnya aku mendapat tanda tangan mu..”
“hhaha..
kau ada-ada saja..”
Tanpa
sepenglihatan Kyo, Ji Soo tersenyum haru melihat sahabatnya itu kini bisa
tertawa lepas kembali..
“ya..
Kyo.. lukisan pantai itu.. kau tak memberinya judul..?”
“ee?
Apa harus?”
“harus..
kau beri judul apa? Biar kutuliskan di lukisanmu itu..”
“eumm..
apa ya..?? SILUET mungkin..”
“nama
yang cocok.. hheuu.. apa sejarah dibalik itu?”
“itu
tempat favoritku bersama namjachingu ku dulu.”
“jinjja..?
ceritakan padaku seperti apa hubungan kalian” Ji Soo mulai tertarik dengan
cerita itu.
Dengan
penuh perasaan, Hyun Kyo menceritakan semua yang terjadi dari awal bertemu
dengan Kyuhyun sampai dia bertemu dengan Ji Soo. Lebih tepatnya mengenal Ji Soo.
Diam-diam Ji Soo menuliskannya dalam laptop yang selalu dibawanya.
“apa
kau ingin mengatakan sesuatu tentang tempat itu..?” sejenak Hyun Kyo berfikir.
“ne..
ada..”
“apa?”
“tempat
ini,,” mengambil nafas panjang “meski kakiku tak bisa menginjak bumi lagi,
meski mataku tak bisa melihat keagungan itu lagi, tapi aku akan tetap disini,
menunggumu untuk kembali datang padaku. Meski aku tak dapat pergi dan melihat
peraduan sang mentari dengan bumi lagi, tapi aku yakin, tempat ini akan membawamu
datang padaku dengan caranya sendiri.”
Ji
Soo tercengang mendengar itu semua. Matanya tak sedikitpun beranjak dari
lukisan pantai berhiaskan sunset yang ada di hadapannya. Tanpa sepengetahuan
Hyn Kyo, Ji Soo menuliskan semua yang dia dengar dari Hyun kyo mengenai
perjalanan hidupnya juga cintanya. Ji Soo menyimpan catatan itu dengan judul “A
Life Less Ordinary” *judul terinspirasi dari buku karangan baby Holder dengan
judul yang sama.
oOoOoOoOoOo
sudah
hampir empat tahun Hyun Kyo hidup dengan kegelapan yang menyelimutinya. Sudah
hampir empat tahun Pula Ji Soo bersamanya. Ji Soo benar-benar menjadi lilin
yang memberi cahaya disekitar Hyun Kyo.
“Kyo,
kenapa kau tak mengadakan pameran?”
“pameran
apa..?”
“tentu
lukisan mu..”
“tidak..
lukisanku tak cukup bagus untuk dipamerkan.. aku tidak sehebat Leonardo Da
Vinci yang memberikan adikarya seperti ‘jamuan Makan Malam’ atau ‘Monalisa’.
Aku juga tak sehebat Pablo Picasso yang membuat karya lukis ‘Guernica’.. jadi aku belum pantas untuk
mengadakan pameran. Kau juga tau sendiri kan seperti apa kondisiku..?”
“yaa.. jangan seperti itu.. paling
tidak kau harus memublikasikan karyamu itu..”
“hh.. terserah kau saja lah.. aku tak
bisa membantahmu..”
“yee.. begitu lebih baik.. oh iya, ada satu hal lagi..”
“apa?”
“aku membuat sebuah karya tulis.. “
“jinjja? Wah,, hebat sekali..”
“kau tau aku menulis apa..?”
“apa?”
“otobiografimu.. termasuk didalamnya
kisah cinta kau dan kyuhyun mu itu..”
“ya.. jangan ..!!”
“kenapa? Itu cerita yang keren.. “
“bagaimana jika orang lain tau..?”
“tidak mungkin.. aku mengubah namamu
dan nama Kyuhyun mu itu..”
“ah.. kau itu..”
“jadi? Boleh kah..?”
“terserah maumu..”
“kyaa… gumawo..^^” Ji Soo memeluk Hyun
kyo dengan begitu erat.
“ya.. kau mau membuatku mati kehabisan
nafas eohh..?/”
“hhee.. mina mian..”
oOoOoOo
@Germany
Seorang namja berambut cokelat yang
memakai kaos dan celana putih dengan dilengkapi blazer maroon tengah duduk di
sebuah bangku taman di tengah kota. Matanya tak henti berfokus pada sebuah buku
tebal ditangannya seolah tak ingin terlewat satu katapun darinya.
“Kyu..!!” teriak seseorag yang dengan
sukses membuat mata cokelat itu perpindah dari buku ditangannya.
“ada apa? Aiden Lee..”
“ada buku baru kiriman dari Seoul..”
“novel?”
“entah lah.. bisa disebut novel, bisa
juga disebut biografi..”
“memang ada yang seperti itu..?”
“ada,, ini..” jawabnya sambil
menunjukkan buku bersampul tebal berwarna cokelat dengan tinta emas yang
menambah manis buku tersebut.
“’A Life Less Ordinary’.. apa
menariknya buku ini..?” kembali mata cokelat itu berfokus pada buku tebal yang
sedari tadi dibacanya
“sangat menarik Kyu.. disini
diceritakan tentang seorang yang bernama Jung Hyun Hoon yang menjadi seorang
pelukis yang tidak bisa melihat.”
“oya..?” Tanya nya acuh.
“ah.. kau ini.. aku mengarti.. kau tak
suka membaca novel fiksi..”
“itu kau tau..”
“tapi sayangnya ini kisah nyata..”
“lalu..?”
“ahh.. ya sudah jika kau tak mau
membacanya.”
“…”
“Kyu, kapan kau akan pulang ke
Korea..?”
“molla.. aku belum memikirkannya..”
“kau tak merindukan gadismu itu?”
Kyu menutup buku tebalnya, menatap
lurus kedepan dan memikirkan sesuatu.
“aku merindukannya, bahkan sangat
merindukannya. Tapi dia sepertinya tak merindukanku.,”
“eh, aku baru ingat, di buku ini juga
diceritakan bahwa Jung Hyun Hoon ditinggalkan oleh kekasihnya ke Jerman Lho..?”
“oya? Hh” Kyu hanya tersenyum simpul.
“aku serius.. cerita kau dan
yeojachingumu itu hampir sama dengan cerita buku ini..”
“kau sendiri, kapan kau ke Korea..?”
“appa sama eommaku masih sibuk disini,
tak mungkin kami pindah. Paling juga hanya sekedar leommaran saja..”
“bagaimana jika pergi bersama. Aku
pulang, dan kau berleommar di tempatku..”
“aahh.. ide yang bagus. Aku ikut..
kapan?”
“lusa?”
“oke..”
Kyuhyun dan Aiden pergi bersama ke
korea. Sejenak Kyuhyun berfikir apa dia harus senang dapat pulang atau
bagaimana. Disatu sisi dia memang senang bisa pulang ke tanah airnya, namun
disisi lain,. ada perasaan cemas menghantui hatinya. Siapa lagi jika bukan Hyun
Kyo.
‘cerita
dalam buku ini sama seperti cerita cinta kau dan yeojachingu mu kyu..’
Perkataan aiden itu terdengar dengan
jelas ditelinga Kyuhyun. “apa iya cerita itu sama seperti ku?” gumamnya.
Tanpa sengaja dia melihat buku
bersampul cokelat itu tergeletak sembarangan dI meja pesawat yang membawa
mereka. diraihnya buku itu dan dibaca halaman per halaman. Saat membuka sapul
tebalnya, bisa dilihat potret seorang gadis yang sedang menggenggam tongkat,
termenung menatap langit sore dari jendela. Namun sayang, wajah orang itu tak
dapat terlihat dengan jelas karena terbias oleh cahaya sore.
Pada halaman halaman awal menceritakan
kehidupannya, sekolahnya, kesehariannya sampai menceritakan bagai mana pada
akhirnya namja yang sangat dicintainya memiliki perasaan yang sama dengannya.
‘aku mencintaimu..’
Dialah
Kim Jong Woon, namja yang selama ini selalu bertahan dengan sikap dinginnya
padaku telah membuat jantungku berhenti seketika. Dia namja yang selama ini
telah mencuri cinta pertamaku kini berlutut dihadapanku, tangan hangatnya menggenggam lembut tanganku, menatapku dengan
tatapan yang penuh arti.
Dialah
Kim Jong Woon yang selalu membuat jantungku berhenti seketika jika berada
didekatnya. Pria dingin yang dengan kebekuannya mampu meluluhkan hati seorang
wanita biasa sepertiku. Pria yang tampak
angkuh namun memiliki hati bak malaikat yang berterbangan indah memberi
kebahagiaan pada semua manusia dimataku.
Dialah
Kim Jong Woon, namja yang kini berlutut dihadapanku, memintaku untuk
menemaninya berjalan menapaki masa depan yang indah. Sungguh hati siapa yang
tak tersentuh atas apa yang dilakukannya malam ini. Meski aku mencoba mencari
titik kebohongan dan kepalsuan dari sorot mata indahnya, namun tak juga ku
temukan itu.
Semakin
jauh dan dalam aku menatap mata tajamnya, semakin hatiku tertarik kuat untuk
masuk kedalamnya, semakin aku menatap lekat irisan mata cokelatnya, semakin
hatiku terikat kuat padanya. semakin aku mengelak dari tatapan tanjam mata
elangnya, semakin kelu lidahku ini untuk mengatakan..
“Nado..”
Kalimat
itu terucap sempurna dari bibirku yang tak bisa berhenti bergetar seirama
dengan debaran jantungku yang tak menentu.
Tubuhnya
menghambur memeluk tubuhku yang sedari tadi lemas dan mati rasa. Dia memelukku
seolah tak ingin melepaskanku darinya. Dia mendekap tubuhku begitu erat sampai
aku tak bisa bergerak seinchi pun. Meski terasa sesak nafasku ini, namun aku
tak ingin melepaskan dekapan hangat darinya.
“gumawo
Hyunnie,, jeongmal gumawo..”
Dia
menggenggam erat kedua tanganku, menatapku lembut dan senyumnya tak pernah
lepas dari bibirnya. Aku yang diperlakukan demikian oleh namja yang begitu
kucintai tak bisa mengucapkan sepatah kata pun. Aku hanya bisa menganggukkan
kepalaku, sebagai tanda balasan atas apa yang diucapkannya.
“secepatnya
akan ku ajak kau bertemu dengan kedua orang tuaku..”
“apakah
itu tidak terlalu cepat, oppa..?” dia menggeleng kan kepalanya dengan lembut.
“tidak.”
Jawabnya yakin.
Aku
memang lemah terhadapnya. Aku tak bisa menolak apapun yang terucap dari bibir
indahnya. Seperti terhipnotis, aku akan menuruti apapun yang dikatakannya.
Meski sejujurnya, aku tidak begitu yakin apakah kedua orang tuanya akan
menerimaku yang berasal dari keluarga yang sederhana ini..
Jong
Woon oppa menarik lembut tanganku, seolah memaksaku untuk mengikuti kemanapun
langkah kaki jenjangnya pergi.
“oppa,,
sebenarnya kau mau mengajakku kemana..?”
“sudahlah
chagi,, ikuti saja aku..”
“nde,,
arasso..”
Lagi,
ucapannya membuatku mati kutu, tak berdaya untuk menolaknya bahkan hanya untuk
mengatakan “tidak”. Ucapannya yang berpadu harmonis dengan suara malaikatnya
sungguh membuatku tersihir. Dihadapannya aku bagaikan jin lampu yang hanya
mampu berkata “ nde oppa.. apa pun untukmu akan kulakukan..” pada tuannya.’
Kyuhyun
tertegun membaca halaman demi halaman. Pikirannya telah sampai pada sosok Hyun
Hoon disana. “mengapa aku merasa Jung
Hyun Hoon adalah Kyun Kyo..?” batinnya.. Kyuhyun sebenarnya enggan melanjutkan
apa yang dibacanya sekarang, tapi rasa penasaran akan bagaimana selenjutnya
cerita ini mengalahkan keraguannya.
‘aku
dipertemukan dengan kedua orang tuanya. Jujur aku sangat senang dengan hal itu.
tapi di sisi yang lain, aku pun merasa ragu apakah kedua orang tuanya akan
menerimaku yang berasal dari kalangan biasa sepertiku? Pertanyaan itu selalu
menghantui langkahku menyusuri inchi demi inchi rumah besar itu. kulihat Jong
Woon oppa tak merasakan apa yang kurasa. Tentu.. dia berhadapan dengan orang
tuanya sendiri, sedangkan aku? aku merasa sebagai orang asing disini. Aku
merasa seperti orang yang paling aneh dimukabumi ini. Aku mencoba menepis
bayangan itu, tapi tak bisa.
“apa
kau yankin akan hidup bersamanya? Jong Woon..apa kau akan memilih gadis
penghkayal itu dibanding aku? eommamu?”
Kalimat
itu yang berhasil membungkamku malam itu.. kalimat itu yang berhasil
meruntuhkan keyakinanku untuk dapat bersama dengan namja yang amat kucintai
ini. Tapi tidak, aku tak ingin egois dan mememtingkan perasaan pribadiku
sendiri. Siapa aku? aku hanya gadis biasa yang memang betul kata eomma jong
woon oppa, aku hanya seorang gadis pengkhayal yang tak pantas bersanding dengan
namja berpikiran realistis seperti jong woon. Eommanya lebih berhak atas
dirinya. Bukan aku. kuputuskan untuk menyudahi ini semua. Meski perasaanku
tersayat, tapi aku tak ingin menghancurkan mereka.’
PUKK..
Kyuhyun
menutup buku itu dengan kasar. Dia sudah tau bagaimana selanjutnya. Kini dia
merasa yakin yang dimaksud Hyun Hoon dalam buku itu adalah Hyun Kyo kekasihnya.
‘buku ini menceritakan seorang pelukis yang
tak bisa melihat’
Kembali
Kyuhyun harus memikirkan ini dengan baik. Memahami apa maksud perkataan Aiden
ketika itu.
“tidak,,
Hyun Kyo tak mungkin menjadi seorang pelukis yang tak bisa melihat. Itu pasti
bukan dia.. cerita seperti ini sudah banyak terpublish.. novel adalah cerita
fiksi. Aku yakin..” gumamnya pelan.
‘sayang sekali, ini kisah nyata..’ lagi-lagi
perkataan Aiden itu merasuki pikirannya.
“aaarrrhhh..”
Kyuhyun mengacak rambutnya frustasi.
oOoOoOo
Hyun
Kyo kini berdiri di depan sebuah jendela besar di galeri miliknya yang kini
penuh dengan banyak orang yang berminat dengan lukisannya, juga untuk bertemu
langsung dengan Ji Soo yang telah menerbitkan sebuah buku yang ternyata menjadi
bestseller.
“kyo,
kau tak mau turun..?”
“tidak.
Aku disini saja..?”
“ayolah..”
“kau
saja.. aku sedang ingin sendirian sekarang..”
“hh..
baik lah.. jika kau membutuhkanku,, panggil aku ya..”
“ne..
arasso..”
Disisi
yang lain Ji Soo sedang sibuk dengan kegiatannya. Bahkan tak jarang banyak yang
bertanya mengenai lukisan yang terpampang dengan jelas. Dengan senang hati dia
menceritakan setiap detail lukisan yang ada.
“annyeong..
permisi agasshi..”
“ne..?
“choneun
Aiden lee imnida, dan ini teman saya..”
“Kyuhyun
imnida..”
“ah..
aku Ji Soo.. mwo? Kau?” Ji Soo tampak terkejut.
“iya.
Kebetulan aku bisa bertemu langsung dengan anda. aku sangat menyukai buku
anda.”
“ah..
gamshahamnida aiden-ssi..”
Ji
Soo terus meneliti setiap inci dari namja yang datang kepadanya. Namja itu
begitu acuh. Dia hanya memperhatikan semua lukisan yang terpampang didinding.
“apa ini namja bernama Kyuhyun yang dimaksud Hyun Kyo? Dia pria yang lumayan
tampan, tapi memang benar dia namja yang sangat dingin, seperti yang dikatakan
Hyun Kyo. Bagaimana bisa Kyo menyukai namja seperti ini?” pikirnya. Ji Soo
terus menerus memperhatikan Kyuhyun sampai dia tak terlihat di ujung matanya
karena membaur dengan pengunjung lain.
Kyuhyun
tampak tekjub atas apa yang dilihatnya. Sampai matanya tertuju pada sebuah
lukisan pantai dengan langit sore berwarna jingga. Seulas senyum tergambar dari
paras tampannya. Dia menyentuh lukisan itu dan memejamkan mata seolah dia masuk
kedalam lukisan itu. semilir angin segar tiba-tiba menerpa wajahnya. Ia membuka
matanya perlahan dan membiasakan diri dengan cahaya yang menyulaukan.
Dilihatnya Hyun Kyo sedang berdiri ditepi garis pantai menghadap lurus pada
lautan lepas. Mata sayunya tempak terbiasa dengan sinar matahari senja yang
begitu menyolok indera penglihat. Rambut panjang yang terbawa deburan angin
pantai membuat dirinya tampak sempurna.
“Kyo..”
Dipanggilnya gadis itu oleh Kyuhyun. Sang gadis menoleh padanya dengan senyum
yang terlukis indah disana. Dihampirinya gadis pujaan hatinya itu dengan
perasaan rindu yang tak terbendung. Namun jarak antara keduanya dirasa tak
berkurang oleh Kyuhyun. Dia tak menyerah,, dia terus berjalan meski dia tau itu
sia-sia. Sampai dia merasa lelah dan putus asa, dia melihat kebali Kyo yang
masih berdiri memandanginya. Ketika kyo menampakkan senyum manisnya, pandangan
Kyuhyun mulai memudar, seperti banyak kabut yang menghalangi pandangannya.
Dia
tersadar dari buaiannya, perlahan dia membuka matanya dan menyadari kini dia
berada di penghujung sebuah ruangan. Basah, itu yang dirasakan Kyuhyun pada
kedua pipi tirusnya saat dia mencoba menyadarkan dirinya. Dia menatap
sekeliling,
“sepi..
aku dimana? Seingatku aku tadi didepan sebuah lukisan dan…. Hh..apa yang
terjadi..?” pikirnya bingung.
Kyuhyun
menatap pintu terbuka yang ada disampingnya. Dia memasuki ruangan itu dan
mendapati seorang wanita yang berdiri didekat jendela. Kyuhyun memicingkan
matanya memastikan siapa wanita yang berdiri dihadapannya. Dia terbelalak
mendapati siapa yang dihadapannya.
“Kyo..”
lirihnya.
Hyun
kyo yang berdiri ditempat yang sama dengan Kyuhyun tak mengerti dengan yang
terjadi dihadapannya. Gelap, itu yang dilihatnya. Hanya detak jantungnya yang
tak berhenti berdengup kencang. Entah perasaan apa yang menghinggapi Kyo saat
ini. Dia membalikkan tubuh nya lemah, sehingga membuatnya seolah menghindari
tatapan Kyuhyun yang terpaku dihadapannya.
“Kyo..
Kau kim Hyun Kyo?”
Kyo
terkejut namanya dipanggil seseorang. Dia mencari asal sumber suara itu. dia
meraba-raba apa yang ada didepannya, meski tak ada satu pun yang dia temukan.
“ya..??
kau siapa?? Apa kau yang memanggilku..?”
Kyo
berjalan perlahan, yang tanpa diketahui dia berjalan lurus kearah Kyuhyun
sampai kakinya membentur sesuatu hingga membuatnya hampir jatuh terjerambab.
Beruntung Kyu yang berada tepat di depan meja tersebut dapat menjangkau tubuh
Kyo yang hampir tersungkur.
Dapat
dirasakan oleh Hyun Kyo tangan Kyu yang bergetar dan terasa dingin di indera
perabanya. Kyo bergegas bembenarkan posisi berdirinya dia menggapai tubuh yang
kini menopangnya berdiri. Dia meraba tangan Kyuhyun sampai tangan kecil Kyo
berhasil menangkup kedua belah pipi Kyuhyun. Dia meraba semua lekuk wajah namja
yang ada dihadapannya sekarang. Pipinya, matanya, hidungnya, bibirnya, dahi
sampai rambutnya tak ada satupun yang terlewatkan.
Kyuhyun
segera menyadari kondisi Hyun Kyo saat ini. Hatinya bagai tercabik mendapati
kekasihnya kini tak bisa melihatnya lagi. dia merindukan gadis yang ada
dihadapannya, dia merindukan sentuhan lembutnya, dia merindukan senyuman
manisnya, dia juga merindukan tatapan hangat dari gadisnya. Namun kini apa yang
didapatinya jauh bertolak belakang dengan harapannya. Dia hanya mengepalkan
tangan menahan emosi yang bergemuruh dihatinya.
“Kyo..
kau.. k..”
Ji
Soo langsung terdiam melihat Kyo yang sedang bersama dengan Kyuhyun. Dilihatnya
Kyuhyun sedang terdiam tak percaya melihat kekasihnya seperti itu.
“Ji
Soo, kau kah itu..?”
“nde
Kyo.. ini aku..” jawabnya lemah.
“apa
kau melihat tongkat ku? aku tak bisa menemukannya..”
“apa..??
ahh.. iya.. ini..” Ji Soo memberikan
sebuah tongkat, alat bantu penunjuk jalan untuk Kyo yang bersandar di kanvas
disamping Kyo.
“ah..
gumawo Ji Soo.. dan,, tuan? Apa kau yang memanggilku tadi..?”
“….”
Namja itu hanya diam tertunduk. Kristal bening itu kini lolos menganak sungai
dipipi tirusnya.
“Kyo..
dia.. Kyuhyun..”
“m..mwo..??”
**
*
*To be
Continued...
gimana..??
apa masih gaje? pasti.. ini kali pertama author menulis FF dengan jangka waktu
yang panjaaaaanngg.. hhhahaha...
yang kena tag
jail author..tentu author mengharapkan RCL dari para readers sekalian..
plis.. koreksi FF yang masih aneh ini.. ne ne ne..
gamsha..
mian kalo ada
bahasa yang kurang dimengerti atau salah.. hhhee
*bow with Kyu